10 KiB
BAB 12: Pengajaran untuk Umat — Hikmah dari Kisah Waraqah
Wahai saudaraku.
Setelah kita berjalan sejauh ini, dari malah yang gelap di lembah Mekah hingga ke ruangan yang pelitanya meredup di rumah seorang tua yang mati sendirian, biarlah aku menarik nafas panjang bersamamu. Kita berdua tahu bahwa kisah Waraqah bin Naufal bukan kisah yang akan sering kau dengar di mimbar Jumat. Namanya tidak disebut dalam khutbah-khutbah yang bergema megah. Makamnya tidak dikunjungi rombongan bus yang membawa penumpang dari pelosok negeri. Bahkan batu nisannya, jika ada, sudah lama hancur menjadi debu yang bercampur dengan debu Mekah yang gersang. Tetapi wahai saudaraku, janganlah kita mengukur kebesaran dengan tinggi bangunan makam. Sebab kebesaran sejati itu tersimpan di dalam hati yang membaca, dan Waraqah telah meninggalkan hatinya untuk kita baca hingga hari kiamat kelak. Maka marilah, sebelum kita menutup kitab ini, aku merangkai untukmu beberapa untai mutiara dari lautan kisahnya. Ambillah yang cocok untuk kalungmu, simpanlah yang lain untuk anak-cucumu nanti. Sebab hikmah itu tidak basi oleh waktu.
Pertama: Ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu harus dicari, bukan ditunggu seperti tunggu hujan di musim kemarau.
Waraqah tidak duduk di serambi rumahnya sambil mengipasi tubuh yang sejuk, menunggu malaikat turun memberitahu. Tidak. Ia berjalan ke negeri Syam dengan telapak kaki yang memerah oleh pasir. Ia mendekati orang-orang Ahlul Kitab yang tidak berbahasa Arabnya, menundukkan kepala sebagai murid, membiarkan jarinya berlumuran tinta huruf Ibrani yang aneh. Allah Ta‘ala berfirman: “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (Surah Al-Mujadilah: 11). Wahai saudaraku, derajat itu tidak turun dari langit seperti salju. Ia naik tangga, anak tangga demi anak tangga, dengan keringat di dahi. Jika kau ingin mengenal kebenaran, janganlah engkau hanya mengandalkan emosi yang berkobar sebentar lalu padam. Jadilah seperti Waraqah: belajar membaca. Belajar membedakan. Belajar menanti dengan ilmu, bukan dengan angan-angan kosong. Di zaman kita ini, di mana suara paling keras bukan suara hati tetapi suara notifikasi ponsel, di mana orang lebih mudah menyebarkan gambar daripada membaca setengah halaman kitab, kita sangat membutuhkan Waraqah-Waraqah baru: orang-orang yang mau membaca Taurat dan Injil untuk memahami Al-Qur‘an, bukan untuk menyerang atau untuk menyesat, melainkan untuk melihat tali penghubung antara langit yang lama dengan langit yang baru. Ilmu yang luas adalah benteng. Tanpa benteng, hati kita mudah dirampas oleh setiap angin dusta yang berembus.
Kedua: Kebenaran itu satu sungai, bukan telaga-telaga yang terpisah.
