27 lines
9.1 KiB
Markdown
27 lines
9.1 KiB
Markdown
**BAB 7: Khadijah yang Setia — Menghibur Suami yang Gemetar**
|
||
|
||
Wahai saudaraku.
|
||
|
||
Pernahkah engkau melihat seorang laki-laki yang baru saja disentuh oleh tangan langit? Bukan sentuhan yang lembut seperti embun pagi, melainkan sentuhan yang dahsyat seperti petir yang menyambar puncak pohon. Tubuhnya utuh, tidak ada luka di kulit, tidak ada darah yang mengalir. Tetapi jiwanya berguncang seakan-akan baru saja menanggung beban gunung. Matanya terbuka lebar, tetapi yang dilihatnya bukan lagi dinding batu rumah atau wajah isteri yang dikenalnya. Ia masih berada di antara dua dunia: dunia yang biasa ia injak dengan telapak kaki, dan dunia yang baru saja menyeruak ke dalam dadanya dari gua di atas awan. Demikianlah Muhammad bin Abdullah *shallallahu ‘alaihi wa sallam* ketika ia tiba di rumahnya pada malam yang kelam itu. Dan demikianlah Khadijah binti Khuwaylid menemukannya: bukan sebagai suami yang pulang dari perdagangan unta, melainkan sebagai manusia yang baru saja dipilih oleh langit untuk menanggung rahasia besar.
|
||
|
||
Masuklah ia ke dalam rumah. Khadijah yang menunggu — mungkin sedang menyusun bantal, mungkin sedang meniup api dapur yang hampir padam — mendengar langkah yang bukan langkah biasa. Pintu terbuka, dan yang masuk adalah sosok yang tidak ia kenal: bukan wajahnya, tentu, wajah itu tetap Muhammad, tetapi cahaya di matanya bukan lagi cahaya manusia biasa. Tubuhnya menggigil. Bibirnya bergetar. Suaranya keluar dengan susah payah, seperti orang yang berlari berhari-hari di padang pasir tanpa air, padahal jarak dari Gua Hira ke rumahnya tidak lebih dari beberapa batu. Ia berkata dengan napas yang tersengal-sengal, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam kitab *Shahih al-Bukhari*, dengan lafazh yang sampai kepada kita melalui rantai para perawi yang suci: *“Zammiluni, zammiluni”* — Selimutkan aku, selimutkan aku. Maka Khadijah bergegas. Ia mengambil selimut yang ada, atau mungkin kain tebal yang biasa dipakai pada malam dingin, dan menyelimuti suaminya. Ia duduk di sisinya, bukan dengan tanya yang menusuk, bukan dengan curiga yang menusuk hati, melainkan dengan suara seorang ibu yang melihat anaknya jatuh dari pohon. “Wahai Abu al-Qasim, apa yang menimpamu?”
|
||
|
||
Muhammad menceritakan. Mungkin tidak semua, sebab lidahnya masih kelu. Mungkin hanya secuil: aku melihat malaikat, aku disuruh membaca, aku merasa sesak. Tetapi Khadijah mendengarkan dengan mata yang tidak berkedip. Ia tidak menyela. Ia tidak berkata, “Ah, itu hanya mimpi karena lapar.” Tidak. Hatinya yang telah hidup bersama lelaki ini selama lima belas tahun tahu bahwa suaminya tidak pernah berbohong tentang hal sekecil apa pun, apalagi tentang sesuatu yang sebesar ini. Muhammad itu *al-Amin*, orang yang dipercaya. Muhammad itu *ash-Shadiq*, orang yang benar dalam setiap ucap. Kalau ia berkata ia melihat malaikat, maka sesungguhnya ia melihat malaikat. Dan kalau ia gemetar, maka gemetar itu bukan ketakutan pada setan, melainkan getaran yang datang setelah melihat sesuatu yang terlalu besar untuk dada manusia.
|
||
|
||
Lalu Khadijah berkata. Wahai saudaraku, catatlah kalimat ini di dalam hatimu, sebab ini adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut seorang wanita yang menjadi Muslimah pertama di muka bumi, yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam *Shahih al-Bukhari*: *“Khabbiki wala ‘adhi, wa wallahi la yukhzikallahu abadan. Fa innaka latashillu al-ma‘rudh, wa tat‘udu al-hadits, wa taqdi al-baidha, wa takshifu al-dayn, wa ta‘udu al-haidz, wa ta‘inu ala nawa’ib al-haqq.”* — Bashirkanlah dan janganlah engkau bersedih. Demi Allah, Allah tidak akan mempermalukanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau membalas kebaikan, engkau menepati janji, engkau menanggung beban kesusahan, engkau memaafkan orang yang berbuat kesalahan padamu, engkau memuliakan tamu, dan engkau menolong orang yang ditimpa musibah.
|
||
|
||
Wahai saudaraku, dengarkanlah kebijaksanaan di balik ucapan itu. Khadijah tidak berkata, “Aku percaya karena aku mencintaimu.” Tidak. Ia menyebutkan bukti-bukti akhlak. Ia berkata, “Allah tidak akan mempermalukanmu, sebab engkau orang yang baik.” Ini adalah argumentasi yang paling tinggi. Ia tidak membela suaminya dengan emosi istri yang buta. Ia membelanya dengan saksi hidup yang telah ia lihat selama satu setengah dekade. Muhammad tidak pernah mengecewakan orang yang berbuat baik kepadanya. Muhammad tidak pernah mengingkari janji, bahkan janji kepada anak kecil yang menunggu mainan. Muhammad tidak pernah membiarkan orang kesusahan tanpa menolong, tidak pernah membiarkan tamu pergi tanpa makanan, tidak pernah menyakiti siapa pun. Maka bagaimana mungkin Allah Yang Maha Adil mempermainkan orang yang paling adil di bumi? Tidak. Yang Muhammad lihat di gua tadi pasti dari Allah. Pasti.
