12 KiB
BAB 11: Perdebatan Ulama — Apakah Waraqah Mukmin yang Pertama?
Wahai saudaraku.
Cobalah engkau bayangkan sebuah majelis pada malah yang sunyi di abad-abad yang lalu. Lilin minyak zaitun berdiri di atas dudukan tembaga, menghiasi dinding-dinding batu sebuah rumah di Baghdad, atau di Kufah, atau mungkin di pelosok Andalus. Beberapa lelaki berjubah putih duduk bersila, di depan mereka buku-buku terbuka: Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Kitab al-Maghazi karya Ibn Ishaq, At-Tabaqat karya Ibn Sa‘d. Debu waktu telah merasuk ke helai-helai kertas itu, tetapi mata para pembacanya masih terbelalak oleh satu pertanyaan yang tampaknya kecil, namun bisa membelah dada manusia menjadi dua jurang. Pertanyaan itu berbunyi: Siapakah mukmin yang pertama di muka bumi ini? Dan kalau pertanyaan itu ditarik lebih jauh ke dalam, maka akan muncul nama yang sering terlupakan, atau justru terlalu sering diperdebatkan: Waraqah bin Naufal.
Sebagian di antara para ulama itu mengangkat suaranya, tidak tinggi, sebab suara orang berilmu tidak perlu dipaksa untuk menonjol. Mereka berkata, “Tidak usah kita berpanjang lebar. Yang pertama beriman ialah Khadijah binti Khuwaylid, radhiyallahu ‘anha. Dialah yang menenangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika turun dari Gua Hira. Dialah yang berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak akan mempermalukanmu.’ Dan dialah yang membawa suaminya kepada Waraqah. Jika Khadijah belum yakin, apakah ia akan membawanya? Tentu tidak. Maka yakinlah Khadijah lebih dahulu daripada siapa pun.” Wahai saudaraku, argumen ini sangat kuat. Sebab dalam Shahih al-Bukhari, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Nabi bersabda tentang Khadijah dengan kalimat yang masih membuat air mata kita jatuh: “Dia mempercayaiku ketika orang lain mendustakanku…” Jadi, tutup diskusi? Belum tentu. Sebab dari sudut lain majelis, ada yang mengangkat jari, seorang yang lebih tua, yang matanya telah banyak membaca bukan hanya buku hadis tetapi juga jejak sejarah. Ia berkata, “Tetapi dengarkanlah. Sebelum Khadijah mengucapkan kepercayaan dengan lidahnya, bukankah Waraqah telah mengenal Namus yang diturunkan kepada Musa? Bukankah ia yang pertama kali mengatakan, ‘Inilah wahyu?’ Bukankah ia yang pertama kali membenarkan dengan dalil kitab, bukan hanya dengan kasih isteri?”
Maka mulailah perdebatan yang abadi, sebagaimana angin yang bertiup dari satu generasi ke generasi lain. Ada yang berkata, Waraqah adalah mukmin pertama sebelum pintu dakwah resmi dibuka. Ada yang berkata, ia hanya seorang hanif yang mati di ambang pintu, belum sempat memasuki rumah Islam yang lengkap dengan syariat. Ada yang menengah, berkata, “Ia mukmin, ya, tetapi ‘mukmin yang pertama’ adalah gelar yang dipersiapkan untuk Abu Bakar, atau untuk Khadijah, atau untuk Ali, sebab Waraqah wafat sebelum azan berkumandang, sebelum shalat lima waktu diwajibkan, sebelum puasa Ramadan disyariatkan. Bagaimana mungkin ia mukmin sempurna jika ia tidak sempat melaksanakan apa yang kita laksanakan?”
Wahai saudaraku, dengarkanlah suara hati di tengah gaduh suara lidah. Allah Ta‘ala berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu…” (Surah Al-Hujurat: 13). Ayat ini adalah tali penyejuk yang diturunkan langit ke tangan kita yang terlalu gemar mengkotak-kotakkan kehormatan. Yang paling mulia bukan yang paling pertama berdiri di barisan, melainkan yang paling dalam imannya di hadapan Tuhan. Tetapi karena manusia diciptakan dengan rasa ingin tahu, maka para ulama tetap mencari jawaban. Dan kita, sebagai pembaca sejarah, tidak boleh memandang perdebatan mereka dengan mata hina. Sebab perdebatan yang dilakukan dengan ilmu adalah perjalanan mencari kebenaran, asalkan tidak disertai oleh hati yang keras dan saling mengkafirkan.
