Files

9.6 KiB
Raw Permalink Blame History

BAB 4: Perjalanan Mencari Kebenaran — Taurat dan Injil

Wahai saudaraku.

Ada kalanya hati manusia bagaikan burung yang dipagari sangkar emas. Pagar itu indah dipandang mata, tetapi bagi sayap yang ingin menggapai awan, emas itu adalah penjara. Demikianlah hati Waraqah bin Naufal di tengah keluarga besar Quraysh. Ia lahir dari klan Banu Asad, diselimuti nama mulia Qusayy, dikelilingi oleh darah bangsawan Mekah. Namun semakin ia besar, semakin ia merasa sesak. Hubal dan berhala-berhala yang berjejer di sekitar Kabah bukanlah tuhan-tuhan yang bisa ia sembah dengan tenang. Ia mendengar bisikan di dalam dadanya—bisikan fitrah—yang berkata, “Ini bukan jalan Ibrahim. Ini bukan agama Ismail.” Tetapi di mana jalan yang benar? Di Mekah, tidak ada yang bisa menjawab. Maka Waraqah memutuskan sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh seorang Quraysh: ia meninggalkan kota kelahirannya, bukan untuk berdagang unta atau mencari emas, melainkan untuk mencari Tuhan.

Allah Taala berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Surah Al-Ankabut: 69). Wahai saudaraku, ayat ini bukan hanya bunyi; ia adalah hukum alam yang berlaku di setiap zaman. Barang siapa yang benar-benar berjalan, niscaya Allah bukakan pintu. Waraqah berjalan. Entah berapa lama perjalanannya, entah berapa kali ia melewati lembah-lembah gersang dan pasir-pasir yang membakar telapak kaki, tetapi riwayat-riwayat lama mengabarkan bahwa ia sampai ke negeri Syam—negeri yang waktu itu masih di bawah naungan Romawi, negeri yang jalan-jalannya pernah dipijak oleh kaki para nabi. Di sana, ada orang-orang yang menyimpan kitab. Di sana, ada para rahib yang tinggal di biara-biara gunung, dan ada orang-orang Yahudi yang di kota-kota mereka masih membaca Taurat dengan lisan yang fasih. Waraqah mendekati mereka bukan sebagai turis, melainkan sebagai murid yang lapar. Ia ingin belajar. Ia ingin tahu apa yang tertulis dalam kitab-kitab yang dikatakan datang dari langit.

Di sinilah letak keajaiban yang tidak banyak orang ketahui, wahai saudaraku. Seorang Arab Quraysh yang buta huruf menurut adatnya, tapi berbakat menurut fitrahnya, mulai menuntut ilmu pada orang-orang Ahlul Kitab. Ia belajar bahasa Ibrani—bahasa yang huruf-hurufnya tidak seperti tulisan Arab, bahasa yang meliuk-liuk seperti sungai kecil di tengah batu-batu keras. Dengan tekad yang membuat gurunya heran, Waraqah mempelajari Taurat, kitab yang diturunkan kepada Musa alaihis-salam, dan Injil, kabar gembira yang dibawa oleh Isa alaihis-salam. Ia tidak hanya mendengarkan bacaan dari mulut ke mulut sebagaimana kebiasaan bangsa Arab menghafal syair. Tidak. Ia membaca sendiri dari lembaran-lembaran yang usang. Dan karena ia begitu asyik dengan huruf-huruf itu, ia sampai-sampai menulis bahasa Arabnya dengan huruf Ibrani—sebuah keanehan yang membuat orang-orang Mekah ternganga ketika mereka melihat tulisannya kelak. “Apa ini?” tanya mereka. “Ini adalah tulisan orang yang pergi terlalu jauh,” jawabnya dalam hati. Tetapi Waraqah tahu, pergi jauh itu lebih baik daripada duduk diam dalam kebodohan.

Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: “Dialah yang telah mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah, sedangkan sebelumnya mereka dalam kesesatan yang nyata.” (Surah Al-Jumuah: 2). Ayat ini turun nanti untuk Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam, tetapi rohnya sudah beredar di udara sebelum ayat itu turun. Waraqah adalah orang buta huruf yang telah mulai melihat. Ia telah menemukan kitab. Ia telah menemukan hikmah. Tetapi ia belum menemukan pembawa kitab yang baru. Dan justru karena itulah, ia terus mencari.

Dalam lembaran Taurat, Waraqah menemukan kisah-kisah yang menghujam dadanya. Ia membaca tentang penciptaan langit dan bumi dengan kalimat yang begitu agung, tentang Musa yang berdialog langsung dengan Tuhan, tentang umat yang terus menerus berkhianat tetapi Tuhan tetap mengirimkan nabi demi nabi. Kemudian ia membuka Injil, dan di sana ia mendengar suara Isa alaihis-salam yang lembut namun penuh kekuatan, membawa rahmat dan penyembuhan. Tetapi yang paling membuat jantungnya berdebar-debar bukanlah kisah-kisah lama itu. Melainkan nubuat. Nubuat tentang seorang yang akan datang sesudah Isa. Seorang Ahmad. Seorang Parakletos—pelipur lara, penghibur, yang akan membawa kebenaran sempurna. Waraqah membaca dengan mata yang semakin berkaca-kaca. “Bolehkah ini?” bisiknya pada dirinya sendiri di malam-malam sunyi. “Bolehkah yang dinubuatkan itu adalah seorang dari bangsaku sendiri? Dari tanah Arab yang kering ini?” Ia teringat bahwa Ibrahim alaihis-salam pernah berdoa di lembah yang sama: “Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah…” (Surah Al-Baqarah: 129). Waraqah merasa, doa Ibrahim itu belum usai terjawab. Ada yang masih ditunggu oleh langit.

Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa ilmu yang dicari dengan jujur tidak pernah sia-sia. Ada orang yang belajar untuk jadi kaya, dan ilmunya menjadi racun. Ada orang yang belajar untuk jadi terpandang, dan ilmunya menjadi tali kekang yang membelenggu orang lain. Tetapi ada juga orang yang belajar untuk mencari Tuhan, dan ilmunya menjadi lentera yang tidak pernah padam. Waraqah bukanlah rahib yang menutup diri di biara. Ia bukan pula pendeta yang berkotbah di mimbar. Ia adalah seorang Quraysh yang pulang ke Mekah dengan hati yang penuh tetapi tetap rendah. Ia tidak berteriak di pasar, “Aku menemukan kebenaran!” Ia hanya duduk di rumahnya, di dekat istrinya yang mulia Hala binti Khuwaylid, dan terus membaca. Ia menunggu. Ia menyaksikan kaumnya berlari mengelilingi berhala, dan hatinya berkata, “Tunggu. Sabar. Yang kau baca dalam kitab itu pasti akan datang. Sebab Allah tidak pernah meninggalkan janji-Nya.”

Sabda Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan dalam kitab Shahih Muslim: “Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan mencabutnya dari dada manusia, tetapi Dia mengangkat ilmu dengan mengambil para ulama…” Wahai saudaraku, Waraqah pada waktu itu adalah ulama yang tersisa di tengah bangsa yang buta huruf. Bukan ulama yang banyak murid, tetapi ulama yang banyak buku. Ia tidak mengajarkan kepada orang banyak, sebab siapa yang mau belajar? Orang-orang Quraysh lebih suka mendengarkan syair pemenang lomba daripada bacaan kitab suci. Tetapi Waraqah tidak putus asa. Ia memahami firman Allah: “Tidakkah berhati-hatilah orang-orang yang beriman, bahwa jika Allah menghendaki, tentu Dia akan memberi petunjuk kepada semua manusia.” (Surah Ar-Rad: 31). Allah memberi petunjuk sesuai takarannya. Bukan semua orang buta huruf harus jadi penulis. Tetapi butuh ada satu-dua mata yang melihat, supaya ketika cahaya datang, ada yang bisa mengenalnya. Waraqah adalah salah satu dari sedikit mata itu.

Ketika malam semakin larut di rumahnya yang sederhana, pelitanya menyip, dan angin dari lembah mulai menerobos celah-celah kayu, Waraqah terkadang menutup kitabnya dan menatap langit. Bintang-bintang di atas Mekah tidak berbeda dengan bintang-bintang di atas Syam. Tuhan Yang Satu itu juga tidak berbeda. Tetapi di Mekah, tidak ada yang menatap bintang dengan mata hati. Mereka menatapnya hanya untuk menentukan arah kafilah. Waraqah menatapnya untuk menentukan arah jiwa. Ia telah membaca bahwa nabi-nabi dahulu diusir, disakiti, dianggap gila oleh kaumnya. Ia tahu bahwa jalan kebenaran tidak pernah lurus seperti jalan perdagangan dari Mekah ke Yaman. Jalan kebenaran selalu berliku, naik ke gunung, turun ke lembah, masuk ke gua-gua yang gelap. Dan Waraqah, di ujung usianya, telah bersedia. Ia berkata dalam hati, atau mungkin kepada Hala, istrinya, “Jika yang dinubuatkan itu datang, dan jika ia diusir oleh kaumnya sebagaimana Musa diusir, sebagaimana Isa dikejar, maka biarlah aku masih hidup untuk berdiri di belakangnya. Biarlah aku menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan.”

Wahai saudaraku, inilah buah dari perjalanan mencari kebenaran. Bukan hanya pengetahuan yang bertambah, tetapi keberanian yang tumbuh. Waraqah tidak perlu pasukan. Ia tidak punya harta yang melimpah untuk membeli tentara. Ia hanya punya kitab yang telah dibacanya berulang kali, dan hati yang telah disucikan oleh penantian. Dan ketika seseorang telah benar-benar menemukan Tuhan di dalam kitab-Nya, maka ia tidak lagi takut pada kehinaan dunia. Ia tidak lagi takut disebut aneh, disebut Nasrani, disebut Yahudi, atau disebut gila oleh kaum yang buta huruf. Sebab ia telah membaca bahwa firman Tuhan selalu dianggap gila oleh orang-orang yang tidak membaca. Allah berfirman: “Dan demikianlah Kami tidak mengutus sebelum engkau seorang pemberi peringatan pun di negeri-negeri, melainkan orang-orang yang berkeluarga di antara mereka berkata, Sesungguhnya kami melihat bapak-bapak kami menyembah yang demikian ini, dan sesungguhnya kami hanya meniru mereka saja.’” (Surah Az-Zukhruf: 23). Waraqah menolak meniru. Ia memilih membaca. Dan pembaca itulah yang kelak akan mengenal suara langit ketika suara itu akhirnya turun di Gua Hira.

Maka marilah kita, wahai saudaraku, belajar dari tekad lelaki tua ini. Janganlah kita berpuas diri dengan sedikit ilmu. Janganlah kita menganggap diri kita sudah cukup benar sementara mata hati kita masih belum pernah membaca kitab-kitab yang menjadi sumber cahaya. Dan janganlah kita takut disebut aneh karena kita rajin mencari Tuhan. Sebab pada akhirnya, bukan suara orang banyak yang menentukan kebenaran, melainkan seberapa jauh kau rela berjalan untuk menemukan-Nya.

Wallahu alam.