Files

12 KiB

BAB 9: "Inilah Namus yang Diturunkan kepada Musa"

Wahai saudaraku.

Ada kalanya dalam hidup manusia, satu kalimat saja cukup untuk mengubah arah sungai sejarah. Bukan kalimat yang panjang, bukan pidato yang berapi-api, bukan syair yang dilombakan di dinding Ka'bah. Hanya satu kalimat pendek, keluar dari mulut seorang tua yang hampir buta, duduk di atas tikar usang di sudut rumah batu Mekah. Tetapi kalimat itu adalah kunci yang membuka pintu antara langit dan bumi. Kalimat itu menyambungkan wahyu yang baru turun dengan kitab yang telah turun sejak enam ratus tahun sebelumnya. Kalimat itulah yang keluar dari bibir Waraqah bin Naufal ketika Muhammad bin Abdullah shallallahu 'alaihi wa sallam selesai bercerita tentang apa yang dialaminya di Gua Hira.

Bayangkanlah suasana di dalam rumah itu sejenak. Pelita bergetar di dinding, seakan-akan angin malam yang masuk dari celah-celah kayu ikut menahan napas. Khadijah duduk tegak, matanya terpaku pada Waraqah, menunggu. Muhammad duduk di seberang, tubuhnya masih lemas, tetapi jantungnya mulai tenang sebab ia merasa bahwa orang di hadapannya bukan orang sembarangan. Ini adalah Waraqah, si pembaca kitab, si penuntun yang telah pulang dari negeri Syam membawa Taurat dan Injil di dadanya. Dan Waraqah, setelah mendengarkan cerita dari awal sampai akhir tanpa menyela, mengangkat kepalanya. Matanya yang rabun mencoba menatap ke arah Muhammad, tetapi sebenarnya ia menatap jauh melampaui ruangan itu, melampaui batu-batu Mekah, melampaui bintang-bintang yang bergantung di langit. Ia berkata dengan suara yang tidak tinggi, namun setiap hurufnya jatuh seperti batu karang di dasar lautan: "Hadha an-Namus alladzi anzallahu 'ala Musa." Inilah Namus yang diturunkan Allah kepada Musa.

Wahai saudaraku, dengarkanlah bunyi kalimat itu dalam hatimu. Sebelum kalimat itu, Muhammad adalah seorang lelaki yang gemetar, yang baru saja turun dari gunung dengan pengalaman yang tidak bisa dijelaskan kepada siapa pun di pasar. Sesudah kalimat itu, Muhammad adalah nabi. Bukan pengakuan dari orang banyak, bukan pengakuan dari penguasa, bukan pengakuan dari pena sejarawan. Tetapi pengakuan dari seorang yang telah belajar membaca tanda-tanda langit selama puluhan tahun. Waraqah tidak berkata, "Ah, mimpi yang indah." Tidak. Ia berkata, "Ini Namus." Dan apa itu Namus? Wahai saudaraku, Namus dalam bahasa Arab bermakna rahasia yang besar, rahasia yang disampaikan dengan perantaraan malaikat pembawa wahyu. Waraqah, yang telah membaca Taurat dalam bahasa Ibraninya, mengenal istilah ini. Ia tahu bagaimana Musa 'alaihis-salam, ketika berada di lembah Thuwa, melihat api di semak dan mendengar suara yang bukan suara angin. Itulah Namus. Malaikat yang membawa firman Allah, atau lebih dalam lagi, wahyu itu sendiri yang turun dengan keagungan yang menakjubkan. Maka ketika Waraqah menyebut "Namus," ia bukan hanya memberi nama pada pengalaman Muhammad. Ia sedang mengatakan, "Engkau telah mengalami apa yang dialami oleh Musa. Engkau telah dipilih oleh Tuhan Yang Menciptakan langit dan bumi."

Allah Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: "Dan siapakah yang lebih benar ucapannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?'" (Surah Fussilat: 33). Waraqah pada malam itu adalah orang yang paling benar ucapannya, sebab ucapan itu keluar dari mulut yang dipenuhi ilmu dan hati yang dipenuhi kejujuran. Ia tidak berkata dengan lidah yang lapar popularity. Ia berkata dengan lidah yang telah lama membaca tentang para nabi yang diusir, para rasul yang disalibkan dalam hati sebelum disalibkan di kayu, dan para pencari kebenaran yang mati sendirian di padang gurun. Maka ketika ia melihat Muhammad, ia melihat gambaran yang paling ia kenal dari kitab-kitab suci: gambaran seorang manusia biasa yang dipilih oleh langit untuk membawa berat yang tidak sanggup dijalankan oleh gunung-gunung.