Mari kita lihat lebih dekat. Menurut riwayat yang paling mashhur dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam Shahih al-Bukhari, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari Gua Hira dengan tubuh gemetar, diselimuti, lalu Khadijah menenangkannya. Khadijah adalah orang pertama yang melihat wajah nabi setelah wahyu, orang pertama yang menyentuh tangan yang baru saja digenggam oleh Jibril, orang pertama yang berkata dengan keyakinan, “Ini bukan setan, ini adalah rahmat.” Setelah itu, barulah Khadijah membawanya kepada Waraqah. Maka secara kronologis, iman Khadijah mekar di dalam dada sebelum Waraqah membuka mulutnya di rumah sederhana itu. Dalam hal ini, wahai saudaraku, siapa yang ingin mempertahankan Khadijah sebagai mukminah yang pertama, punya fondasi yang kokoh. Nabi sendiri yang bersaksi atas keutamaannya. Siapa kita untuk membantah?
Tetapi, dari kamar sebelah majelis itu, ada suara lain yang lembut namun menusuk. “Tetapi, wahai para guru, bedakanlah antara iman yang lahir dari kasih sayang isteri, dengan iman yang lahir dari pengenalan kitab. Khadijah beriman karena ia mengenal akhlak Muhammad selama lima belas tahun. Waraqah beriman karena ia mengenal tanda-tanda kenabian selama puluhan tahun. Khadijah beriman pada siapa yang membawa berita. Waraqah beriman pada apa berita itu, sebelum pembawa berita sempat menjelaskan. Bukankah itu pengakuan yang lebih mendalam? Bukankah itu saksi mata dari kitab yang turun sebelum Al-Qur‘an?” Maka majelis itu kembali sunyi. Ada yang mengangguk. Ada yang mengeleng. Yang jelas, Waraqah bukan orang yang berkata, “Aku percaya karena kau iparku.” Tidak. Ia berkata, “Aku percaya karena ini adalah Namus yang sama dengan Musa.” Ia membedakan antara cinta keluarga dengan cinta kebenaran. Dan dalam sejarah umat ini, pengakuan semacam itu jarang terjadi.
Kemudian naiklah suara ketiga, dari seorang yang membawa kitab catatan. “Perhatikanlah,” katanya, “bahwa Waraqah wafat sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk berdakwah secara terang-terangan. Ia wafat dalam masa fathrah, jeda antara wahyu pertama dan wahyu yang akan datang. Dalam riwayat-riwayat para penulis sirah, ada yang menyebut kematiannya hanya beberapa hari setelah pertemuan itu. Ada pula yang mengaitkan sunyi-nya langit sementara waktu dengan wafatnya Waraqah. Jika ia wafat sebelum diperintahkan shalat, sebelum diharamkan khamr, sebelum disyariatkan zakat, maka bagaimana hukumnya? Apakah ia termasuk ashabul-fathrah—orang-orang yang mati di antara dua rasul, atau di antara dua kitab, yang tidak diseru oleh syariat yang lengkap?”
Wahai saudaraku, inilah persoalan yang lebih dalam dari sekadar siapa yang pertama berdiri di barisan. Ini adalah persoalan teologis tentang rahmat Allah. Bagaimana dengan orang yang mengenal kebenaran sebelum kebenaran itu datang dalam bentuk yang sempurna? Bagaimana dengan orang yang berjalan di tengah kabut, menunggu fajar, lalu mati ketika cahaya baru saja menyingsing di ufuk, belum sempat membasahi seluruh wajahnya? Para ulama, dengan kelembutan hati mereka yang dipenuhi takwa, berkata dalam satu suara yang lantang: “Waraqah adalah mukmin. Ia meninggal dalam keadaan beriman.” Tidak ada perbedaan di sini. Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Ibn Ishaq, Ibn Sa‘d, at-Tabari—para penulis sejarah dan hadis yang menjadi rujukan umat ini—semuanya sepakat bahwa Waraqah meninggal dalam Islam, dalam keadaan yang diridhai Allah. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diabadikan dalam beberapa riwayat, telah bersaksi untuknya. Ada yang meriwayatkan bahwa ia dijanjikan surga. Ada yang menyebutkan pahala dua kali lipat, sebab ia menanti tanpa pernah melihat madinah, tanpa pernah mendengar azan, tanpa pernah melihat Ka‘bah dipenuhi orang-orang yang bersujud dengan tertib. Hatinya saja sudah bersujud.