|
||
|
||
Di sinilah kita lihat, wahai saudaraku, bedanya antara cinta yang dangkal dengan cinta yang mengenal Tuhan. Cinta yang dangkal berkata, “Aku percaya padamu karena aku buta oleh keindahanmu.” Cinta Khadijah berkata, “Aku percaya padamu karena aku melihat Allah di dalam akhlakmu.” Allah berfirman: *“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.”* (Surah Ar-Rum: 21). Kasih dan sayang itu bukan hanya untuk bantal empuk di malam dingin. Kasih itu adalah cermin yang menunjukkan wajah sebenar. Khadijah adalah cermin pertama yang memantulkan cahaya Muhammad kembali kepadanya. Ketika ia melihat suaminya gemetar, ia tidak melihat orang gila. Ia melihat nabi yang belum ia kenal namanya, tetapi sudah ia kenal hatinya.
|
||
|
||
Tetapi Khadijah, wahai saudaraku, bukan wanita yang hanya bergantung pada perasaannya. Ia adalah putri Khuwaylid, saudara Hala, ipar Waraqah. Ia tahu bahwa di dalam keluarganya ada seorang lelaki tua yang telah membaca Taurat dan Injil, yang menanti-nanti kabar ini sejak pulang dari Syam. Kalau ada orang di Mekah yang bisa membedakan antara cahaya langit dengan kilauan setan, maka orang itu ialah Waraqah bin Naufal. Maka setelah napas Muhammad sedikit tenang, setelah selimut dibuka dan keringat di dahi dilap, Khadijah berkata dengan lembut tetapi tegas, sebagaimana seorang istri yang membawa suaminya bukan kepada dukun atau tukang ramal, melainkan kepada ilmu: “Marilah kita pergi kepada Waraqah. Ia bisa membaca apa yang kau alami. Ia bisa menjelaskan.”
|
||
|
||
Muhammad setuju. Mungkin ia juga merasa, hatinya yang baru saja dipenuhi oleh wahyu masih membutuhkan tangan manusia untuk berpijak. Maka berjalanlah mereka berdua di malam yang sunyi. Khadijah memegang tangan suaminya — bukan karena ia takut kehilangan, melainkan karena ia ingin memberi kekuatan. Mereka melewati lorong-lorong batu yang gelap, sementara langit di atas mereka mulai berubah warna dari hitam pekat menjadi biru tua di ufuk timur. Anjing-anjing liar yang biasanya menggonggong pada orang lewat, mungkin pada malam itu diam saja. Seakan-akan mereka juga merasakan bahwa sesuatu yang besar sedang berlalu. Langkah Khadijah tidak ragu-ragu. Ia adalah wanita yang biasa mengurus kafilah dagang sendirian, yang pernah berjalan dari Mekah ke Syam tanpa suami. Malam ini, ia bukan pedagang unta. Ia adalah penuntun hati. Ia membawa pembawa wahyu kepada orang yang bisa membaca tanda-tanda.
|
||
|
||
Tiba-tiba, di depan rumah sederhana milik Waraqah, mereka berhenti. Khadijah mengetuk pintu, atau mungkin tidak perlu mengetuk, sebab cahaya pelita dari dalam sudah menyilaukan celah-celah kayu. Waraqah masih terjaga. Ia sedang membaca kitabnya, seperti biasa, menanti fajar yang tidak tahu kapan datangnya. Ketika pintu terbuka, mata tua itu melihat Khadijah dan Muhammad. Ia melihat wajah pucat cucu iparnya. Ia melihat mata Muhammad yang masih membawa beban langit. Dan di dalam hati Waraqah yang rabun, ada sesuatu yang berdegup kencang. Seperti seorang yang telah membaca peta sekian lama, dan tiba-tiba melihat tanah yang dinantinya muncul di depan mata.
|
||
|
||
Wahai saudaraku, ambillah dari Khadijah ini beberapa biji hikmah yang tidak boleh kau lewatkan. Pertama: percayalah pada orang yang akhlaknya dikenal oleh langit. Jangan kau percaya pada orang hanya karena lidahnya manis, tetapi lihatlah apakah ia menepati janji, apakah ia menolong yang susah, apakah ia memaafkan yang bersalah. Kedua: ketika orang yang kau cintai ditimpa sesuatu yang besar, jangan kau hibur dengan dusta. Hiburlah dengan kebenaran. Khadijah berkata, “Allah tidak akan mempermalukanmu,” bukan “ah, nanti juga baik sendiri.” Ia berkata demikian karena ia tahu siapa Muhammad di hadapan Allah. Ketiga: hati yang bersih harus dibarengi dengan tindakan yang bijak. Khadijah tidak berkata, “Kita tunggu saja.” Tidak. Ia membawa Muhammad kepada ilmu. Ia mengerti bahwa wahyu dari langit butuh tafsir dari kitab yang pernah turun sebelumnya. Dan keempat: kasih sayang sejati bukan hanya menangis bersama, tetapi berjalan bersama menuju kebenaran.
|
||
|
||
Khadijah telah menenangkan suaminya. Sekarang, biarlah kita masuk ke rumah Waraqah. Biarlah kita duduk di tikar usangnya, di dekat pelita yang bergetar, dan dengarkan apa yang akan keluar dari mulut lelaki tua yang telah menanti-nanti malam ini seumur hidupnya.
|
||
|
||
Wallahu a‘lam. |