Kemudian, sebagaimana yang diabadikan dalam riwayat Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha yang termasyhur dalam Shahih al-Bukhari, Waraqah tidak berhenti di situ. Pengakian itu, meski sudah cukup untuk menggembirakan hati, dibarengi oleh sebuah prediksi yang keluar dari pengetahuannya tentang sejarah para nabi. Ia berkata kepada Muhammad dengan nada yang getar, penuh kasih sayang tetapi juga penuh peringatan: "Ya laitani kuntu fataan, fa akuna ila waqt yakhrujuka qawmuka, fa akuna ma'aka hizban qawiyyan." Alangkah baiknya seandainya aku masih muda, supaya aku bisa hidup sampai pada saat kaummu mengusirmu, maka aku akan menjadi pendukungmu yang kuat.

Wahai saudaraku, renungkanlah janji ini. Seorang tua yang hampir buta, yang klan-nya adalah Banu Asad dari Quraysh yang sama dengan kaum Muhammad, berkata, "Aku akan melawan kaumku sendiri untuk berdiri di belakangmu." Ia tidak berkata, "Aku akan berusaha melerai." Tidak. Ia berkata, "Aku akan menjadi hizb qawiyy — pasukan yang kuat." Pasukan bukan dari seribu tentara berkuda, melainkan pasukan dari satu jiwa yang telah dipersenjatai oleh ilmu. Waraqah tahu bahwa jalan kebenaran selalu dihiasi dengan batu-batu permusuhan. Ia telah membacanya dalam Taurat: bagaimana Firaun mengusir Musa, bagaimana Bani Israil berkhianat kepada nabi demi nabi, bagaimana para pendeta Yahudi mengejar Isa dari kota ke kota. Maka ia tahu, dengan kepastian yang tidak bisa digoyahkan oleh harapan palsu, bahwa Quraysh tidak akan menerima Muhammad dengan bunga dan kemenyan. Quraysh akan menerima Muhammad dengan ejekan, dengan batu, dengan pengusiran, dan mungkin dengan pedang.

Muhammad, yang pada waktu itu masih belum merasakan sepahit-pahitnya permusuhan, bertanya dengan heran, sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah: "Amukhrijiyahum qawmi?" Apakah mereka akan mengusirku? Suara itu keluar dari mulut seorang laki-laki yang baru saja disanjung oleh seluruh Mekah sebagai al-Amin. Bagaimana mungkin orang yang paling dipercaya diusir? Bagaimana mungkin orang yang paling dicintai dihalau? Tetapi Waraqah menjawab dengan kepastian yang mengetuk dada: "Na'am. Ma ja'a ahadun bi-mithla ma ji'ta bihi illa usiya." Ya. Tidak pernah seorang pun datang membawa seperti apa yang engkau bawa ini kecuali ia diperlakukan dengan permusuhan.

Wahai saudaraku, ini bukan ramalan tukang sihir yang merabu-rabu nasib. Ini adalah pengetahuan tentang sunnatullah, hukum yang berlaku sejak Adam sampai Isa. Setiap kali kebenaran datang dalam bentuk yang murni, kebatilan akan berkumpul untuk melawannya. Sebagaimana firman Allah: "Demikianlah setiap kali Kami mengutus seorang rasul kepada suatu negeri sebelum engkau (diutus), orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami hanya mengikuti jejak mereka saja.'" (Surah Az-Zukhruf: 23). Waraqah telah membaca ayat-ayat seperti ini, bukan dalam Al-Qur'an yang belum turun, tetapi dalam semangat yang sama yang mengalir di Taurat dan Injil. Ia tahu bahwa kaum yang hidup mewah, yang berbangga dengan nasab dan berhala, tidak akan rela kehilangan kuasa mereka. Maka pengusiran bukan kemungkinan; pengusiran adalah kepastian.

Tetapi di balik prediksi yang kelam itu, ada sinar yang menembus. Waraqah berkata pula: "Wa in yusbirni Allah bi-yawmi yakhrujuka, fa innani la-hizun laka hizban qawiyyan." Dan jika Allah memberiku umur panjang hingga hari engkau diusir, maka sesungguhnya aku akan menjadi pendukung yang sangat kuat bagimu. Waraqah tidak tahu apakah ia akan hidup sampai hari itu. Ia sudah tua. Matanya rabun. Tubuhnya rapuh. Tetapi keinginannya untuk berdiri di belakang kebenaran tidak rapuh. Ia ingin menjadi seperti Harun yang menemani Musa, seperti para pengikut Isa yang tidak lari ketika para pendeta datang. Maka dari mulut seorang tua yang hampir buta, keluarlah semangat jihad yang tidak kalah berkobar dari semangat para pemuda yang membawa pedang. Sebab jihad yang sebenar bukan hanya dengan pedang, tetapi dengan pengakuan, dengan penentangan terhadap kebatilan, dengan keberanian untuk berkata, "Saya di sini, saya percaya," ketika seluruh dunia berkata, "Kami tolak."

