Files
waraqah-bin-naufal/chapters/bab_03.md
T

21 lines
8.1 KiB
Markdown
Raw Blame History

This file contains ambiguous Unicode characters
This file contains Unicode characters that might be confused with other characters. If you think that this is intentional, you can safely ignore this warning. Use the Escape button to reveal them.
**BAB 3: Waraqah bin Naufal — Manusia Kitab di Tengah Bangsa yang Buta Huruf**
Wahai saudaraku.
Kalaulah engkau berjalan di malam sunyi Mekah, ketika debu jalan sudah tidak lagi berdentum oleh tapak kaki pedagang, dan hanya tinggal suara anjing-anjing liar yang berebut tulang di ujung lorong, maka di salah satu sudut kota yang berdampingan dengan rumah-rumah tua klan Quraysh, ada seberkas cahaya pelita yang tidak pernah padam sebelum tengah malam. Cahaya itu berasal dari sebuah rumah sederhana, milik lelaki tua yang uban sudah menjalar di pelipisnya, punggung sudah membungkuk sedikit karena usia, tetapi mata—mata itu masih tajam seperti mata elang yang menatap mangsa di kejauhan. Itulah Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abd al-Uzza bin Qusayl. Atau kalau kau ingin menyingkatnya, Waraqah bin Naufal, dari klan Banu Asad, satu ranting besar pohon Quraysh yang akarnya menembus ke tanah Mekah sejak jaman Fihr dan Qusayy.
Bayangkanlah, wahai saudaraku, keanehan lelaki ini di tengah kaumnya. Di sekelilingnya, orang-orang Quraysh bangga dengan kemampuan mereka berpidato, bersyair, berdagang ke negeri Syam dan Yaman, tetapi tanya huruf “alif” dan “ba” kepada mereka, maka kebanyakan akan menggelengkan kepala. Bangsa Arab pada umumnya adalah bangsa yang mulia lidahnya, tetapi buta terhadap tulisan. Ilmu mereka tersimpan di dada, bukan di lembar. Tetapi Waraqah berbeda. Di tangannya, ada lembaran-lembaran yang usang berwarna kekuningan, bertuliskan huruf-huruf aneh yang tidak dikenal oleh sanak saudaranya. Itulah huruf Ibrani, bahasa orang-orang yang menyimpan kitab sejak zaman Musa dan Daud. Dan Waraqah, seorang Quraysh yang seharusnya hanya tahu tentang unta dan pedagangan, telah membiarkan jarinya berlumuran tinta sambil menulis bahasa Arabnya dengan huruf asing itu. Orang-orang menatapnya heran. “Waraqah sudah tua, tetapi perilakunya seperti budak perdagangan Yahudi,” kata mereka di pasar. Ada yang berbisik lebih jauh: “Dia telah menjadi Nasrani.” Tetapi mereka salah, atau setidaknya tidak sepenuhnya benar. Waraqah bukan pengikut gereja yang tunduk kepada para uskup, juga bukan pengikut sinagoge yang menunggu dinding ratapan. Dia adalah *hanif*, seorang pencari Tuhan Ibrahim yang lurus, hanya saja dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh Zayd bin Amr atau para pencari lainnya: dia punya kunci, dan kunci itu adalah kemampuan membaca kitab.
Allah Taala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: *“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu sebuah kitab (Al-Quran) yang di dalamnya ada sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tidak mempergunakan akalmu?”* (Surah Al-Anbiya: 10). Wahai saudaraku, ayat ini turun nanti, tetapi rohnya sudah beredar di udara sejak dahulu. Waraqah menggunakan akalnya, bukan untuk mengira-ngira, tetapi untuk membaca. Dia telah mempelajari Taurat, kitab yang diturunkan kepada Musa alaihis-salam, dan Injil, kabar gembira yang dibawa oleh Isa alaihis-salam. Dia membacanya bukan untuk jadi pendeta, melainkan untuk mencari nama. Nama siapa? Nama seorang nabi penutup yang disebut-sebut dalam baris-baris kitab itu. Di dalam Taurat dan Injil—sebagaimana yang dikabarkan oleh riwayat-riwayat lama yang kita jumpai dalam tulisan para sejarawan—ada berita tentang seorang rasul akhir zaman yang akan datang dari bangsa yang tidak punya kitab, yang disebut *ummi*, yang lahir di tanah Arab, di tanah yang batu-batunya pernah disentuh oleh kaki Ibrahim dan Ismail. Setiap malam, ketika cahaya pelita bergetar di atas meja kayu, Waraqah merasa jantungnya berdegup kencang. “Mudah-mudahan aku masih hidup untuk menemuinya,” bisiknya pada isterinya, atau mungkin hanya pada dirinya sendiri.