Waraqah membaca Taurat dan Injil, tetapi hatinya tidak pernah terpecah. Ia tidak berkata, “Aku Yahudi,” atau “Aku Nasrani,” dengan fanatisme yang membutakan. Ia berkata, “Aku hanif.” Ia melihat bahwa Musa, Isa, dan Muhammad—meski pada waktu itu Muhammad masih belum diakui oleh umum—adalah anak sungai yang mengalir dari satu mata air: Allah. Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.” (Surah Al-An‘am: 20). Wahai saudaraku, ayat ini bukan hanya untuk kaum Yahudi dan Nasrani pada zaman dahulu. Ayat ini juga untuk kita, umat Islam, supaya kita tidak sombuk menganggap bahwa hanya kitab kita yang benar dan kitab-kitab lain hanya dusta. Tidak. Waraqah mengajarkan kita bahwa sebelum Al-Qur‘an turun, Taurat dan Injil adalah cahaya. Dan orang yang membaca cahaya itu dengan hati yang bersih, akan langsung mengenal cahaya yang paling sempurna ketika cahaya itu datang. Maka janganlah kita, wahai saudaraku, menjadi umat yang besar badannya tetapi sempit hatinya. Jadilah umat yang lapang dada, yang mengenal kebenaran dari mana pun asalnya, sebagaimana Waraqah mengenal Namus bukan dari gurunya di Mekah, melainkan dari kitab Musa yang telah ia genggam selama puluhan tahun.
Ketiga: Kebenaran sering datang dalam wujud yang tidak kita duga, dan ia butuh orang-orang yang hatinya telah dilatih untuk menyambutnya.
Ketika Muhammad keluar dari Gua Hira dengan tubuh gemetar, tidak ada yang mengenalnya. Orang-orang Quraysh masih tidur. Para pembesar masih bermimpi dengan unta dan perdagangan. Tetapi Waraqah, di sudut gelap rumahnya, langsung bangkit. Mengapa? Sebab hatinya telah lama disiapkan. Seperti ladang yang telah dicangkul dan disirami setiap malah, sehingga ketika benih jatuh, ia langsung tumbuh. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Surah Al-‘Ankabut: 69). Wahai saudaraku, mungkin saat ini kau sedang berjihad kecil di sudut hidupmu: menahan diri dari dusta, menahan diri dari riba, menahan diri dari pandangan haram, menahan lidah dari mengumpat. Janganlah kau anggap jihadmu sia-sia. Sebab jihad itu adalah cangkul yang sedang menyiapkan ladang hatimu. Suatu hari nanti, ketika cahaya datang dalam wujud keputusan yang sulit, dalam wujud ujian yang berat, dalam wujud panggilan yang menuntut engkau meninggalkan kesenangan, maka hatimu yang telah dilatih itu akan langsung mengenalnya. Ia akan berkata, sebagaimana Waraqah berkata, “Inilah yang kutunggu-tunggu.”
Keempat: Orang-orang besar itu tidak berdiri sendiri; mereka bertumpu pada pundak orang-orang yang tampak kecil.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah gunung. Tetapi gunung itu bertumpu pada tanah. Khadijah adalah tanah yang menopang di rumah. Waraqah adalah tanah yang menopang dengan ilmu. Tanah tidak dilihat orang, tidak difoto, tidak dilombakan. Tetapi tanpa tanah, gunung runtuh. Wahai saudaraku, janganlah kau meremehkan peranmu jika engkau bukan orang yang paling depan di barisan. Mungkin kau hanya ibu yang mengajari anakmu Al-Qur‘an di dapur sambil menunggu nasi matang. Mungkin kau hanya ayah yang bekerja sebagai buruh cuci, tetapi setiap riyalnya halal untuk menyekolahkan anak. Mungkin kau hanya penjaga toko kecil di sudut jalan, tetapi senyummu adalah satu-satunya senyum Islam yang dilihat oleh pembeli yang datang dalam keadaan putus asa. Engkau adalah Waraqah-Waraqah zaman ini. Engkau adalah penopang yang tidak tampak. Dan di hadapan Allah, penopang itu lebih mulia daripada pilar marmer yang hanya dipajang untuk dilihat orang. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” Maka Waraqah, dengan penunjukannya, mendapat pahala kenabian yang tidak pernah turun ke dadanya sendiri, tetapi turun ke hati Muhammad yang ia kuatkan.
Kelima: Keanehan di mata manusia adalah keindahan di mata Allah.
