Buku Waraqah bin Naufal — gaya Buya Hamka (ditulis Odysseus)
This commit is contained in:
@@ -0,0 +1,19 @@
|
||||
**BAB 1: Zaman Jahiliah — Malam yang Gelap di Mekah**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku.
|
||||
|
||||
Cobalah kau tutup mata sejenak, dan biarkan imajinasimu membawa kau ke sebuah lembah yang berkerumun batu-batu hitam dan pasir yang gersang. Angin malam dari timur membawa debu yang menggigit pipi, sementara langit di atasnya terhampar begitu tinggi, penuh bintang-bintang yang diam saja menyaksikan. Di lembah itulah Mekah berdiri. Bukan kota kebun yang diliputi hijau pohon kurma seperti Yathrib yang kemudian kamu kenal sebagai Madinah. Mekah adalah pusat perdagangan, tempat persinggahan kafilah-kafilah unta dari Yaman yang membawa rempah-rempah, dan dari Syam yang membawa kain beledu serta pedang. Mereka datang bukan sekadar untuk berjual beli, wahai saudaraku, tetapi untuk mengunjungi sebuah Bait tua yang konon didirikan oleh Ibrahim Khalilullah dan putranya Ismail ‘alaihimas-salam. Tetapi lihatlah, sungguh menyedihkan! Di sekeliling rumah suci itu, berjajar tiga ratus enam puluh berhala dari kayu dan batu. Yang tertinggi, Hubal, berdiri menjulang di dalam Ka‘bah, dilengkapi dengan tangan emas yang patah dan diganti oleh Quraysh dengan tangan emas lain, seolah-olah berhala itu punya kekuasaan. Di luar, ada Lata, ‘Uzza, Manat, dan lain-lain yang mereka sebut “anak perempuan Allah,” na‘udzubillah. Allah berfirman dalam kitab-Nya, seakan-akan firman itu turun khusus untuk malam-malam ini: *Dan mereka telah menjadikan malaikat-malaikat mereka — yang mereka itu adalah hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pemurah — sebagai golongan perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu, sehingga kesaksian mereka itu akan ditulis?* (Surah Az-Zukhruf: 19). Demikianlah kebodohan yang dibungkus dengan kebanggaan.
|
||||
|
||||
Ketika senja merunduk di balik Jabal Abu Qubais, maka mulailah yang namanya ibadah — jika kata itu masih layak dipakai — menggeliat. Genderang dipukul, suling ditiup, dan kaum lelaki serta perempuan berlarian mengelilingi Ka‘bah dengan telanjang, atau separuh telanjang, sambil bertepuk tangan dan bersiul. Mereka berlari antara Shafa dan Marwah, tapi bukan dalam rangka mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa, melainkan meniru nenek moyang yang sudah mati dalam kekufuran. Di antara mereka ada yang membawa berhala-berhala kecil dari batu yang mereka cium jika berjumpa di jalan. Ada yang mengumpulkan darah hewan kurban, bukan untuk diberikan kepada fakir miskin, melainkan untuk dipercikkan ke dinding-dinding berhala. Wahai saudaraku, inilah Mekah sebelum fajar. Kota yang pernah diselamatkan Allah dari pasukan bergajah, ketika Abrahah datang hendak menghancurkan Ka‘bah, namun Allah menghancurkannya dengan burung-burung Ababil yang membawa batu dari neraka. Itu adalah tanda yang nyata, mukjizat yang mereka lihat sendiri atau dengar dari bapak-bapak mereka. Tetapi apa yang mereka petik dari kejadian itu? Bukan kesadaran bahwa Allah satu-satunya pelindung, melainkan keangkuhan: “Kami adalah orang-orang yang terhormat, negeri kami tak bisa disentuh.” Mereka menukar rahmat dengan kesombongan. Allah berfirman: *Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?* (Surah Al-Fil: 1). Ya, mereka memperhatikan, tapi hati mereka buta.
