**BAB 1: Zaman Jahiliah — Malam yang Gelap di Mekah** Wahai saudaraku. Cobalah kau tutup mata sejenak, dan biarkan imajinasimu membawa kau ke sebuah lembah yang berkerumun batu-batu hitam dan pasir yang gersang. Angin malam dari timur membawa debu yang menggigit pipi, sementara langit di atasnya terhampar begitu tinggi, penuh bintang-bintang yang diam saja menyaksikan. Di lembah itulah Mekah berdiri. Bukan kota kebun yang diliputi hijau pohon kurma seperti Yathrib yang kemudian kamu kenal sebagai Madinah. Mekah adalah pusat perdagangan, tempat persinggahan kafilah-kafilah unta dari Yaman yang membawa rempah-rempah, dan dari Syam yang membawa kain beledu serta pedang. Mereka datang bukan sekadar untuk berjual beli, wahai saudaraku, tetapi untuk mengunjungi sebuah Bait tua yang konon didirikan oleh Ibrahim Khalilullah dan putranya Ismail ‘alaihimas-salam. Tetapi lihatlah, sungguh menyedihkan! Di sekeliling rumah suci itu, berjajar tiga ratus enam puluh berhala dari kayu dan batu. Yang tertinggi, Hubal, berdiri menjulang di dalam Ka‘bah, dilengkapi dengan tangan emas yang patah dan diganti oleh Quraysh dengan tangan emas lain, seolah-olah berhala itu punya kekuasaan. Di luar, ada Lata, ‘Uzza, Manat, dan lain-lain yang mereka sebut “anak perempuan Allah,” na‘udzubillah. Allah berfirman dalam kitab-Nya, seakan-akan firman itu turun khusus untuk malam-malam ini: *Dan mereka telah menjadikan malaikat-malaikat mereka — yang mereka itu adalah hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pemurah — sebagai golongan perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu, sehingga kesaksian mereka itu akan ditulis?* (Surah Az-Zukhruf: 19). Demikianlah kebodohan yang dibungkus dengan kebanggaan. Ketika senja merunduk di balik Jabal Abu Qubais, maka mulailah yang namanya ibadah — jika kata itu masih layak dipakai — menggeliat. Genderang dipukul, suling ditiup, dan kaum lelaki serta perempuan berlarian mengelilingi Ka‘bah dengan telanjang, atau separuh telanjang, sambil bertepuk tangan dan bersiul. Mereka berlari antara Shafa dan Marwah, tapi bukan dalam rangka mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa, melainkan meniru nenek moyang yang sudah mati dalam kekufuran. Di antara mereka ada yang membawa berhala-berhala kecil dari batu yang mereka cium jika berjumpa di jalan. Ada yang mengumpulkan darah hewan kurban, bukan untuk diberikan kepada fakir miskin, melainkan untuk dipercikkan ke dinding-dinding berhala. Wahai saudaraku, inilah Mekah sebelum fajar. Kota yang pernah diselamatkan Allah dari pasukan bergajah, ketika Abrahah datang hendak menghancurkan Ka‘bah, namun Allah menghancurkannya dengan burung-burung Ababil yang membawa batu dari neraka. Itu adalah tanda yang nyata, mukjizat yang mereka lihat sendiri atau dengar dari bapak-bapak mereka. Tetapi apa yang mereka petik dari kejadian itu? Bukan kesadaran bahwa Allah satu-satunya pelindung, melainkan keangkuhan: “Kami adalah orang-orang yang terhormat, negeri kami tak bisa disentuh.” Mereka menukar rahmat dengan kesombongan. Allah berfirman: *Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?