Files
waraqah-bin-naufal/chapters/bab_05.md
T

10 KiB
Raw Permalink Blame History

BAB 5: Silsilah dan Keluarga — Pertalian dengan Khadijah

Wahai saudaraku.

Sebelum kita melangkah lebih jauh ke gua dan wahyu, marilah kita berhenti sejenak di depan sebuah rumah yang dindingnya terbuat dari batu-batu hitam Mekah, dengan pintu kayu yang rendah dan halaman kecil tempat ayam-ayam kampung mencari berkas gandum. Rumah ini bukan rumah orang kaya yang berbangga dengan serambi luas dan bejana tembaga mengkilap. Tetapi rumah ini adalah salah satu tempat paling mulia di lembah itu, karena di dalamnya tinggal seorang wanita yang namanya kelak akan melekat pada sejarah terindah umat manusia: Khadijah binti Khuwaylid. Dan di balik tembok yang sama, dalam keluarga yang sama, terpautlah benang merah yang menghubungkan hati Khadijah dengan hati Waraqah bin Naufal. Wahai saudaraku, sejarah itu tidak terjadi di udara kosong. Ia terjadi di dalam rahim keluarga, di antara darah yang mengalir dari nenek moyang yang sama, di dalam kasih sayang yang ditanam sejak kanak-kanak. Kalau engkau ingin tahu mengapa Khadijah, pada saat yang paling genting, membawa suaminya yang gemetar itu ke rumah Waraqah, maka jawabannya ada di sini: karena mereka adalah keluarga.

Bayangkanlah pohon besar Quraysh. Akarnya menancap pada Fihr, yang mereka sebut Quraish, lalu bertumbuh menjadi ranting-ranting. Di antara ranting-ranting itu ada klan Banu Asad, salah satu cabang yang tidak sebesar Bani Hashim atau Bani Umayyah, tetapi cukup terhormat untuk dikenal. Di sini, wahai saudaraku, kita jumpai Khuwaylid bin Asad, seorang laki-laki Quraysh yang gagah dan kaya, dikenal dengan julukan al-Kurazi karena perdagangannya, tetapi juga dikenal dengan hati yang mulia. Dari istrinya, Fatimah binti Za'idah, lahirlah seorang putri yang amat berharga: Khadijah. Dan dari ibu yang sama, atau dari ayah yang sama dengan garis keturunan yang berbeda tapi masih dalam Banu Asad, lahirlah pula Hala binti Khuwaylid, adik kandung Khadijah. Mereka tumbuh dalam satu rumah, menyusu dari satu kebiasaan luhur, dan melihat ayah mereka berdagang dengan amanah yang membuat namanya harum di seluruh Hijaz. Ketika Khuwaylid wafat, harta yang ditinggalkan besar, tetapi yang lebih besar adalah nama baik. Khadijah mewarisi tidak hanya unta dan uang, melainkan juga karakter: kejujuran, ketabahan, dan kemurnian hati. Orang-orang Mekah memanggilnya ath-Thahirah — sang suci. Dan Hala, adiknya, mewarisi pula kemuliaan itu, hanya saja Hala tidak terkenal di pasar-pasar dagang, melainkan tersembunyi di balik dinding rumah, menanti seorang laki-laki yang sepadan.

Lalu di ranting lain pohon yang sama, dari Naufal bin Asad, lahirlah Waraqah. Dengan demikian, wahai saudaraku, Waraqah dan Khadijah adalah sepupu. Mereka berbapa dari saudara kandung yang sama, Asad, yang menjadikan mereka bertemu dalam majelis-majelis keluarga sejak kecil. Tetapi kemudian, takdir menulis lembaran yang lebih indah. Waraqah, setelah pulang dari perjalanan mencari kebenaran, setelah hatinya dipenuhi cahaya hanif dan kitab-kitab suci, menikahi Hala binti Khuwaylid. Dengan pernikahan itu, Waraqah tidak lagi hanya sepupu Khadijah. Ia menjadi iparnya, suami dari adik kandungnya. Maka ketiga mereka — Khadijah, Hala, dan Waraqah — berkumpul dalam satu rumah besar kasih sayang, satu keluarga yang darahnya mengalir dari Banu Asad, tetapi jiwanya lebih tinggi daripada bangga-banggaan nasab. Mereka tidak berteguk saku sambil menyombongkan jumlah unta. Mereka berbagi bisikan tentang Tuhan Yang Satu.

