Files
waraqah-bin-naufal/chapters/bab_06.md
T

10 KiB
Raw Permalink Blame History

BAB 6: Gua Hira — Malam yang Mengubah Sejarah

Wahai saudaraku.

Di sebelah utara Mekah, menjulang sebuah gunung yang namanya bukanlah tercatat di peta-peta kebesaran dunia, tetapi tercatat di lauhul mahfuzh sebagai tempat di mana langit pertama kali menyentuh dada seorang manusia setelah sekian lama sunyi. Gunung itu disebut Jabal Nur, gunung cahaya. Bukan karena batunya bersinar, melainkan karena dari puncaknya, pada suatu malam yang dingin, akan turun cahaya yang mengalir sampai ke hari-hari kita kini. Dan di lerengnya yang curam, ada sebuah liang batu tidak lebih lebar dari dua dada manusia, tidak lebih tinggi dari sikap berdiri seorang hamba yang tunduk. Itulah Gua Hira. Tempat yang sepi, sunyi, dan anginnya membawa suara yang hanya didengar oleh telinga hati.

Sebelum malam itu datang, ada seorang lelaki berusia empat puluh tahun, dari klan Bani Hashim, yang setiap tahun selama Ramadan meninggalkan rumahnya di lembah. Ia bukan lari dari hutang, bukan pula mengasingkan diri karena dosa. Ia pergi untuk tahannuth, untuk menyendiri, membersihkan hati dari bau unta dan debu pasar, dan bermunajat kepada Allah Yang Maha Esa dengan cara yang diajarkan oleh leluhurnya Ibrahim alaihis-salam, jauh sebelum berhala-berhala mengotori Mekah. Lelaki itu membawa sedikit bekal kurma dan air, naik ke gunung, masuk ke gua yang gelap, dan duduk bersimpuh menghadap arah Kabah yang terlihat samar di kejauhan. Sinar matahari terbenam, bintang-bintang muncul, dan ia terus berdoa. Bukan dengan doa yang panjang dan puitis seperti syair lomba di pasar, tetapi dengan doa yang keluar dari dada yang sesak, yang berkata, “Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku jalan yang benar.” Wahai saudaraku, barang siapa yang benar-benar mencari dengan hati yang lapar, maka langit tidak pernah mengecewakannya. Itulah hukum yang berlaku sejak Adam, dan itulah hukum yang akan kita lihat terjadi pada malam ini.

Malam itu bukan malah biasa. Lelaki itu — Muhammad bin Abdullah, yang kita kenal dan cintai sebagai Nabi akhir zaman — sedang tidur di gua yang dingin. Tidurnya bukan tidur orang lelah yang hanya ingin melupakan hari. Tidur itu adalah satu napas antara dua dunia. Tiba-tiba ia terbangun. Ada suara yang bukan suara angin. Ada bayangan yang bukan bayangan batu. Ia melihat sesuatu yang menyuruhnya dengan suara lantang dan tegas, “Iqra!” Bacalah! Lelaki itu, yang tidak pernah belajar menulis di hadapan guru, yang tidak pernah menyentuh tinta, menjawab dengan getar, “Ma ana bi-qari, ma ana bi-qari, ma ana bi-qari” — Aku tidak bisa membaca, aku tidak bisa membaca, aku tidak bisa membaca. Sebanyak tiga kali ia menolak, bukan karena sombong, melainkan karena kejujuran seorang yang tidak pernah pandai huruf. Tetapi malaikat itu — yang kemudian kita kenal sebagai Jibril alaihis-salam — tidak mundur. Ia merangkul Nabi dengan kuat, sekuat-kuatnya, sampai Nabi merasa sesak napas. Lalu dilepaskannya. Kemudian malaikat itu berkata lagi, “Iqra bismi Rabbika alladzi khalaq. Khalaqal-insana min alaq. Iqra wa Rabbuka al-Akram. Alladzi allama bil-qalam. Allamal-insana ma lam yalam.” Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan pena. Yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Wahai saudaraku, baca ayat itu perlahan-lahan. Rasakanlah getarannya. Bukan hanya Muhammad yang gemetar di gua itu. Langit pun gemetar ketika firman itu turun untuk pertama kali setelah enam ratus tahun sejak Isa alaihis-salam. Ini bukan syair yang bisa ditandingi oleh tujuh pen syair Mekah. Ini bukan hikmah yang bisa ditulis oleh filsuf Romawi. Ini adalah kalamullah, firman Tuhan Yang Hidup, yang turun ke atas hati seorang manusia yang tidak bisa baca-tulis, supaya manusia itu menjadi pembaca bagi seluruh umat manusia yang buta. Subhanallah! Sebegitu mulianya malam itu. Sebegitu dahsyatnya pertemuan antara langit dan bumi.