|
||||
|
||||
Dan kebutaan itu bukan hanya soal agama. Ia meresap ke dalam urat nadi masyarakat. Wahai saudaraku, dengarkanlah suara tangis yang tercekik di balik tembok-tembok batu Mekah. Seorang ayah dari klan Quraysh — mungkin kaya, mungkin terpandang — baru saja mendengar istrinya melahirkan anak perempuan. Wajahnya merah padam, bukan karena malu yang suci, melainkan karena dendam terhadap takdir. Malam itu juga, bayi yang tak berdosa dibawa ke luar kota, dicangkulkan ke dalam tanah yang dingin, hidup-hidup, atau dibuang ke sumur tua. Dan tangisnya redup, diseret angin malam, lalu hilang. Al-Qur‘an, yang kemudian turun di kota ini sendiri, mencatat kebiadaban itu dengan kalimat yang masih membuat bulu kuduk berdiri: *Dan apabila kepada salah seorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, muka merah padamlah dia karena tertimpa kesedihan, dan sebab malu dia menyembunyikan manusia dari (melakukan apa yang telah ditetapkan) kepadanya…* (Surah An-Nahl: 58). Wahai saudaraku, di lembah yang sama di mana Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail karena perintah Tuhan, kini darah anak-anak tak berdosa merembes ke bumi. Itulah Jahiliah. Bukan sekadar tidak tahu, tetapi kejahatan yang dilakukan dengan sadar, lalu dihalalkan oleh adat.
|
||||
|
||||
Kehidupan kaum Quraysh dipenuhi oleh pesta pora yang diiringi minuman keras dari kurma yang difermentasi. Perjudian dengan anak panah dan unta bukanlah aib, melainkan kebanggaan. Wanita diperjualbelikan seperti kain di pasar, dan perselingkuhan dihias dengan syair yang merdu. Apa yang mereka banggakan? Puisi-puisi panjang yang mereka gantungkan di dinding Ka‘bah dalam lomba musim haji. Mereka saling menyombongkan nasab sampai ke Fihr, sampai ke Ismail, bahkan Ibrahim. Tetapi nasab itu hanya menjadi tali ‘asabiyah — fanatisme buta — yang menghalangi mereka dari kebenaran. Seseorang terbunuh hanya karena dia dari klan lain. Darah mengalir di lembah yang sama di mana unta-unta perdagangan berlalu. Allah Ta‘ala berfirman: *Dahulunya manusia itu umat yang satu, lalu mereka berselisih.* (Surah Al-Baqarah: 213). Di Mekah, berselisih adalah makanan sehari-hari. Harta dari perdagangan Musim Semi dan Musim Gugur menggemukkan perut, tetapi membuat jiwa semakin kurus.
|
||||
|
||||
Yang lebih pedih, wahai saudaraku, bangsa ini pada umumnya buta huruf. Di sekitar mereka, bangsa Romawi dan Persia memiliki kitab dan undang-undang. Di utara, ada Abyssinia yang beriman kepada Injil. Di negeri-negeri itu, tulisan adalah mata. Tetapi di Mekah, mata kaum Quraysh buta terhadap huruf. Yang mereka hafal hanya syair dan nasab. Jika ada yang membaca, dia adalah orang aneh. Jika ada yang menulis, dicurigai. Ilmu dianggap barang dagangan orang Yahudi dan Nasrani, bukan kebanggaan bangsa Arab. Mereka bangga dengan lidah yang lancar, tetapi lupa bahwa lidah tanpa ilmu hanyalah cambuk yang liar. Para pedagang yang kaya raya menganggap harta adalah ukuran mulia, padahal jiwa mereka miskin, tidak punya petunjuk. Di malam yang pekat ini, kaum Quraysh tidur pulas, tidak merasa gelap.
|
||||
|
||||
Namun, jangan kira Allah membiarkan malam ini tanpa bintang. Di sudut-sudut gelap Mekah, masih ada hati yang bergemuruh tidak puas. Ada yang berpaling dari berhala dan berkata, “Kami menyembah Tuhan Ibrahim yang lurus.” Mereka disebut kaum Hanif. Tetapi mereka terpencil, tersebar, bagaikan titik-titik api di lautan arang. Dan di antara bara-bara itulah, kelak akan tampil seorang laki-laki dari klan Banu Asad, salah satu ranting Quraysh, yang bernama Waraqah bin Naufal. Ia akan menjadi manusia yang berbeda: seorang yang bisa membaca kitab di tengah lautan buta huruf, seorang yang menolak Hubal di tengah klan yang menyembahnya. Tetapi sebelum kita sampai kepadanya, marilah kita renungkan: jika Jahiliah begitu pekat, bagaimana mungkin seseorang bisa melihat cahaya? Jawabannya, wahai saudaraku, adalah bahwa cahaya tidak datang dari mata, melainkan dari hati. Siapa yang jujur mencari Tuhan, niscaya Tuhan akan memperlihatkan jalan kepadanya. Sebagaimana firman-Nya: *Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.* (Surah Al-‘Ankabut: 69).
