Buku Waraqah bin Naufal — gaya Buya Hamka (ditulis Odysseus)
This commit is contained in:
@@ -0,0 +1,29 @@
|
||||
**BAB 10: Air Mata di Ujung Usia — Wafatnya Waraqah**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku.
|
||||
|
||||
Setelah cahaya menyinari hati, tubuh kadang-kadang justru semakin lekas pulang kepada tanah. Seperti lilin yang memancarkan sinar paling terang tepat sebelum lilin itu sendiri mencapai ujung titiknya. Demikianlah yang terjadi kepada Waraqah bin Naufal. Malam pertemuan dengan Muhammad di rumahnya bukanlah awal dari musim semi yang panjang. Ia adalah kemuncak musim gugur, di mana daun terakhir justru berwarna paling merah sebelum gugur ke bumi. Waraqah telah menanti seluruh hidupnya. Dan ketika penantian itu terjawab, hatinya yang lapar telah kenyang. Maka tubuhnya, yang sejak dahulu hanya ditopang oleh tekad, merasa bahwa tugasnya telah selesai.
|
||||
|
||||
Bayangkanlah, wahai saudaraku, fajar setelah malam yang mengharukan itu. Cahaya matahari masuk dari celah-celah dinding batu rumah Waraqah, menerangi wajah tua yang sejak semalam tidak bisa tidur. Ia duduk di tikarnya, sementara Hala, istrinya, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu sesuatu yang besar telah terjadi. Waraqah tersenyum, senyum yang tidak pernah ia lihat sejak mereka menikah puluhan tahun silam. “Aku telah bertemu dengan yang kutunggu, Hala,” katanya dengan suara serak. “Khadijah membawakannya semalam. Aku telah mengenalnya. Dan sekarang, aku tidak punya lagi urusan di dunia ini.” Hala ingin menangis, tetapi menahan diri. Ia tahu suaminya bukan orang yang menyukai tangisan palsu. “Jangan bersedih,” lanjut Waraqah. “Orang yang mati setelah menemukan kebenaran, matinya bukan kegagalan. Itu adalah kemenangan.”
|
||||
|
||||
Beberapa hari kemudian, wahai saudaraku, tubuh Waraqah yang memang telah uzur semakin merosot. Yang menurut riwayat-riwayat para penulis *sirah*, ia wafat tidak lama setelah pertemuan itu — ada yang mengatakan dalam hitungan hari. Penyakitnya bukan wabah yang mewabah, bukan luka yang berdarah, melainkan penghabisan usia. Seperti garam yang telah lama melarut di air, ia larut kembali kepada asalnya. Tetapi sebelum ia pergi, ada satu hal yang ingin ia lihat. Ia ingin mendengar lagi. Ia ingin merasakan apakah wahyu itu akan turun lagi, atau apakah ia hanya diberi hak untuk menyaksikan pembukaan tirai, bukan pertunjukan seluruh drama. Dan di sinilah letaknya rahasia yang dikisahkan oleh para penulis sejarah dan *sirah*: ada yang menghubungkan *fathrah* — jeda di antara turunnya wahyu — dengan wafatnya Waraqah. Setelah lelaki tua itu meninggal, langit sejenak sunyi. Gua Hira tidak lagi didatangi malaikat. Nabi Muhammad *shallallahu ‘alaihi wa sallam* merasakan kekosongan yang dahsyat, seakan-akan ia ditinggal sendirian di tengah padang yang tiba-tiba gelap gulita. Ia merasa sedih, bersedih hati, sehingga ia sempat mengira Allah telah meninggalkannya. Hanya setelah itu, dengan hikmah yang tidak terduga, turunlah ayat yang menenangkan: *“Demi waktu matahari bersinar terang dan bulan apabila mengiringi, dan siang apabila menampakkan diri, dan malam apabila menutupi, dan langit serta apa yang dibangunnya, dan bumi serta apa yang dihamparkannya, dan jiwa serta apa yang menyempurnakannya…”* (Surah Asy-Syams: 1-7). Wahai saudaraku, jika benar riwayat itu, maka Waraqah bukan hanya saksi yang mengakui, tetapi juga penahan langit sebelum langit kembali bicara. Ia adalah tiang penyangga yang Allah cabut sebentar, supaya Nabi merasakan beratnya tanggung sendirian, sebelum Allah kembali meneguhkan dengan firman-Nya yang berikutnya.
