Files
waraqah-bin-naufal/chapters/bab_08.md
T

12 KiB
Raw Permalink Blame History

BAB 8: Rumah Waraqah — Saksi di Ujung Usia

Wahai saudaraku.

Ada rumah-rumah di dunia ini yang tidak besar, yang dindingnya tidak dihiasi ukiran mewah, yang halamannya tidak berjajar bejana tembaga dari negeri Syam, tetapi ketika engkau melangkahkan kaki ke dalamnya, engkau merasa bahwa ada sesuatu di udara yang tidak bisa dibeli dengan ribuan unta. Rumah itu dipenuhi oleh bau kertas usang yang bergaul dengan bau dupa sederhana, oleh suara napas seorang tua yang dalam-dalam menghirup malam, dan oleh getaran hati yang telah lama menanti tamu dari langit. Rumah Waraqah bin Naufal adalah salah satunya. Di sudut Mekah yang sunyi, di antara batu-batu hitam yang dingin, pelitanya menyala redup pada malam yang kelam itu. Waraqah duduk bersimpuh. Matanya rabun — hampir buta — sebab usia telah merampas cahaya dari bola matanya, tetapi hatinya, wahai saudaraku, hatinya adalah mata yang tidak pernah rabur. Ia sedang memegang lembaran kitabnya, bukan untuk membaca dengan mata, sebab tulisan sudah kabur baginya, tetapi untuk merasakan tekstur kertas yang pernah menyimpan firman Tuhan. Ia membaca dengan jari, dan ia membaca dengan ingatan. Ia tahu di luar kepala kisah-kisah Taurat, bagaimana Musa gemetar ketika melihat api di Midian, bagaimana nabi-nabi diusir oleh kaumnya, bagaimana Isa dikejar oleh para pendeta Yahudi. Dan ia menanti. Ia menanti sambil berkata pada dirinya, atau mungkin pada Hala istrinya yang telah tidur di kamar sebelah, “Sudah dekat. Sangat dekat. Aku merasa napaskin terasa berbeda pada malam ini.”

Tiba-tiba ada ketukan di pintu. Ketukan yang bukan ketukan pencuri, bukan ketukan pengemis, bukan ketukan orang yang berburu minuman dingin pada malah panas. Ketukan itu tegas tetapi lembut, seperti ketukan hati yang tidak sanggup menahan rahasia lebih lama. “Siapa?” tanya Waraqah dengan suara serak. “Aku, Khadijah,” jawab dari luar. “Dan bersamaku Muhammad.”

Waraqah merasakan jantungnya berdegup satu kali yang keras. Seperti degup gendang sebelum lantunan qasidah dimulai. Ia berkata, cepat, hampir tersedak oleh emosi, “Masuklah.”

Pintu kayu terbuka. Khadijah masuk terlebih dahulu, memegang lengan suaminya yang masih dingin oleh keringat malam gunung. Muhammad bin Abdullah, yang baru saja turun dari Jabal Nur, yang masih membawa beban wahyu di dadanya seperti orang yang baru saja dipeluk oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya, melangkah masuk ke dalam rumah iparnya. Cahaya pelita menyilaukan sebentar, lalu redup, seakan-akan pelita itu sendiri merasa tidak pantas menerangi wajah yang baru saja dipandang oleh malaikat. Waraqah tidak melihat dengan jelas. Ia melihat bayangan, melihat postur tubuh, melihat keringat di dahi. Tetapi lebih dari itu, ia merasakan. Ia merasakan ada sesuatu di dalam ruangan yang bukan berasal dari Mekah. Ada angin dari Jabal Nur yang ikut masuk bersama Muhammad.

“Duduklah, wahai keponakanku,” kata Waraqah, sambil merangkak maju di atas tikar. Suaranya lembut, penuh dengan penantian yang terpendam sekian lama. “Khadijah, apakah yang menimpa suamimu?”

Khadijah, yang duduk di samping Muhammad, berkata dengan suara yang masih tegak meski hatinya berdebar, “Bibi bawa kepadamu yang kau tunggu-tunggu, wahai iparku. Bawalah apa yang kau ceritakan kepadanya, wahai Abu al-Qasim.”

Maka Muhammad menceritakan. Dengan suara yang masih bergetar, dengan napas yang masih tersengal, ia bercerita tentang Gua Hira, tentang tidurnya yang terputus, tentang malaikat yang datang dengan perintah Iqra, tentang pelukan yang membuat dadanya sesak seakan-akan tulang-tulangnya mau patah, dan tentang ayat-ayat yang keluar dari mulut malaikat seperti air terjun dari langit. Ia bercerita bagaimana malaikat itu kemudian pergi, meninggalkannya di tengah gelap gua dengan tubuh yang gemetar hebat, bagaimana ia turun dari gunung bukan dengan langkah manusia biasa, melainkan dengan langkah orang yang baru saja disentuh oleh tangan Tuhan. Waraqah mendengarkan. Matanya yang rabun terpejam. Tangannya yang keriput menggenggam erat lututnya. Ia tidak menyela sekali pun. Ia hanya mendengarkan, sebagaimana Musa mendengarkan Allah dari semak berapi: dengan takut yang dipenuhi harapan.