|
||||
|
||||
Marilah kita lanjutkan perjalanan.
|
||||
|
||||
Wallahu a‘lam.
|
||||
@@ -0,0 +1,21 @@
|
||||
**BAB 2: Kaum Hanif — Pencari Tuhan yang Sejati**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku.
|
||||
|
||||
Janganlah sekali-kali engkau menyangka bahwa pada zaman yang gelap itu, semua hati di Mekah tertutup rapat seperti batu. Tidak. Di tengah lautan arang yang membara, masih ada bintik-bintik api yang enggan padam. Mereka itu adalah orang-orang yang disebut kaum *Hanif*. Bukan sebuah golongan yang berkumpul di balik dinding, bukan pula partai politik yang punya bendera dan pengurus. Mereka adalah jiwa-jiwa terpencil, masing-masing mencari Tuhan dengan tangannya sendiri, dengan air matanya sendiri, tanpa guru yang datang membawa kitab suci baru. Mereka hanya membawa *fitrah*—cahaya yang Tuhan tanamkan dalam setiap dada sejak lahir. Sebagaimana sabda Nabi kita *shallallahu ‘alaihi wa sallam* yang diriwayatkan dalam kitab *Shahih al-Bukhari* dan *Shahih Muslim*: *“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah…”* Maka jiwa-jiwa Hanif inilah yang memelihara fitrah itu dengan setia, sementara kaumnya telah mengotori fitrah mereka dengan debu berhala dan darah minuman keras.
|
||||
|
||||
Siapa gerangan Hanif itu? Wahai saudaraku, kata ini berasal dari akar yang bermakna lurus, condong kepada kebenaran, tidak miring ke kanan atau ke kiri. Tetapi maknanya tidak cukup dijelaskan dengan kamus. Engkau harus melihat Ibrahim *‘alaihis-salam*, bapak para nabi, yang dijuluki Al-Qur‘an dengan sebutan yang mulia: *“Ibrahim bukanlah orang Yahudi dan bukan pula Nasrani, tetapi dia adalah seorang hanif yang berserah diri (muslim) dan bukan pula termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.”* (Surah Ali ‘Imran: 67). Bayangkan, wahai saudaraku, Ibrahim yang meninggalkan bapaknya dan kaumnya bukan karena dendam, melainkan karena cinta kepada Yang Maha Esa. Dia memandang bintang, lalu memandang bulan, lalu memandang matahari, dan setiap kali dia berkata, “Ini Tuhanku?” lalu dia menolaknya. Hingga akhirnya hatinya menembus lapisan langit dan berseru: *“Sesungguhnya aku telah menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan suci dari kemuskrikan, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”* (Surah Al-An‘am: 79). Hanif itu adalah Ibrahim dalam jiwa. Hanif itu adalah orang yang berkata, “Aku tidak mau diputar oleh adat, aku tidak mau dijajah oleh nasab, aku hanya mau kepada Tuhan Yang Menciptakan.”
|
||||
|
||||
Di Mekah, sebelum matahari Islam terbit, ada seorang lelaki kurus yang bernama Zayd bin ‘Amr bin Nufayl. Dialah yang paling sering disebut-sebut dalam riwayat-riwayat lama. Ia berdiri di depan Ka‘bah sambil orang-orang Quraysh bersujud kepada Hubal, lalu berseru dengan suara lantang yang dipenuhi getaran hati: “Tidak ada yang patut disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya!” Orang-orang menertawakannya, menganggapnya gila. Tetapi Zayd tidak peduli. Ia menolak makan hewan yang disembelih atas nama berhala. Ia menyelamatkan bayi-bayi perempuan dari lubang tanah, membayar tebusan kepada ayah-ayah yang hendak menguburnya hidup-hidup, sambil berkata dengan mata berkaca-kaca, “Mengapa engkau bunuh? Barangkali dia akan melahirkan laki-laki yang mengagungkan nama Allah kelak!” Ia pergi ke Syam mencari agama Ibrahim, bertanya kepada para rahib, lalu kembali dengan hati yang masih juga tidak puas. Zayd bin ‘Amr mati sebelum Nabi Muhammad *shallallahu ‘alaihi wa sallam* diutus; tubuhnya dikuburkan di lembah yang terjal, tak jauh dari tempat orang-orang Quraysh melewati kafilah-kafilah mereka. Tetapi Nabi kita, ketika melintas nanti, akan berhenti dan bersabda atas kuburnya, *“Dia akan dibangkitkan sebagai umat sendirian.”* Sebegitu mulianya seorang Hanif di mata langit.
