Files
waraqah-bin-naufal/kata-pengantar.md
T

3.8 KiB
Raw Blame History

KATA PENGANTAR

Wahai saudaraku pembaca yang budiman.

Coba bayangkan, di suatu malam yang sunyi di lembah Mekah, ketika batu-batu berhala masih disembah dan darah anak perempuan masih ditumpahkan ke dalam lubang tanah, ada seorang tua yang duduk bersimpuh di atas tikar usangnya. Api pelita menyala redup. Di tangannya, lembaran-lembaran kitab — bukan tulisan kaumnya yang buta huruf, melainkan tulisan dalam bahasa asing yang telah dilunakkan oleh lidah dan hatinya selama bertahun-tahun. Matanya pernah melihat jauh ke Yathrib, ke Syam, ke negeri-negeri yang basah oleh hujan kitab. Namun hatimnya tidak pernah puas. Ia mencari Tuhan Yang Satu, sebagaimana ditinggalkan oleh Ibrahim dan Ismail. Ia adalah Waraqah bin Naufal. Dan kisahnya, sejak lahirnya di pangkuan suku Quraysh, hingga matanya tertutup tak lama setelah ia menyaksikan fajar terakhir zaman kegelapan, adalah kisah yang patut kita simpan di sudut hati yang paling terang.

Kadang-kadang, wahai saudaraku, kita membaca sejarah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam seakan-akan cahaya itu datang tiba-tiba di tengah lautan yang gelap. Padahal tidak. Allah, Yang Maha Adil dan Maha Penyayang, tidak pernah membiarkan bumi ini tanpa petunjuk. Sebelum Jibril turun ke Gua Hira, sudah ada tangan-tangan yang membersihkan jalan, sudah ada hati-hati yang menanti. Di antara penanti itu, Waraqah adalah yang paling menonjol. Ia bukan nabi, tidak pula rasul. Ia hanya seorang hanif, seorang Muslim sebelum Islam datang dengan nama itu. Tetapi jiwanya begitu bersih, sehingga ketika Khadijah — isteri yang setia, yang juga keponakannya — membawa laki-laki gemetar itu ke hadapannya, ia langsung mengenal suara langit. “Inilah Namus yang diturunkan Allah kepada Musa,” katanya. Kalimat itu, wahai saudaraku, adalah tali penghubung antara langit yang lama dengan langit yang baru. Dan kisah bagaimana kalimat itu bisa keluar dari mulut seorang tua yang sudah rapuh, adalah inti dari buku yang kamu pegang ini.

Insya Allah, dalam perjalanan bersama kita nanti — sebanyak dua belas bab dan satu penutup — aku akan mengajakmu melangkah ke belakang tirai waktu. Kita akan mencium bau debu jalan-jalan Jahiliah yang penuh keangkaramurkaan, lalu berjumpa dengan kaum hanif yang terpencil, orang-orang yang menolak berhala sebelum berhala itu dihancurkan. Kita akan berdiri di depan rumah Waraqah, mendengar dia membaca Taurat dan Injil dalam hewannya yang tidak sempurna, mencari nama “Ahmad” di antara baris-baris yang usang. Kita akan menaiki Jabal Nur, masuk ke Gua Hira, dan merasakan dinginnya malam yang mengubah sejarah manusia. Kita akan mendengar suara gemetar Khadijah saat menghibur suaminya yang baru turun dari gunung. Dan kita akan duduk di sisi pembaringan Waraqah, menyaksikan air mata terakhirnya, bertanya-tanya: apakah ia orang mukmin yang pertama? Ataukah tempat itu sudah dipersiapkan untuk Abu Bakar, atau untuk Khadijah sendiri?

Semua itu, bukan untuk perdebatan yang mengeras hati, melainkan untuk mengambil pelajaran. Karena sejarah yang tidak memberi hikmah, bagai mayat yang tidak dikuburkan — baunya mengganggu, tapi manfaatnya tiada. Aku menulis ini bukan sebagai pakar yang mengguratkan catatan kaki, melainkan sebagai saudaramu sesama Muslim yang kadang-kadang juga buta di malamnya sendiri. Semoga dengan membaca perjalanan Waraqah, cermin itu terbuka sedikit, dan kita sadar bahwa kebenaran itu dicari dengan darah dan air mata, bukan dengan pamrih dan suara megafon.

Semoga Allah merahmati Buya Hamka, yang mengajarkan kita bahwa agama ini harus ditulis dengan jiwa yang hidup. Dan semoga Dia juga merahmati Waraqah bin Naufal, yang matanya terpejam di Mekah, tapi namanya abadi di setiap riwayat yang menyebut tentang cahaya pertama.

Marilah kita memulai perjalanan.

Penulis
Di suatu sudut yang masih terkena sinar matahari