Kemudian, selesai sudah. Malaikat itu menghilang. Gua kembali gelap. Gunung kembali sunyi. Tetapi dada Muhammad tidak lagi miliknya sendiri. Ada sesuatu yang begitu berat, begitu mencekam, seakan-akan gunung itu diletakkan di atas dadanya. Ia berdiri, kakinya lemah, tubuhnya gemetar bagaikan daun di tengah badai. Ia turun dari Jabal Nur, bukan dengan langkah seorang pemenang, melainkan dengan langkah seorang hamba yang baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak sanggup dijalannya. Wahai saudaraku, kenabian itu bukan harga yang murah. Ia bukan gelar kehormatan yang digantungkan di dinding. Ia adalah beban langit yang ditimpakan ke atas bahu manusia. Muhammad turun, dan langit di atas Mekah masih hitam. Tidak ada petir menyambut. Tidak ada genderang dari Kabah. Semua orang tidur pulas, tidak tahu bahwa sejarah baru saja dilahirkan di gua batu yang sunyi.

Turunlah ia ke lembah, dengan hati yang ingin meletakkan beban itu di pangkuan seseorang. Siapa yang bisa menerima? Siapa yang tidak akan mengatakan, “Kau gila, Muhammad”? Ia berlari pulang ke rumahnya. Di sana menunggu istrinya, Khadijah binti Khuwaylid, yang mungkin pada malam itu juga belum bisa tidur tenang sebab hatinya merasakan sesuatu akan terjadi. Ketika pintu terbuka, Muhammad masuk bukan dengan senyum suami pulang dari dagang, melainkan dengan tubuh yang berguncang, wajah yang pucat, dan suara yang hampir tidak keluar dari tenggorokan. Ia berkata kepada Khadijah, sebagaimana yang dirwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha dalam Shahih al-Bukhari, dengan lafazh yang sampai ke kita melalui riwayat yang suci: “Zammiluni, zammiluni” — Selimutkan aku, selimutkan aku. Maka Khadijah menyelimutkannya. Ia duduk di samping suaminya, dengan hati yang sejak awal pernikahan telah yakin bahwa lelaki ini berbeda. Ia tidak bertanya dengan suara tajam. Ia bertanya dengan suara ibu, dengan suara isteri, dengan suara sahabat: “Wahai Abu al-Qasim, apa yang menimpamu?”

Dan Muhammad, setelah napasnya sedikit tenang, menceritakan apa yang ia lihat. Ia melihat malaikat. Ia merasa sesak. Ia mendengar perintah membaca. Khadijah mendengarkan tanpa menyela. Matanya tidak melebar karena kaget palsu, tetapi berkaca-kaca karena simpati yang mendalam. Lalu Khadijah berkata sesuatu yang menunjukkan betapa mulianya hati seorang wanita yang telah dipersiapkan Allah untuk menjadi isteri pertama dalam Islam. Ia berkata, tidak dengan nada ragu, melainkan dengan keteguhan yang menggetarkan batu-batu Mekah: “Khabbiki wala adhi, wa wallahi la yukhzikallahu abadan. Fa innaka latashillu al-marudh, wa tatudu al-hadits, wa taqdi al-baidha, wa takshifu al-dayn, wa taudu al-haidz, wa tainu ala nawaib al-haqq.” — Bashirkanlah dan janganlah engkau bersedih. Demi Allah, Allah tidak akan mempermalukanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau membalas kebaikan, engkau menepati janji, engkau menanggung beban kesusahan, engkau memaafkan orang yang berbuat kesalahan padamu, engkau memuliakan tamu, engkau menolong orang yang ditimpa musibah.