Ketika Muhammad selesai bercerita, sunyi. Sangat sunyi. Hanya suara angin malam yang menyelusup celah-celah dinding batu. Lalu Waraqah bin Naufal menghela napas panjang. Napas yang keluar dari dada seorang tua yang telah menanti berita ini selama bertahun-tahun. Ia mengangkat kepalanya. Matanya yang kabur mencoba menatap ke arah Muhammad, tetapi sebenarnya ia menatap jauh ke depan, ke masa depan, ke garis horizon sejarah. Dan ia berkata. Wahai saudaraku, catatlah kalimat ini dengan tinta emas di dalam hatimu, sebab ini adalah kalimat pertama yang mengakui kenabian dari mulut seorang manusia di luar malaikat, yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha dalam Shahih al-Bukhari, yang sampai kepada kita dari mulut ke mulut dengan sanad yang suci: “Hadha an-Namus alladzi anzallahu ala Musa.”Inilah Namus yang diturunkan Allah kepada Musa.

Wahai saudaraku, dengarkanlah bunyi kalimat itu di telingamu. Bukan “mungkin,” bukan “nampaknya,” bukan “barangkali mimpi bagus.” Tidak. Waraqah berkata dengan keyakinan yang bulat, dengan ilmu yang telah dipelajarinya berpuluh-puluh tahun, dengan hati yang telah disucikan oleh penantian. Namus. Rahasia yang besar. Malaikat pembawa wahyu yang datang kepada Musa di lembah Thuwa. Waraqah telah membacanya dalam Taurat. Ia telah mengetahui bagaimana Allah berfirman kepada Musa dari semak yang menyala. Dan sekarang, ketika Muhammad bercerita tentang malaikat yang datang dengan perintah Iqra, Waraqah langsung mengenal suara itu. Ia mengenal jejaknya. Sebagaimana orang yang telah belajar melihat bintang selama bertahun-tahun, ia bisa langsung menunjuk ke langit dan berkata, “Itulah bintang yang kutunggu.”

Tetapi Waraqah tidak berhenti di situ. Setelah menyaksikan, setelah mengenali, hatinya yang tua itu diliputi oleh dua perasaan yang bertarung: sukacita yang meluap-luap, sebab penantiannya telah terjawab, dan duka yang menusuk, sebab ia tahu hukum langit. Ia tahu bagaimana umat manusia menyambut para pembawa cahaya. Maka berkatalah ia kepada Muhammad dengan suara yang bergetar, penuh dengan harapan yang terhalang oleh usia, sebagaimana yang diabadikan dalam riwayat Shahih al-Bukhari: “Ya laitani kuntu fataan, fa akuna ila waqt yakhrujuka qawmuka, fa akuna maaka hizban qawiyyan.”Alangkah baiknya seandainya aku masih muda, supaya aku bisa hidup sampai pada saat kaummu mengusirmu, maka aku akan menjadi pendukungmu yang kuat.

Muhammad, yang masih duduk dengan kain selimut yang sebagian jatuh dari bahunya, mendongak. Ia belum pernah dipandang rendah oleh kaumnya. Ia adalah al-Amin, orang yang dipercaya, yang disegani. Maka dengan nada yang masih penuh keheranan, ia bertanya, sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah: “Amukhrijiyahum qawmi?”Apakah mereka akan mengusirku?

Waraqah menjawab. Suaranya tidak tinggi, tetapi setiap kata jatuh seperti batu di dasar telaga: “Naam. Ma jaa ahadun bi-mithli ma jita bihi illa usiya, wa in yusbirni Allah bi-yawmi yakhrujuka, fa innani la-hizun laka hizban qawiyyan.”Ya. Tidak pernah seorang pun datang membawa seperti apa yang engkau bawa ini kecuali ia diperlakukan dengan permusuhan. Dan jika Allah memberiku umur panjang hingga hari engkau diusir, maka sesungguhnya aku akan menjadi pendukung yang sangat kuat bagimu.

Wahai saudaraku, bayangkanlah detik itu. Seorang tua yang hampir buta, yang tubuhnya sudah membungkuk, yang namanya tidak disebut-sebut di pasar-pasar Mekah, berkata kepada pembawa wahyu yang baru saja turun dari langit: “Aku akan berdiri di belakangmu. Aku akan melawan kaumku sendiri untukmu.” Ini bukan janji politik. Ini bukan janji yang dicari untung. Ini adalah janji yang keluar dari mulut yang telah membaca sejarah para nabi. Waraqah tahu bahwa jalan Muhammad tidak akan lurus. Ia tahu bahwa Quraysh yang sedang tidur pulas itu, begitu terbangun oleh seruan La ilaha illallah, akan menjadi singa-singa yang mengaum. Maka ia ingin menjadi tameng. Ia ingin menjadi orang yang mengulurkan tangan ketika semua orang menarik tangan mereka. Tetapi usia. Usia yang telah memakan matanya, yang melemahkan lututnya, berdiri sebagai tembok antara keinginan dan kenyataan. Maka hanya bisa ia ucapkan, “Alangkah baiknya seandainya aku masih muda.”