Di tengah kaum Quraysh yang bangga dengan persaingan dan fanatisme klan, keluarga ini adalah anomali. Khadijah, wanita kaya yang dilirik oleh banyak laki-laki Mekah, menolak lamaran demi lamaran setelah suami pertamanya Abu Halah wafat. Ia tidak mencari harta yang lebih besar — sebab hartanya sudah besar. Ia mencari hati yang bersih. Dan ketika seorang laki-laki muda dari Bani Hashim yang terkenal jujur — Muhammad — memimpin kafilahnya ke Syam, dan kembali dengan untung yang berlipat ganda, Khadijah mendengar dari pembantu lakinya, Maisyarah, tentang keistimewaan laki-laki itu. Tetapi bukan hanya Maisyarah yang bercerita. Ada pula bisikan dari keluarganya sendiri. Waraqah, yang memang telah lama mengenal Muhammad sebagai anak keponakan dari jauh — sebab Muhammad adalah anak Abdullah bin Abdul Muththalib dari Bani Hashim — mungkin pernah berkata kepada Khadijah, atau kepada Hala, di suatu malam ketika cahaya pelita bergetar di dinding, “Lelaki itu berbeda. Aku melihat di matanya ketenangan yang tidak kumiliki. Hatinya bersih seperti halaman Kabah sebelum dijejali berhala.” Dan Khadijah, yang percaya pada penilaian Waraqah, semakin mantap hatinya. Kalau Waraqah — yang membaca Taurat dan Injil, yang tidak pernah memuji sembarang orang — memandang laki-laki itu istimewa, maka sesungguhnya istimewalah dia.

Sabda Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Nikahilah wanita-wanita itu karena empat hal: karena hartanya, karena nasabnya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Dan pilihlah yang baik agamanya, niscaya beruntunglah engkau.” Wahai saudaraku, Khadijah tidak perlu memilih karena harta, sebab ia sendiri adalah harta. Ia tidak memilih karena nasab semata, sebab nasabnya sudah cukup mulia. Ia memilih Muhammad karena agama — bahkan sebelum agama itu datang dengan nama Islam. Ia memilih karena hati. Dan Waraqah, ipar sekaligus sepupunya, adalah saksi hati itu. Di antara keluarga Quraysh yang sibuk menghitung unta dan merajut diplomasi dagang, ada tiga jiwa — Khadijah, Hala, Waraqah — yang menghitung detak jantung ketakwaan. Maka ketika Khadijah akhirnya mengirim lamaran kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam — dengan keberanian yang jarang dimiliki wanita pada zamannya — ia melakukannya bukan sebagai wanita yang putus asa, melainkan sebagai wanita yang sudah mendengar persetujuan langit dari mulut Waraqah. Keluarganya, yang berbagi cahaya yang sama, tidak menentang. Hala, istrinya Waraqah, tentu tersenyum. Mereka tahu, rumah Khadijah akan menjadi rumah yang paling terang di Mekah.

Tetapi wahai saudaraku, rumah tangga bukan hanya soal cinta berdua. Muhammad dan Khadijah membangun sebuah benteng di tengah Jahiliah. Di dalamnya lahir anak-anak: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah, dan putra-putra yang wafat ketika masih kecil. Khadijah menjadi penopang, bukan hanya dengan hartanya yang ia salurkan untuk dakwah nanti, tetapi dengan jiwanya yang tidak pernah goyah. Dan Waraqah, di rumahnya yang bersebelahan atau mungkin tidak jauh, tetap menjadi tempat bertanya. Sebagai ipar, ia bukan pengganggu. Ia adalah penjaga pintu yang menunggu. Hala, istrinya, seringkali menjadi pembawa kabar antar kedua rumah. “Khadijah berkirim salam,” katanya. “Dan bertanya, apakah lelaki itu memang yang dinubuatkan dalam kitab?” Waraqah akan tersenyum getir, menatap Tauratnya yang terbuka. “Belum waktunya, Hala. Tetapi aku merasa dekat. Sangat dekat.”

