Files
waraqah-bin-naufal/penutup.md
T

16 lines
3.4 KiB
Markdown
Raw Permalink Blame History

This file contains ambiguous Unicode characters
This file contains Unicode characters that might be confused with other characters. If you think that this is intentional, you can safely ignore this warning. Use the Escape button to reveal them.
**PENUTUP**
Wahai saudaraku.
Demikianlah kita telah sampai ke ujung perjalanan. Dari malah yang gelap di lembah Mekah, kita berjalan menyusuri jejak-jejak seorang tua yang membawa api *hanif* di dadanya. Kita melihatnya menundukkan kepala di hadapan kitab-kitab yang tidak dikenal kaumnya. Kita mendengarnya berkata dengan getar, “*Inilah Namus yang diturunkan kepada Musa.*” Kita menyaksikan air matanya di ujung usia, lalu kita berdebat di majelis-majelis hati: apakah ia mukmin yang pertama? Namun akhirnya, semua perdebatan itu redup sebagaimana redupnya pelita di rumahnya yang sunyi. Yang tinggal hanyalah satu nama yang tercatat dalam lauh: Waraqah bin Naufal, pembaca kitab yang mengenal langit sebelum langit berbicara kepada dunia.
Biarlah kisah ini bukan sekadar kisah yang engkau baca sambil mengipasi tubuh, lalu engkau lupakan begitu daun pembesar berikutnya dibuka. Jangan. Biarlah ia menjadi pena yang menulis sesuatu di dalam hatimu. Jadilah seperti Waraqah: jujur dalam mencari, tabah dalam menanti, teguh dalam mengakui, dan ikhlas dalam pergi. Sebab dunia ini penuh dengan orang yang pandai berkata-kata, tetapi kosong dari orang yang pandai membaca tanda-tanda Tuhan. Dunia ini ramai dengan orang yang mengejar pangkat, tetapi sepi dari orang yang mengejar kebenaran hingga ke sudut-sudut gelap. Dan ketika engkau merasa sepi, ketika engkau merasa aneh di tengah keramaian yang salah, ketika lidahmu kelu untuk mengatakan kebenaran, maka ingatlah bahwa di suatu masa dahulu ada seorang tua buta yang sendirian berani berkata kepada nabi yang baru turun dari gunung, “Aku akan berdiri di belakangmu meski kaumku mengusirmu.” Jika ia sanggup, mengapa engkau tidak?
Allahumma, ya Allah Yang Maha Mendengar bisikan hati. Engkau mengetahui bahwa hamba ini bukan Buya Hamka, melainkan hanya pena yang berusaha meniru jejak langkahnya. Engkau mengetahui bahwa buku ini penuh dengan kekurangan, dengan kata-kata yang canggung, dengan gambaran yang mungkin tidak tepat. Tetapi aku mohon, terimalah niatnya. Anugerahilah Waraqah bin Naufal dengan rahmat-Mu yang melimpah. Tempatkanlah dia bersama para nabi yang pernah ia baca di malam-malam sepi. Dan jika ada pembaca yang tergerak hatinya oleh kisah ini, jadikanlah gerakan itu benih iman yang tumbuh hingga hari ia bertemu dengan Engkau. Ya Allah, jadikanlah kami umat yang bukan hanya membaca sejarah, tetapi umat yang menulis sejarah kebajikan dengan tangan sendiri. Jadikanlah kami orang-orang yang mengenal *Namus*-Mu bukan hanya dari cerita, tetapi dari cahaya yang masih turun ke dalam dada kami di setiap sujud. Amin, ya Rabbal Alamin.
Wahai saudaraku, bukankah sejarah itu ibarat cermin? Di dalamnya engkau melihat wajah-wajah yang telah pergi, supaya engkau bisa memperbaiki wajahmu sendiri sebelum engkau pergi. Marilah kita bertemu lagi, entah di kitab yang lain, entah di sudut kehidupan yang sama-sama kita jalani, atau—mudah-mudahan—di hari yang tiada bayang-bayangnya, di samping telaga para nabi, di mana kita bisa bertanya langsung kepada Waraqah, “Apa yang engkau rasakan ketika pertama kali melihat wajah Nabi?” Dan ia akan tersenyum, sebagaimana tersenyumnya di pembaringannya dulu, lalu berkata, “Rasakanlah sendiri. Sebab cahaya itu tidak bisa diceritakan dengan lidah. Ia hanya bisa dirasakan dengan hati yang telah menanti.”
Sekian dari hamba. Maa as-salamah.
**Penulis**
*Di bawah naungan langit yang masih sama, dari Adam hingga hari ini*