|
||||
|
||||
Kemudian tibalah saatnya. Waraqah terbaring di pembaringannya yang sederhana. Matanya yang rabun sudah hampir tidak melihat apa-apa. Tetapi ia tidak perlu melihat. Ia telah melihat yang cukup. Hala duduk di sampingnya, memegang tangannya yang keriput. Di luar, terdengar suara anak-anak Quraysh yang berlari-larian, tidak tahu bahwa di dalam rumah batu ini, satu mata kitab akan tertutup selamanya. Waraqah bergerak perlahan. Ia ingin menghadap Ka‘bah. Hala membantunya sedikit. Lalu ia berkata dengan suara yang semakin pelan, tetapi jelas, sebab kalimat-kalimatnya telah disusun sejak lama: “Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidak pernah menyembah Hubal. Aku tidak pernah sujud kepada ‘Uzza. Aku meninggalkan orang-orangku karena aku mencari-Mu. Dan Engkau memperlihatkan kepadaku — sebelum mataku buta — wajah pembawa kebenaran. Terimalah aku dalam keadaan hanif. Jadikanlah aku pengikutnya, meski aku tidak sempat melihat hari kemenangannya.” Hala menangis. Air matanya jatuh di atas tangan suaminya. Waraqah merasakan kehangatan itu, lalu tersenyum. “Jangan tangisi aku, Hala. Khadijah akan menemani dia. Dan aku akan menemani para nabi yang kubaca di dalam kitab-kitabku. Bukankah itu pulang yang paling mulia?”
|
||||
|
||||
Lalu ia pergi. Perlahan, seperti embun yang meresap ke dalam tanah, tanpa suara, tanpa gemuruh. Seorang Quraysh dari Banu Asad, yang pernah dianggap aneh oleh kaumnya, yang pernah dipanggil Nasrani oleh orang-orang yang tidak mengerti, meninggalkan Mekah bukan dengan kafilah unta, melainkan dengan jiwa yang terbang ke rahmat Tuhan. Ia meninggal sebelum Nabi Muhammad *shallallahu ‘alaihi wa sallam* memulai seruan umumnya. Ia meninggal sebelum azan pertama dikumandangkan. Ia meninggal sebelum satu pun orang Quraysh berkata “*La ilaha illallah*” di hadapan umum. Tetapi ia meninggal dalam keadaan yang paling mulia: seorang *mu’min* yang telah mengenal rasul sebelum rasul itu dikenal oleh dunia. Dan inilah yang membuat kematiannya bukan tragedi, melainkan *syahadah* dalam bentuk yang paling lembut.
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, ketika berita wafatnya sampai ke telinga Muhammad dan Khadijah, bagaimanakah hati mereka? Khadijah menangis, tentu saja, bukan hanya karena kehilangan ipar, tetapi karena kehilangan tempat bertanya. Waraqah adalah orang yang membenarkan pengalamannya di malah pertama. Waraqah adalah kompas yang menunjukkan bahwa jalan suaminya adalah jalan Musa dan Isa. Sekarang kompas itu hilang. Tetapi Nabi Muhammad, yang masih dalam getaran awal wahyu, menanggapi berita itu dengan cara yang menunjukkan betapa besar kasihnya kepada lelaki tua itu. Sebagaimana diriwayatkan dalam beberapa riwayat yang sampai kepada kita, Nabi *shallallahu ‘alaihi wa sallam* bersaksi tentang keselamatan Waraqah. Bahkan ada riwayat yang menyebutkan bah ia dijanjikan surga. Nabi tidak mengatakan, “Dia orang yang baik, semoga Allah mengampuninya.” Tidak. Nabi bersaksi dengan tegas, seolah-olah langit telah memberitahunya bahwa jiwa yang pertama kali berkata “*Namus*” itu telah diterima di sisi-Nya. Dan bukankah itu cukup sebagai penghormatan akhir? Tidak ada upacara penguburan yang megah, tidak ada tanda batu yang berhiaskan emas, tetapi ada saksi dari lidah Nabi yang lebih mulia dari segala makam di muka bumi.
|
||||
|
||||
Allah Ta‘ala berfirman: *“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’”* (Surah Fussilat: 30). Wahai saudaraku, aku membayangkan malaikat turun menyambut Waraqah dengan kalimat itu. “Jangan takut, wahai hamba yang telah lama membaca Taurat di malam sepi. Jangan sedih, wahai lelaki yang dianggap aneh oleh kaumnya. Bergembiralah, sebab engkau adalah orang yang mengenal Namus sebelum Namus dikenal.” Waraqah yang rabun di dunia, tiba-tiba melihat dengan jelas. Waraqah yang sendirian di tikarnya, tiba-tiba dikelilingi oleh pengikut-pengikut nabi-nabi yang pernah ia baca di lembaran kuno. Musa ada di sana, dengan tongkatnya yang pernah berubah menjadi ular. Isa ada di sana, dengan suaranya yang pernah menghidupkan orang mati. Dan mereka semua berkata, “Selamat datang, wahai saksi pertama dari umat terakhir.”