Khadijah, yang menyaksikan dialog ini, air matanya jatuh. Bukan air mata takut, melainkan air mata orang yang melihat seluruh hidupnya dipersatukan oleh satu titik cahaya. Ia menikahi Muhammad karena akhlaknya. Ia membawanya kepada Waraqah karena ilmunya. Dan sekarang, keduanya bertemu dalam pengakian yang sama: bahwa suaminya adalah pembawa wahyu, dan bahwa jalan di depan akan berdarah, tetapi ada orang yang rela berdarah bersamanya. Khadijah berkata dalam hati, atau mungkin terucap dari bibirnya yang bergetar, "Ya Allah, jadikanlah aku juga hizban qawiyyan baginya. Jadikanlah aku Khadijah yang tetap di sisinya ketika semua orang pergi."

Wahai saudaraku, ambillah dari kalimat Waraqah ini beberapa butir permata yang tidak boleh hilang. Pertama: ilmu yang benar akan membimbing hati untuk mengenal kebenaran, meski mata telah rabun. Waraqah hampir buta, tetapi hatinya melihat dengan jelas. Jadilah orang yang buta mata tetapi celik hati, jangan sebaliknya. Kedua: pengakuan kebenaran butuh keberanian untuk menghadapi konsekuensi. Waraqah tidak hanya berkata, "Aku percaya." Ia berkata, "Aku akan berdiri di belakangmu meski kaumku mengusirmu." Ketiga: jalan para nabi adalah jalan yang sama: diusir, difitnah, disakiti. Maka janganlah engkau heran jika engkau menemui batu di jalan kebenaran. Yang mengherankan adalah jalan kebatilan yang dipenuhi bunga tanpa duri. Keempat: jika engkau tidak bisa menjadi pejuang dengan pedang, jadilah pejuang dengan lidah yang benar. Waraqah tidak punya pedang, tetapi ia punya kalimat yang menjadi tameng pertama bagi kenabian.

Allah Ta'ala berfirman: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik." (Surah Al-'Ankabut: 69). Waraqah telah berjihad selama puluhan tahun: jihad menuntut ilmu, jihad membaca kitab dalam bahasa asing, jihad menahan ejekan orang-orang Quraysh yang menyebutnya aneh. Maka pada malam itu, Allah menunjukkan jalan-Nya kepadanya dengan cara yang paling indah: memperlihatkan wajah nabi yang ia nanti-nantikan, langsung di depan matanya yang rabun.

Maka berakhirlah pertemuan itu. Muhammad dan Khadijah berdiri untuk pulang. Waraqah duduk sendirian di atas tikarnya, atau mungkin Hala istrinya sudah bangun dan duduk di belakangnya menyaksikan seluruh peristiwa tanpa bersuara. Di dalam dada Waraqah, ada kelegaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia telah menanti. Ia telah membaca. Ia telah bersabar. Dan sekarang, ketika cahaya telah datang, ia merasa bahwa tugasnya hampir selesai. Ia berkata dalam hati, "Ya Allah, terima kasih karena Engkau memperlihatkan kepadaku hari ini sebelum Engkau membutakan mataku selamanya. Terima kasih karena Engkau membiarkanku hidup cukup lama untuk mengenal Namus yang baru turun. Sekarang, biarlah aku pergi dengan tenang."

Tetapi biarlah aku, wahai saudaraku, menambahkan satu nasihat lagi sebelum kita meninggalkan rumah sederhana ini. Banyak di antara kita yang membaca sejarah Nabi dengan mata yang hanya melihat Nabi. Kita melihat Muhammad, kita melihat Khadijah, dan kita berhenti. Tetapi sejarah itu lebih luas. Ada Waraqah di sudutnya. Ada tikar usang yang tidak kita lihat. Ada pelita redup yang tidak menerangi siapa pun kecuali dirinya sendiri. Itulah sebenarnya gambaran umat ini. Tidak semua orang menjadi Nabi. Tidak semua orang menjadi Khadijah yang terkenal. Tetapi ada Waraqah-Waraqah di sudut-sudut: mereka yang membaca, mereka yang menanti, mereka yang ketika cahaya datang berkata, "Aku mengenalnya, sebab aku telah lama belajar." Merekalah yang menjadi fondasi. Merekalah yang menyembunyikan batu-batu pertama di bawah tanah, sebelum bangunan megah didirikan di atasnya. Janganlah kau meremehkan peran pembaca kitab di sudut gelap. Sebab tanpa mereka, cahaya kadang-kadang turun tetapi tidak ada yang bisa mengenalnya.

Waraqah telah berkata kalimatnya. Namus telah disebutkan. Pengakian telah terjadi. Sekarang, wahai saudaraku, tinggal menunggu satu hal lagi: pengakian itu akan diuji oleh waktu, dan Waraqah akan diuji oleh usia. Maka marilah kita bersiap untuk menyaksikan bagaimana seorang tua yang telah menemukan kebenaran, menghadapi ajal yang datang lebih cepat daripada pengusiran yang ia prediksikan. Marilah kita ke bab berikutnya: air mata di ujung usia.

Wallahu a'lam.