* (Surah Al-Fil: 1). Ya, mereka memperhatikan, tapi hati mereka buta. Dan kebutaan itu bukan hanya soal agama. Ia meresap ke dalam urat nadi masyarakat. Wahai saudaraku, dengarkanlah suara tangis yang tercekik di balik tembok-tembok batu Mekah. Seorang ayah dari klan Quraysh — mungkin kaya, mungkin terpandang — baru saja mendengar istrinya melahirkan anak perempuan. Wajahnya merah padam, bukan karena malu yang suci, melainkan karena dendam terhadap takdir. Malam itu juga, bayi yang tak berdosa dibawa ke luar kota, dicangkulkan ke dalam tanah yang dingin, hidup-hidup, atau dibuang ke sumur tua. Dan tangisnya redup, diseret angin malam, lalu hilang. Al-Qur‘an, yang kemudian turun di kota ini sendiri, mencatat kebiadaban itu dengan kalimat yang masih membuat bulu kuduk berdiri: *Dan apabila kepada salah seorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, muka merah padamlah dia karena tertimpa kesedihan, dan sebab malu dia menyembunyikan manusia dari (melakukan apa yang telah ditetapkan) kepadanya…* (Surah An-Nahl: 58). Wahai saudaraku, di lembah yang sama di mana Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail karena perintah Tuhan, kini darah anak-anak tak berdosa merembes ke bumi. Itulah Jahiliah. Bukan sekadar tidak tahu, tetapi kejahatan yang dilakukan dengan sadar, lalu dihalalkan oleh adat. Kehidupan kaum Quraysh dipenuhi oleh pesta pora yang diiringi minuman keras dari kurma yang difermentasi. Perjudian dengan anak panah dan unta bukanlah aib, melainkan kebanggaan. Wanita diperjualbelikan seperti kain di pasar, dan perselingkuhan dihias dengan syair yang merdu. Apa yang mereka banggakan? Puisi-puisi panjang yang mereka gantungkan di dinding Ka‘bah dalam lomba musim haji. Mereka saling menyombongkan nasab sampai ke Fihr, sampai ke Ismail, bahkan Ibrahim. Tetapi nasab itu hanya menjadi tali ‘asabiyah — fanatisme buta — yang menghalangi mereka dari kebenaran. Seseorang terbunuh hanya karena dia dari klan lain. Darah mengalir di lembah yang sama di mana unta-unta perdagangan berlalu. Allah Ta‘ala berfirman: *Dahulunya manusia itu umat yang satu, lalu mereka berselisih.* (Surah Al-Baqarah: 213). Di Mekah, berselisih adalah makanan sehari-hari. Harta dari perdagangan Musim Semi dan Musim Gugur menggemukkan perut, tetapi membuat jiwa semakin kurus. Yang lebih pedih, wahai saudaraku, bangsa ini pada umumnya buta huruf. Di sekitar mereka, bangsa Romawi dan Persia memiliki kitab dan undang-undang. Di utara, ada Abyssinia yang beriman kepada Injil. Di negeri-negeri itu, tulisan adalah mata. Tetapi di Mekah, mata kaum Quraysh buta terhadap huruf. Yang mereka hafal hanya syair dan nasab. Jika ada yang membaca, dia adalah orang aneh. Jika ada yang menulis, dicurigai. Ilmu dianggap barang dagangan orang Yahudi dan Nasrani, bukan kebanggaan bangsa Arab. Mereka bangga dengan lidah yang lancar, tetapi lupa bahwa lidah tanpa ilmu hanyalah cambuk yang liar. Para pedagang yang kaya raya menganggap harta adalah ukuran mulia, padahal jiwa mereka miskin, tidak punya petunjuk. Di malam yang pekat ini, kaum Quraysh tidur pulas, tidak merasa gelap. Namun, jangan kira Allah membiarkan malam ini tanpa bintang. Di sudut-sudut gelap Mekah, masih ada hati yang bergemuruh tidak puas. Ada yang berpaling dari berhala dan berkata, “Kami menyembah Tuhan Ibrahim yang lurus.” Mereka disebut kaum Hanif. Tetapi mereka terpencil, tersebar, bagaikan titik-titik api di lautan arang. Dan di antara bara-bara itulah, kelak akan tampil seorang laki-laki dari klan Banu Asad, salah satu ranting Quraysh, yang bernama Waraqah bin Naufal. Ia akan menjadi manusia yang berbeda: seorang yang bisa membaca kitab di tengah lautan buta huruf, seorang yang menolak Hubal di tengah klan yang menyembahnya. Tetapi sebelum kita sampai kepadanya, marilah kita renungkan: jika Jahiliah begitu pekat, bagaimana mungkin seseorang bisa melihat cahaya? Jawabannya, wahai saudaraku, adalah bahwa cahaya tidak datang dari mata, melainkan dari hati. Siapa yang jujur mencari Tuhan, niscaya Tuhan akan memperlihatkan jalan kepadanya. Sebagaimana firman-Nya: *Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.* (Surah Al-‘Ankabut: 69). Marilah kita lanjutkan perjalanan. Wallahu a‘lam.