Files
waraqah-bin-naufal/chapters/bab_02.md
T

7.7 KiB
Raw Permalink Blame History

BAB 2: Kaum Hanif — Pencari Tuhan yang Sejati

Wahai saudaraku.

Janganlah sekali-kali engkau menyangka bahwa pada zaman yang gelap itu, semua hati di Mekah tertutup rapat seperti batu. Tidak. Di tengah lautan arang yang membara, masih ada bintik-bintik api yang enggan padam. Mereka itu adalah orang-orang yang disebut kaum Hanif. Bukan sebuah golongan yang berkumpul di balik dinding, bukan pula partai politik yang punya bendera dan pengurus. Mereka adalah jiwa-jiwa terpencil, masing-masing mencari Tuhan dengan tangannya sendiri, dengan air matanya sendiri, tanpa guru yang datang membawa kitab suci baru. Mereka hanya membawa fitrah—cahaya yang Tuhan tanamkan dalam setiap dada sejak lahir. Sebagaimana sabda Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah…” Maka jiwa-jiwa Hanif inilah yang memelihara fitrah itu dengan setia, sementara kaumnya telah mengotori fitrah mereka dengan debu berhala dan darah minuman keras.

Siapa gerangan Hanif itu? Wahai saudaraku, kata ini berasal dari akar yang bermakna lurus, condong kepada kebenaran, tidak miring ke kanan atau ke kiri. Tetapi maknanya tidak cukup dijelaskan dengan kamus. Engkau harus melihat Ibrahim alaihis-salam, bapak para nabi, yang dijuluki Al-Quran dengan sebutan yang mulia: “Ibrahim bukanlah orang Yahudi dan bukan pula Nasrani, tetapi dia adalah seorang hanif yang berserah diri (muslim) dan bukan pula termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (Surah Ali Imran: 67). Bayangkan, wahai saudaraku, Ibrahim yang meninggalkan bapaknya dan kaumnya bukan karena dendam, melainkan karena cinta kepada Yang Maha Esa. Dia memandang bintang, lalu memandang bulan, lalu memandang matahari, dan setiap kali dia berkata, “Ini Tuhanku?” lalu dia menolaknya. Hingga akhirnya hatinya menembus lapisan langit dan berseru: “Sesungguhnya aku telah menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan suci dari kemuskrikan, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Surah Al-Anam: 79). Hanif itu adalah Ibrahim dalam jiwa. Hanif itu adalah orang yang berkata, “Aku tidak mau diputar oleh adat, aku tidak mau dijajah oleh nasab, aku hanya mau kepada Tuhan Yang Menciptakan.”

Di Mekah, sebelum matahari Islam terbit, ada seorang lelaki kurus yang bernama Zayd bin Amr bin Nufayl. Dialah yang paling sering disebut-sebut dalam riwayat-riwayat lama. Ia berdiri di depan Kabah sambil orang-orang Quraysh bersujud kepada Hubal, lalu berseru dengan suara lantang yang dipenuhi getaran hati: “Tidak ada yang patut disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya!” Orang-orang menertawakannya, menganggapnya gila. Tetapi Zayd tidak peduli. Ia menolak makan hewan yang disembelih atas nama berhala. Ia menyelamatkan bayi-bayi perempuan dari lubang tanah, membayar tebusan kepada ayah-ayah yang hendak menguburnya hidup-hidup, sambil berkata dengan mata berkaca-kaca, “Mengapa engkau bunuh? Barangkali dia akan melahirkan laki-laki yang mengagungkan nama Allah kelak!” Ia pergi ke Syam mencari agama Ibrahim, bertanya kepada para rahib, lalu kembali dengan hati yang masih juga tidak puas. Zayd bin Amr mati sebelum Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam diutus; tubuhnya dikuburkan di lembah yang terjal, tak jauh dari tempat orang-orang Quraysh melewati kafilah-kafilah mereka. Tetapi Nabi kita, ketika melintas nanti, akan berhenti dan bersabda atas kuburnya, “Dia akan dibangkitkan sebagai umat sendirian.” Sebegitu mulianya seorang Hanif di mata langit.