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, ambillah dari kematian Waraqah ini beberapa hikmah yang tidak boleh kau lewatkan. Pertama: umur bukanlah ukuran, tetapi isi adalah ukuran. Waraqah tidak hidup seribu tahun. Ia hidup cukup lama untuk mengenal kebenaran, dan ia mati sebelum sempat melihat kebenaran itu menang. Banyak orang hidup seratus tahun tanpa pernah mengenal apa pun. Waraqah hidup dalam dekade terakhirnya sebagai orang yang paling kaya di Mekah — bukan karena harta, melainkan karena pengetahuan. Kedua: meninggal dalam keadaan beriman adalah anugerah yang tidak bisa dibeli dengan emas seberat gunung Uhud. Waraqah tidak sempat melaksanakan shalat lima waktu seperti kita. Ia tidak sempat berpuasa Ramadan dalam islam yang lengkap. Tetapi ia mati dalam keadaan *hanif*, dalam keadaan mengakui, dalam keadaan menanti. Dan Allah, Yang Maha Adil, tidak pernah mengzalimi hamba-Nya yang jujur. Ketiga: orang yang pertama kali percaya kadang-kadang bukan orang yang paling dekat, melainkan orang yang paling jauh dalam pandangan dunia. Waraqah bukan sanak saudara Bani Hashim. Ia bukan paman Nabi. Ia hanya ipar dari jauh, seorang tua yang dianggap aneh. Tetapi hati itulah yang paling siap. Maka janganlah engkau meremehkan orang-orang aneh di sekitarmu. Siapa tahu, di antara mereka ada Waraqah-Waraqah yang sedang menanti cahaya.
|
||||
|
||||
Keempat: kematian orang saleh bukanlah akhir dukungan. Waraqah mati, tetapi namanya hidup. Setiap kali kita membaca riwayat Aisyah dalam *Shahih al-Bukhari*, nama Waraqah muncul. Setiap kali kita mendengar kalimat *“Hadha an-Namus alladzi anzallahu ‘ala Musa,”* jiwa Waraqah berbicara kembali. Maka siapa yang mati? Tubuhnya saja. Namanya adalah doa yang terus diucapkan oleh umat Islam hingga hari kiamat. Itulah keabadian yang sebenar.
|
||||
|
||||
Dan kelima: sebelum Nabi berjalan sendirian di jalan yang penuh duri, Allah telah memberinya Khadijah untuk menenangkan di rumah, dan Waraqah untuk membenarkan di rumah ipar. Dua rumah, dua penjaga hati. Ketika Waraqah mati, Nabi kehilangan satu penjaga. Tetapi penjaga itu telah sempat mengunci pintu kebenaran di dalam dada Nabi, sehingga tidak seorang pun bisa membukanya lagi dengan keraguan. Waraqah telah berkata, “Ini dari Allah.” Itu cukup untuk menguatkan langkah selama tiga belas tahun yang akan datang, meski langkah itu kemudian berdarah.
|
||||
|
||||
Rumah Waraqah kini sunyi. Pelitanya padam. Taurat dan Injilnya mungkin disimpan Hala, atau mungkin dibawa oleh Khadijah, atau mungkin terbengkalai sampai usang oleh waktu. Tetapi isi kitab itu telah pindah ke dalam dada seorang Nabi. Dan dari dada Nabi, ia akan turun kembali dalam bentuk yang paling sempurna: Al-Qur‘an. Wahai saudaraku, itulah rantai emas yang tidak putus. Ibrahim berdoa, Musa menulis, Isa membawa kabar gembira, Waraqah membaca, Muhammad menerima, dan kita — kita adalah orang-orang yang mendengar.
|
||||
|
||||
Maka jika suatu hari nanti engkau lewat di dekat kuburan orang-orang yang tidak dikenal dunia, dan ada satu batu nisan yang lapuk di sudutnya, janganlah engkau berpikir bahwa di bawahnya hanya tidur tulang tak bernama. Siapa tahu, di sana tertidur seorang Waraqah yang pernah menjadi tiang penyangga langit sebelum langit kembali bicara. Doakanlah mereka. Sebab mereka yang mati dalam keadaan menanti kebenaran, adalah saudara-saudara kita yang paling mulia.
|
||||
|
||||
Wallahu a‘lam.
|
||||
Reference in New Issue
Block a user