Isterinya itu bukan orang sembarangan. Dia adalah Hala binti Khuwaylid, adik kandung dari seorang wanita Quraysh yang namanya kelak akan menyinari sejarah dunia: Khadijah binti Khuwaylid. Wahai saudaraku, dari sinilah kita lihat betapa eratnya jaringan kasih sayang yang Allah jalin di Mekah. Waraqah, karena menikahi Hala, menjadi ipar Khadijah. Dan karena Hala serta Khadijah adalah putri Khuwaylid bin Asad, sedangkan Waraqah adalah putra Naufal bin Asad, maka Waraqah dan Khadijah juga sepupu. Mereka berasal dari pepohonan yang sama, akar yang sama, klan Banu Asad. Di dalam dunia Quraysh yang penuh dengan persaingan dagang dan saling menyombongkan jumlah unta, terdapat keluarga ini—keluarga yang hatinya lebih lembut, yang Khadijah-nya terkenal dengan sebutan *ath-Thahirah* yang suci, dan yang Hala-nya menikahi lelaki yang tidak pernah lepas dari kitab. Waraqah, dengan demikian, bukan hanya sepupu Khadijah, tetapi juga iparnya. Tetapi dia lebih dari sanak. Dia adalah tempat Khadijah bertanya ketika ada soal yang mengganggu hatinya. Dialah lelaki tua yang dihormati, yang kata-katanya tidak keluar dari mulut yang kosong, melainkan dari mulut yang telah banyak membaca.
Di tengah bangsa yang buta huruf, Waraqah adalah manusia kitab. Ungkapan ini perlu kau garis bawahi, wahai saudaraku. Ketika orang-orang Mekah tidak bisa membedakan antara nubuat dan dongeng, Waraqah bisa merangkai ayat-ayat Taurat dan mencocokkannya dengan kabar angin yang berembus dari Yathrib. Ketika mereka hanya mengenal Hubal sebagai “tuan rumah,” Waraqah mengenal Allah Yang Maha Esa dengan nama-nama-Nya yang terhampar di lembaran kuno. Ada sebuah kebijaksanaan yang ingin kusampaikan kepadamu di sini: ilmu itu bukan hanya tentang mengumpulkan fakta, tetapi tentang menyatukan hati dengan fakta itu. Waraqah tidak sekadar menghafal. Hafalan tanpa keinsyafan adalah beban, bukan sayap. Tetapi Waraqah memiliki keinsyafan, sebab setiap kali dia membaca, dia merasa ada yang berbisik di telinganya, “Tunggu, ya Waraqah, tunggu. Yang kau cari akan datang, dan dia akan membawa kitab yang tidak akan usang, tidak akan berubah oleh tangan-tangan manusia.”
Kadang-kadang, di siang panas ketika dia duduk di serambi rumahnya yang sederhana, anak-anak Quraysh berlari sambil mengejek, “Hai Waraqah, baca untuk kami dongeng Yahudi!” Dia hanya tersenyum getir. Dia tahu bahwa mereka tidak bisa melihat apa yang dia lihat. Seperti firman Allah nanti: *“Mereka itu seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang berat.”* (Surah Al-Jumuah: 5). Quraysh itu keledai-keledai yang membawa beban nasab dan harta, tetapi tidak mengerti isinya. Waraqah, sendirian, membawa kitab yang ringan di tangannya, tetapi berat dalam maknanya. Dan justru karena kesendiriannya itulah, dia menjadi penghuni rumah yang paling ramai oleh tamu-tak-kasat-mata: para nabi yang berbicara melalui tulisan, para malaikat yang turun melalui doa, dan harapan yang bertamu setiap fajar.
Wahai saudaraku, mungkin kau bertanya, apakah Waraqah merasa bangga dengan keilmuannya? Tidak. Kalau ada yang dia banggakan, hanyalah kejujurannya mencari. Dia tidak berkata, “Aku sudah tahu.” Dia berkata, “Aku masih mencari.” Dan itulah perbedaan antara orang alim yang sombong dengan orang alim yang saleh. Yang pertama berhenti di pintu dan mengunci orang lain dari luar. Yang kedua terus mengetuk pintu langit, meski dia sudah lama ditunggu. Waraqah adalah pengetuk yang setia. Di malam-malamnya yang panjang, dia tidak tahu bahwa di balik bukit Jabal Nur, ada gua kecil yang sedang dikunjungi seorang lelaki muda dari klan Bani Hashim, cucu Abdul Muththalib, yang sedang bermunajat kepada Allah dengan hati yang juga bersih. Waraqah dan lelaki muda itu belum pernah bertemu. Tetapi keduanya, tanpa saling tahu, sedang menyelaraskan nafas mereka dengan nafas langit. Yang satu di gua, yang satu di rumah berpelita. Dan Allah, Yang Maha Mendengar, sedang menyiapkan pertemuan yang paling mengharukan dalam sejarah.
Maka di sinilah kita tinggalkan Waraqah untuk sementara, wahai saudaraku, dengan lembaran-lembarannya yang bergetar dihembus angin malam, dan matanya yang semakin rabun memandang huruf-huruf kecil. Jangan kau anggap dia hanya figur pinggiran. Dia adalah manusia kitab di tengah bangsa yang buta huruf. Dan manusia kitab itulah yang akan menjadi saksi pertama—saksi yang paling menentukan—ketika sang Nabi keluar dari gua dengan tubuh gemetar. Sebab hanya orang yang pernah membaca tentang langit, yang bisa mengenal suara langit ketika suara itu akhirnya turun.
Wallahu alam.