|
||||
|
||||
Tetapi jalan Hanif, wahai saudaraku, tidak selalu lurus menembus ke tujuan. Ada di antara mereka yang lelah mengembara di padang pasir kebodohan, lalu merasa haus dan minum dari telaga yang paling dekat, meski bukan telaga yang paling suci. Utsman bin Huwairits, seorang Quraysh yang juga merasa hampa, pergi ke negeri Romawi dan memeluk agama Nasrani. Ubaidullah bin Jahsy mengikutinya, menjadi Nasrani, bahkan menikahi Ummu Habibah—sebelum kemudian keduannya kembali bertemu dengan cahaya Islam. Ada pula yang mendekati agama Yahudi. Mengapa? Karena agama-agama itu membawa kitab, membawa tulisan, membawa nama-nabi. Sedangkan di Mekah, Quraysh hanya membawa dusta dan syair yang dilombakan di dinding Ka‘bah. Hanif yang haus, wahai saudaraku, kadang-kadang tidak bisa menunggu telaga surgawi; mereka minum dari telaga duniawi terlebih dahulu. Tetapi hati mereka tetap mencari. Mereka masih merasa ada yang kurang. Seperti orang yang makan buah di malam lapar—kenyang perutnya, tetapi tidak tenang jiwanya.
|
||||
|
||||
Dan di sinilah letaknya hikmah besar. Hanif bukanlah sebuah mazhab yang sudah sempurna. Hanif adalah sebuah *perjalanan*. Ada yang berhenti di tengah jalan, ada yang tersesat ke gang kecil, tetapi langkah pertama mereka—memalingkan wajah dari berhala—adalah langkah yang dicatat Allah. Sebab Dia tidak memandang kesempurnaan jalan, melainkan kejujuran sang pejalan. *“Barang siapa yang berbuat kebaikan seberat debu, baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia dalam keadaan beriman, maka baginya balasan yang baik.”* (Surah An-Nisa‘: 97). Maka janganlah kita menghina mereka yang mencari, meski caranya berliku. Yang patut kita tangisi adalah mereka yang tidak mencari sama sekali—yang duduk di atas emas dan berhala, merasa sudah sempurna.
|
||||
|
||||
Di antara bara-bara api Hanif itulah, ada satu nama yang tidak sekadar merasa tidak puas, tetapi juga membuka kitab, menuntut ilmu, menulis dengan huruf Ibrani, membaca Taurat dalam bahasanya, membaca Injil dalam lembarannya. Ia tidak puas hanya dengan denyut hati; ia ingin bukti, ia ingin berita, ia ingin nama. Ia mendengar bahwa di dalam kitab-kitab itu ada nubuat tentang seorang nabi akhir zaman, *ummi*, yang akan lahir di tanah Arab. Dan setiap kali ia membaca, jantungnya berdegup kencang. Ada yang menyebutnya Nasrani karena ia bergaul dengan kitab-kitab itu. Ada pula yang menyebutnya Hanif merdeka karena hatinya tidak mau tunduk kepada gereja atau sinagoge. Apa pun namanya, wahai saudaraku, hatinya adalah hati Ibrahim. Namanya ialah Waraqah bin Naufal. Ia adalah Hanif, ya, tetapi Hanif yang bertaburkan tinta kitab. Hanif yang tidak hanya merasakan cahaya, tetapi juga ingin membedakan cahaya dari kilauan palsu.
|
||||
|
||||
Dari sini, wahai saudaraku, ambillah pelajaran. Allah tidak meninggalkan bumi ini tanpa saksi, meski saksi itu hanya segelintir. Di setiap zaman kegelapan, ada hati-hati yang terang. Tetapi hati yang terang saja tidak cukup. Zayd bin ‘Amr mati sebelum Islam datang, meski fitrahnya suci. Utsman bin Huwairits mati di negeri orang dengan agama yang bukan agama Ibrahim. Hanif yang hanya mengandalkan perasaan, kadang tersesat ke jalan yang salah. Barang siapa yang ingin menemukan mutiara, ia harus menyelam. Barang siapa ingin menemukan kebenaran, ia harus membaca, menuntut, membedakan. Janganlah jadi orang yang hanya mengandalkan emosi tanpa ilmu, atau ilmu tanpa emosi. Waraqah tidak demikian. Ia punya hati yang lapar, dan ia punya kitab yang menjadi peta. Dan karena itu, ketika sang Nabi keluar dari Gua Hira dengan tubuh gemetar, hanya Waraqah yang langsung mengenal suara itu. Sebab ia telah menanti, bukan sekadar menanti dengan harapan kosong, tetapi menanti dengan bukti-bukti yang terkumpul di dadanya.