Allah Taala berfirman: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Surah Qaf: 16). Wahai saudaraku, Waraqah mungkin tidak bisa melihat dengan mata, tetapi Allah melihat hatinya. Dan hati Waraqah pada malam itu adalah hati yang paling murni di Mekah. Ia tidak meminta bukti ajaib. Ia tidak meminta gunung dijinakkan atau matahari berhenti. Cukup dengan cerita Muhammad, dengan deskripsi malaikat, dengan perasaan sesak di dada, Waraqah langsung mengenal tanda tangan langit. Sebab ia telah belajar membaca tanda-tanda itu selama puluhan tahun. Ilmu itu bukan harta yang sia-sia. Ia adalah benih yang tertanam di ladang hati, yang tumbuh pada malah yang tepat.

Khadijah, yang duduk di antara keduanya, mendengarkan dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak perlu lagi bukti. Waraqah, yang tidak pernah mudah memuji, telah memuji suaminya dengan pujian yang paling tinggi: menyamakannya dengan Musa. Bukan dengan raja, bukan dengan pahlawan perang, tetapi dengan nabi yang berbicara langsung dengan Allah. Maka air mata Khadijah jatuh, bukan air mata sedih, melainkan air mata orang yang baru saja melihat keluarganya dipersatukan oleh kebenaran. Di rumah sederhana ini, pada malah yang masih gelap, tiga jiwa berkumpul: sang pembawa wahyu yang baru lahir, sang isteri yang setia, dan sang saksi yang tua. Tidak ada orang keempat. Tidak ada suara gonggongan anjing yang mengganggu. Hanya ada Allah yang menyaksikan dari atas tujuh langit, dan mungkin Jibril yang masih berdiri di ambang pintu tak kasat mata, mengangguk-angguk kecil melihat pengakuan pertama itu.

Waraqah kemudian memegang tangan Muhammad. Tangannya keriput, dingin, tetapi penuh kehangatan. “Pulanglah, wahai keponakanku,” katanya. “Istirahatkanlah tubuhmu. Besok, atau lusa, atau bulan-bulan yang akan datang, engkau akan membutuhkan tenaga yang lebih dari ini. Sebab apa yang turun kepadamu bukan beban biasa. Itu adalah amanat langit. Dan langit tidak pernah ringan.” Muhammad berdiri, dibantu oleh Khadijah. Ia melihat Waraqah untuk terakhir kali dalam keadaan sadar yang penuh. Ia melihat mata rabun itu yang masih berusaha menatapnya. Dan dalam hati Nabi yang masih muda itu, mungkin tumbuh sebuah kasih yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata: kasih kepada orang yang pertama kali mengenalnya, meski dunia belum mengenalnya.

Wahai saudaraku, ambillah dari malam ini beberapa butir mutiara yang tidak boleh hilang di lautan waktu. Pertama: ilmu yang dicari dengan jujur akan menjadi cermin yang memantulkan cahaya wahyu ketika wahyu datang. Tanpa Taurat dan Injil yang dibaca Waraqah, mungkin tidak akan ada pengakian yang begitu cepat dan tepat. Kedua: usia bukan penghalang untuk menjadi saksi, tetapi bisa menjadi penghalang untuk menjadi pejuang. Maka manfaatkanlah masa mudamu sebelum tua merampas kekuatanmu. Ketiga: pengakian kebenaran butuh keberanian. Waraqah tidak tahu apakah ia akan hidup sampai Muhammad diusir, tetapi ia berani berkata, “Aku akan berdiri di belakangmu.” Dan keempat: Allah tidak membiarkan hamba-Nya yang lapar menunggu tanpa jawab. Waraqah telah menunggu, dan malam itu, di ujung usianya, jawabannya tiba dalam bentuk wajah pucat seorang manusia yang baru saja turun dari Gua Hira.

Mereka pulang, Khadijah dan Muhammad, meninggalkan rumah yang pelitanya mulai meredup. Waraqah duduk sendirian, atau mungkin Hala sudah bangun dan duduk di sampingnya. Ia menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup. Ia berkata, mungkin pada istrinya, atau mungkin hanya pada malam yang sunyi, “Sudah datang. Yang kutunggu sudah datang. Sekarang, aku bisa mati.”

Tetapi mati, wahai saudaraku, bukanlah sesuatu yang bisa dipercepat atau diperlambat semau hati. Ia datang sesuai jadwal yang ditulis sebelum pena menggambar bumi. Waraqah masih hidup beberapa hari lagi. Beberapa hari yang menjadi fatrah — jeda — antara wahyu pertama dan wahyu berikutnya. Dan dalam jeda itu, ada rahasia yang besar. Tetapi itu adalah cerita untuk bab yang akan datang. Sekarang, biarlah kita berdiri sejenak di ambang pintu rumah Waraqah, merasakan sisa kehangatan dari tiga jiwa yang baru saja berkumpul, dan memahami bahwa rumah sederhana inilah yang menjadi saksi pertama pengakian kenabian di bumi Mekah.

Wallahu alam.