Wahai saudaraku, dengarkanlah ucapan Khadijah itu baik-baik. Ia tidak mengatakan, “Ah, mungkin itu hanya mimpi buruk karena lapar.” Tidak. Ia melihat langsung pada akhlak suaminya. Ia berkata, “Engkau tidak mungkin dipermalukan Allah, sebab engkau orang yang baik.” Ini bukan hiburan kosong. Ini adalah kesaksian hidup. Khadijah telah hidup bersama Muhammad selama lima belas tahun. Ia tahu bahwa suaminya tidak pernah berbohong, tidak pernah khianat, tidak pernah menyakiti siapa pun. Maka bagaimana mungkin Allah mempermainkan orang yang paling jujur di bumi? Tidak. Yang ia lihat di gua tadi pasti dari Allah.

Tetapi Khadijah, wahai saudaraku, bukan wanita yang hanya bergantung pada perasaannya. Ia adalah putri Khuwaylid, saudara Hala, ipar Waraqah. Ia tahu bahwa di rumahnya ada kompas yang menunjuk ke utara. Ia tahu bahwa Waraqah telah menanti-nanti kabar ini seumur hidupnya. Maka setelah Muhammad sedikit tenang, setelah selimut dibuka dan keringat dikeringkan, Khadijah berkata, “Aku akan membawamu kepada seseorang yang bisa menjelaskan apa yang kau lihat. Aku akan membawamu kepada Waraqah bin Naufal.”

Bayangkanlah, wahai saudaraku, langkah mereka berdua di malam yang masih gelap. Mungkin Khadijah memegang tangan suaminya yang masih dingin. Mungkin mereka melewati lorong-lorong batu yang sunyi, sementara anjing-anjing liar berhenti menggonggong seakan merasakan bahwa sesuatu yang besar sedang lewat. Mereka menuju rumah Waraqah. Rumah lelaki tua yang mata rabunnya masih terjaga oleh cahaya kitab. Rumah tempat Taurat dan Injil terbuka menanti. Rumah di mana seorang hanif yang telah membaca nubuat-nubuat itu, akan untuk pertama kali dalam hidupnya mendengar suara yang ia nanti-nantikan sejak pulang dari Syam: suara seorang nabi yang baru saja menerima wahyu.

Wahai saudaraku, ambillah dari malam ini beberapa pelajaran yang tidak akan usang oleh waktu. Pertama: kebenaran tidak datang kepada orang yang hanya duduk dan menunggu untung. Muhammad naik ke gunung. Ia berjalan. Ia bersusah payah. Baru kemudian wahyu turun. Kedua: ketika cahaya datang, ia tidak selalu datang dengan gembira. Ia bisa datang dengan gemetar, dengan sesak, dengan tangis. Janganlah engkau berpikir bahwa iman selalu manis. Imannya para nabi adalah iman yang pahit di awal, manis di akhir. Ketiga: ketika engkau gemetar, carilah orang yang hatinya bersih untuk menenangkanmu. Khadijah tidak memandang harta atau pangkat. Ia memandang akhlak. Dan keempat: ketika engkau bingung dengan cahaya yang baru menyentuh hatimu, carilah orang yang membaca. Carilah penuntut ilmu. Sebab hati yang bersih saja tidak cukup; butuh juga mata yang bisa membaca tanda-tanda langit. Itulah sebabnya Khadijah membawa Muhammad kepada Waraqah, bukan kepada orang lain di Mekah.

Maka berakhirlah malam itu di ambang pintu rumah Waraqah. Langit masih gelap. Bintang-bintang masih diam. Tetapi di dalam dada tiga orang — Muhammad yang baru menerima wahyu, Khadijah yang setia, dan Waraqah yang sedang membaca kitabnya menunggu — ada api yang mulai menyala. Api itu akan membakar seluruh Jahiliah. Tetapi sebelum api itu menjilat, mari kita masuk ke rumah Waraqah, duduk di tikarnya yang usang, dan dengarkanlah apa yang akan dikatakan oleh mulut yang telah lama membaca tentang Musa, ketika mulut itu kini berhadapan dengan pembawa wahyu yang lebih mulia dari Musa.

Wallahu alam.