Waraqah dipanggil aneh. Waraqah dianggap sudah tua gila. Waraqah dicurigai telah menjadi Nasrani atau Yahudi. Tetapi apa pedulinya dia? Sebab ia sedang berdialog dengan langit, sementara orang-orang yang mengejeknya hanya berdialog dengan debu. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang di tengah-tengah, agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu.” (Surah Al-Baqarah: 143). Wahai saudaraku, umat yang di tengah-tengah itu bukan umat yang menuruti tren. Bukan umat yang berjubah hitam hari ini karena hitam sedang populer, lalu berjubah hijau besok karena hijau sedang naik daun. Tidak. Umat tengah-tengah adalah umat yang berdiri tegak sementara dunia miring ke kiri dan ke kanan. Ia terlihat aneh. Ia terliang tidak pas. Tetapi itulah posisi paling mulia. Jika engkau dipanggil kuno karena engkau tetap shalat tepat waktu di tengah rekan-rekanmu yang sibuk meeting. Jika engkau dipanggil aneh karena engkau menolak minuman keras di pesta. Jika engkau dipanggil radikal karena engkau berkata, “Aku hanya mau cara Allah.” Maka tersenyumlah. Sebab tersenyum Waraqah itulah yang menguasaimu dari seberang waktu.
Keenam: Mati sebelum melihat kemenangan bukan kegagalan; itu adalah keberkahan tersembunyi.
Waraqah meninggal sebelum Nabi diusir. Ia meninggal sebelum Madinah. Ia meninggal sebelum satu pun ayat Al-Qur‘an berkumandang di pasar Mekah. Tetapi Allah memberinya kematian dalam keadaan mengenal kebenaran. Dan ada yang lebih baik daripada itu? Allah Ta‘ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan beriman.” (Surah Ali ‘Imran: 102). Wahai saudaraku, tidak semua orang diberi umur panjang untuk melihat anak-anaknya jadi hafizh, untuk melihat masjidnya megah, untuk melihat agamanya menang. Ada orang-orang yang mati di tengah jalan, di tengah peperangan, di tengah penjara, di tengah kesendirian, dan dunia menganggap mereka gagal. Tetapi di hadapan Allah, mereka adalah pejuang yang diberhentikan di gerbang surga sebelum kaki mereka lelah berjalan. Waraqah tidak pernah melihat Badr. Tidak pernah melihat Uhud. Tidak pernah melihat Mekah dibersihkan dari berhala. Tetapi ia melihat wajah Nabi yang baru saja turun dari langit, dan itu sudah cukup sebagai mukjizat terakhir yang Allah hadiahkan kepadanya sebelum memanggilnya pulang.
Maka marilah kita, wahai saudaraku, yang mungkin merasa hidup ini berat, yang mungkin merasa doa kita belum juga dijawab, yang mungkin merasa kita terlalu tua atau terlalu lemah untuk melihat kebaikan yang kita tanam berbuah, ambillah pelajaran dari Waraqah. Tanamlah kebaikan dengan ikhlas. Bacalah kitab dengan tulus. Berdirilah di belakang kebenaran meski engkau sendirian. Dan percayalah, bahkan jika engkau mati sebelum fajar, fajar itu akan datang karena doa dan pembacaanmu. Engkau mungkin tidak akan melihatnya, tetapi namamu akan hidup di dalamnya.
Wahai saudaraku, kitab ini hampir usai. Kisah Waraqah telah kita lipat seperti tikar yang selesai dipakai untuk bersembahyang. Tetapi lipatan itu bukan akhir. Ia adalah awal untukmu. Keluarlah dari halaman-halaman ini, dan jadilah Waraqah di zamannmu sendiri. Sebab umat ini tidak kekurangan orang pandai berpidato, tidak kekurangan orang kaya berderma, tetapi sangat kekurangan orang-orang yang mau membaca kitab dengan hati yang lapar, dan sanggup berkata dengan keyakinan penuh ketika kebenaran datang, “Inilah yang diturunkan Allah. Inilah Namus. Dan aku bersaksi.”
Wallahu a‘lam.