Allah Ta‘ala berfirman: “Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan orang-orang mukmin juga. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka berkata, ‘Kami dengar dan kami taat. (Ya Tuhan kami) ampunilah kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.’” (Surah Al-Baqarah: 285). Wahai saudaraku, ayat ini bukan hanya untuk kita yang shalat lima waktu dan berpuasa Ramadan. Ayat ini juga untuk Waraqah, yang hatinya telah mengucapkan, “Kami tidak membeda-bedakan antara rasul-rasul-Mu,” sebelum Ia sempat melihat wajah Ali yang berkilau, sebelum Ia sempat melihat Abu Bakr yang menangis di Gua Hira nanti. Waraqah telah beriman kepada Musa. Waraqah telah beriman kepada Isa. Dan ketika Muhammad datang, hatinya yang telah dilatih oleh Taurat dan Injil langsung mengenal: inilah penutup. Maka bagaimana mungkin ia bukan mukmin?
Tetapi, wahai saudaraku, biarlah kita tidak terjebak dalam perdebatan gelar seperti anak-anak yang berebut gendang di pasar. Siapa yang pertama, siapa yang kedua, siapa yang ketiga—semua itu adalah catatan sejarah yang penting untuk dipelajari, tetapi tidak untuk dijadikan senjata saling menusuk. Jika Khadijah adalah mukminah pertama, maka itulah kehormatan yang Allah tetapkan untuknya. Jika Abu Bakar adalah mukmin pertama dari kalangan laki-laki yang hidup untuk menyaksikan dakwah umum, maka itulah kehormatan yang Allah tetapkan untuknya. Jika Ali adalah mukmin pertama dari kalangan anak-anak yang dibesarkan dalam pangkuan kenabian, maka itulah kehormatan yang Allah tetapkan untuknya. Dan jika Waraqah—Waraqah yang tua, yang rabun, yang meninggal di ambang pintu—juga tercatat di lauhul mahfuzh sebagai salah satu yang pertama mengenal Namus, maka biarlah itu menjadi rahmat khusus yang tidak perlu kita rebut satu sama lain.
Yang ingin kusampaikan kepadamu di sini, wahai saudaraku, adalah sesuatu yang lebih dalam daripada urutan nomor. Waraqah mengajarkan kita bahwa kebenaran itu bisa dikenal sebelum kebenaran itu tampak jelas. Ia mengajarkan bahwa seorang yang hidup di tengah kegelapan Jahiliah, yang dicemoohkan sebagai “Nasrani” atau “tukang tulis aneh,” bisa jadi lebih dekat kepada Allah daripada orang yang berdiri paling depan di saf Ka‘bah sambil hatinya kosong. Ia mengajarkan bahwa jalan menuju iman bukan hanya melalui telinga yang mendengar dakwah, tetapi juga melalui mata hati yang membaca, menanti, dan menyelami. Sebab itu, janganlah engkau meremehkan orang yang berbeda jalan denganmu, asalkan jalan itu menuju kebenaran. Janganlah engkau berkata, “Kamu tidak ikut shalat Jumat bersamaku, maka kamu bukan dari golonganku.” Sebab siapa tahu, di sudut gelap sana, ada seorang Waraqah yang sedang membaca kitab dengan hati yang lebih bersih daripada hati kita yang seringkali hanya mengulang bacaan tanpa merenungkan makna.
Maka kalau ditanya kepada hatiku, bukan kepada lidahku, apakah Waraqah mukmin yang pertama? Aku akan menjawab dengan tersenyum, sebagaimana tersenyumnya lelaki tua itu di pembaringannya: “Waraqah adalah mukmin yang pertama di antara mereka yang mengenal Muhammad sebelum Muhammad mengenal dirinya sendiri. Ia adalah mukmin yang pertama di antara para pembaca kitab yang menunggu penutup. Ia adalah mukmin yang pertama di antara orang-orang tua yang matanya rabun tetapi hatinya celik.” Dan itu sudah cukup. Tidak perlu gelar. Tidak perlu piala. Sebab di hadapan Allah, yang dicari bukan siapa yang paling cepat berdiri, melainkan siapa yang paling tegak berdiri dalam kebenaran hingga akhir hayatnya.
Marilah kita, wahai saudaraku, keluar dari majelis perdebatan itu. Biarlah buku-buku tetap terbuka di atas meja, biarlah para ulama tetap berdiskusi dengan santunnya, sebab diskusi ilmiah adalah tanda umat yang hidup. Tetapi kita, dengan hati yang telah diisi oleh kisah Waraqah, akan melangkah ke bab terakhir. Kita akan mengambil hikmah yang paling penting dari semua ini: bagaimana seorang tua yang mati sendirian di Mekah bisa mengajarkan umat yang berjumlah miliaran orang, hingga hari kiamat kelak.
Wallahu a‘lam.