Tetapi jalan Hanif, wahai saudaraku, tidak selalu lurus menembus ke tujuan. Ada di antara mereka yang lelah mengembara di padang pasir kebodohan, lalu merasa haus dan minum dari telaga yang paling dekat, meski bukan telaga yang paling suci. Utsman bin Huwairits, seorang Quraysh yang juga merasa hampa, pergi ke negeri Romawi dan memeluk agama Nasrani. Ubaidullah bin Jahsy mengikutinya, menjadi Nasrani, bahkan menikahi Ummu Habibah—sebelum kemudian keduannya kembali bertemu dengan cahaya Islam. Ada pula yang mendekati agama Yahudi. Mengapa? Karena agama-agama itu membawa kitab, membawa tulisan, membawa nama-nabi. Sedangkan di Mekah, Quraysh hanya membawa dusta dan syair yang dilombakan di dinding Kabah. Hanif yang haus, wahai saudaraku, kadang-kadang tidak bisa menunggu telaga surgawi; mereka minum dari telaga duniawi terlebih dahulu. Tetapi hati mereka tetap mencari. Mereka masih merasa ada yang kurang. Seperti orang yang makan buah di malam lapar—kenyang perutnya, tetapi tidak tenang jiwanya.

Dan di sinilah letaknya hikmah besar. Hanif bukanlah sebuah mazhab yang sudah sempurna. Hanif adalah sebuah perjalanan. Ada yang berhenti di tengah jalan, ada yang tersesat ke gang kecil, tetapi langkah pertama mereka—memalingkan wajah dari berhala—adalah langkah yang dicatat Allah. Sebab Dia tidak memandang kesempurnaan jalan, melainkan kejujuran sang pejalan. “Barang siapa yang berbuat kebaikan seberat debu, baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia dalam keadaan beriman, maka baginya balasan yang baik.” (Surah An-Nisa: 97). Maka janganlah kita menghina mereka yang mencari, meski caranya berliku. Yang patut kita tangisi adalah mereka yang tidak mencari sama sekali—yang duduk di atas emas dan berhala, merasa sudah sempurna.

Di antara bara-bara api Hanif itulah, ada satu nama yang tidak sekadar merasa tidak puas, tetapi juga membuka kitab, menuntut ilmu, menulis dengan huruf Ibrani, membaca Taurat dalam bahasanya, membaca Injil dalam lembarannya. Ia tidak puas hanya dengan denyut hati; ia ingin bukti, ia ingin berita, ia ingin nama. Ia mendengar bahwa di dalam kitab-kitab itu ada nubuat tentang seorang nabi akhir zaman, ummi, yang akan lahir di tanah Arab. Dan setiap kali ia membaca, jantungnya berdegup kencang. Ada yang menyebutnya Nasrani karena ia bergaul dengan kitab-kitab itu. Ada pula yang menyebutnya Hanif merdeka karena hatinya tidak mau tunduk kepada gereja atau sinagoge. Apa pun namanya, wahai saudaraku, hatinya adalah hati Ibrahim. Namanya ialah Waraqah bin Naufal. Ia adalah Hanif, ya, tetapi Hanif yang bertaburkan tinta kitab. Hanif yang tidak hanya merasakan cahaya, tetapi juga ingin membedakan cahaya dari kilauan palsu.

Dari sini, wahai saudaraku, ambillah pelajaran. Allah tidak meninggalkan bumi ini tanpa saksi, meski saksi itu hanya segelintir. Di setiap zaman kegelapan, ada hati-hati yang terang. Tetapi hati yang terang saja tidak cukup. Zayd bin Amr mati sebelum Islam datang, meski fitrahnya suci. Utsman bin Huwairits mati di negeri orang dengan agama yang bukan agama Ibrahim. Hanif yang hanya mengandalkan perasaan, kadang tersesat ke jalan yang salah. Barang siapa yang ingin menemukan mutiara, ia harus menyelam. Barang siapa ingin menemukan kebenaran, ia harus membaca, menuntut, membedakan. Janganlah jadi orang yang hanya mengandalkan emosi tanpa ilmu, atau ilmu tanpa emosi. Waraqah tidak demikian. Ia punya hati yang lapar, dan ia punya kitab yang menjadi peta. Dan karena itu, ketika sang Nabi keluar dari Gua Hira dengan tubuh gemetar, hanya Waraqah yang langsung mengenal suara itu. Sebab ia telah menanti, bukan sekadar menanti dengan harapan kosong, tetapi menanti dengan bukti-bukti yang terkumpul di dadanya.

Maka marilah kita, wahai saudaraku, kini berpaling dari bara-bara api yang berserakan di padang, untuk berjalan mendekati satu api yang paling menyala. Marilah kita mengetuk pintu rumah seorang lelaki tua dari klan Banu Asad, yang sedang membaca kitab di tengah malam Mekah yang sunyi. Kita akan melihat, bagaimana seorang Quraysh bisa keluar dari lautan buta huruf, membawa keinsyafan yang jarang, dan menanti fajar dengan mata yang masih terbuka lebar.

Wallahu alam.