Allah Taala berfirman: “Dan Allah menjadikan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri.” (Surah An-Nahl: 72). Wahai saudaraku, ayat ini bukan hanya hukum biologi, melainkan juga hukum spiritual. Allah menjodohkan hati yang sejenis. Waraqah dan Hala adalah jenis yang sama: keduanya mencari Tuhan. Khadijah dan Muhammad adalah jenis yang sama: keduanya dibersihkan oleh ketulusan. Maka ketika Allah hendak mengutus wahyu pertama, bukan ke masjid, bukan ke istana, bukan ke pasar, melainkan ke Gua Hira, dan bukan kepada orang lain, melainkan kepada Muhammad — maka tidaklah mengherankan bahwa setelah turun dari gua, lelaki itu berlari bukan ke rumah pamannya Abu Thalib, melainkan ke rumah istrinya. Dan Khadijah, setelah mendengar cerita suaminya, tidak berkata, “Kau gila,” sebagaimana mungkin dikatakan oleh istri-istri lain di Mekah. Ia berkata, “Tidak, demi Allah, Allah tidak akan mempermalukanmu.” Kemudian, setelah menenangkan suaminya, ia membawanya ke rumah Waraqah. Mengapa? Karena dalam keluarga mereka, Waraqah adalah penentu arah. Ia adalah kompas yang tidak pernah salah menunjuk utara. Kalau Waraqah mengatakan ini dari Allah, maka Khadijah tidak akan ragu. Kalau Waraqah mengatakan ini hanya mimpi biasa, maka Khadijah akan menenangkan suaminya dengan cara lain. Ipar dan sepupu itu adalah penasihat terakhir, sekaligus penasihat pertama.

Di sinilah letaknya hikmah, wahai saudaraku. Keluarga itu bukan hanya tempat makan dan tidur. Keluarga adalah tempat hati diuji. Ketika seseorang melihat cahaya yang tidak dilihat orang lain, siapa yang percaya padanya? Istri dan ipar. Ketika seseorang gemetar karena takut, siapa yang menenangkan? Keluarga. Quraysh di luar sana sibuk menghitung unta, tetapi di dalam rumah Waraqah dan Khadijah, mereka menghitung detik-detik ketika nubuat itu akan jadi nyata. Waraqah telah tua. Khadijah telah menjadi wanita yang kehilangan dua suami sebelum Muhammad, dan sekarang menemukan suami terakhir yang paling mulia. Hala berdiri di antara keduanya, membawa air minum di siang panas, menenangkan bayi-bayi di malam hari. Tidak ada istana, tidak ada prajurit. Hanya ada tiga jiwa yang menunggu, dan unta-unta yang sesekali menggerutu di kandang.

Maka janganlah kau meremehkan silsilah dan keluarga, wahai saudaraku. Bukan untuk kita bangga-banggaan nasab seperti orang Jahiliah yang mengira darah biru bisa membeli surga. Tidak. Tetapi supaya kita tahu bahwa kebaikan itu menular dalam rumah. Siapa yang memiliki ipar seperti Waraqah, maka hatinya akan condong pada kitab. Siapa yang memiliki isteri seperti Khadijah, maka lemahnya akan jadi kuat. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.” (Surah At-Taubah: 71). Penolongan itu dimulai dari rumah. Dari dapur yang berasap, dari serambi yang berdebu, dari meja kayu tempat kitab dibuka. Waraqah membantu Khadijah tanpa pamrih. Khadijah membantu Muhammad tanpa pamrih. Dan hala mereka semua bersatu: menanti sang Pembawa Cahaya.

Marilah kita, wahai saudaraku, merawat keluarga kita dengan cara yang sama. Jadikanlah rumahmu seperti rumah keluarga ini: tempat di mana hati yang mencari Tuhan bisa bertanya, tempat di mana istri bisa mempercayakan suaminya kepada ipar yang alim, tempat di donde kebenaran lebih didengar daripada gosip tetangga. Sebab ketika Gua Hira akhirnya berbicara, hanya rumah yang telah lama menanti yang bisa menyambut suara itu dengan tenang. Rumah Khadijah dan Waraqah telah menanti. Dan sekarang, wahai saudaraku, malam itu tiba. Malam yang mengubah sejarah. Malam yang menggetarkan Jabal Nur. Marilah kita beranjak meninggalkan rumah-rumah batu ini untuk menaiki gunung, masuk ke dalam gua yang gelap, dan menyaksikan bagaimana langit pertama kali menyentuh bumi.

Wallahu alam.