|
||||
|
||||
Maka marilah kita, wahai saudaraku, kini berpaling dari bara-bara api yang berserakan di padang, untuk berjalan mendekati satu api yang paling menyala. Marilah kita mengetuk pintu rumah seorang lelaki tua dari klan Banu Asad, yang sedang membaca kitab di tengah malam Mekah yang sunyi. Kita akan melihat, bagaimana seorang Quraysh bisa keluar dari lautan buta huruf, membawa keinsyafan yang jarang, dan menanti fajar dengan mata yang masih terbuka lebar.
|
||||
|
||||
Wallahu a‘lam.
|
||||
@@ -0,0 +1,21 @@
|
||||
**BAB 3: Waraqah bin Naufal — Manusia Kitab di Tengah Bangsa yang Buta Huruf**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku.
|
||||
|
||||
Kalaulah engkau berjalan di malam sunyi Mekah, ketika debu jalan sudah tidak lagi berdentum oleh tapak kaki pedagang, dan hanya tinggal suara anjing-anjing liar yang berebut tulang di ujung lorong, maka di salah satu sudut kota yang berdampingan dengan rumah-rumah tua klan Quraysh, ada seberkas cahaya pelita yang tidak pernah padam sebelum tengah malam. Cahaya itu berasal dari sebuah rumah sederhana, milik lelaki tua yang uban sudah menjalar di pelipisnya, punggung sudah membungkuk sedikit karena usia, tetapi mata—mata itu masih tajam seperti mata elang yang menatap mangsa di kejauhan. Itulah Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abd al-Uzza bin Qusayl. Atau kalau kau ingin menyingkatnya, Waraqah bin Naufal, dari klan Banu Asad, satu ranting besar pohon Quraysh yang akarnya menembus ke tanah Mekah sejak jaman Fihr dan Qusayy.
|
||||
|
||||
Bayangkanlah, wahai saudaraku, keanehan lelaki ini di tengah kaumnya. Di sekelilingnya, orang-orang Quraysh bangga dengan kemampuan mereka berpidato, bersyair, berdagang ke negeri Syam dan Yaman, tetapi tanya huruf “alif” dan “ba” kepada mereka, maka kebanyakan akan menggelengkan kepala. Bangsa Arab pada umumnya adalah bangsa yang mulia lidahnya, tetapi buta terhadap tulisan. Ilmu mereka tersimpan di dada, bukan di lembar. Tetapi Waraqah berbeda. Di tangannya, ada lembaran-lembaran yang usang berwarna kekuningan, bertuliskan huruf-huruf aneh yang tidak dikenal oleh sanak saudaranya. Itulah huruf Ibrani, bahasa orang-orang yang menyimpan kitab sejak zaman Musa dan Daud. Dan Waraqah, seorang Quraysh yang seharusnya hanya tahu tentang unta dan pedagangan, telah membiarkan jarinya berlumuran tinta sambil menulis bahasa Arabnya dengan huruf asing itu. Orang-orang menatapnya heran. “Waraqah sudah tua, tetapi perilakunya seperti budak perdagangan Yahudi,” kata mereka di pasar. Ada yang berbisik lebih jauh: “Dia telah menjadi Nasrani.” Tetapi mereka salah, atau setidaknya tidak sepenuhnya benar. Waraqah bukan pengikut gereja yang tunduk kepada para uskup, juga bukan pengikut sinagoge yang menunggu dinding ratapan. Dia adalah *hanif*, seorang pencari Tuhan Ibrahim yang lurus, hanya saja dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh Zayd bin Amr atau para pencari lainnya: dia punya kunci, dan kunci itu adalah kemampuan membaca kitab.
|
||||
|
||||
Allah Ta‘ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: *“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu sebuah kitab (Al-Qur‘an) yang di dalamnya ada sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tidak mempergunakan akalmu?”* (Surah Al-Anbiya‘: 10). Wahai saudaraku, ayat ini turun nanti, tetapi rohnya sudah beredar di udara sejak dahulu. Waraqah menggunakan akalnya, bukan untuk mengira-ngira, tetapi untuk membaca. Dia telah mempelajari Taurat, kitab yang diturunkan kepada Musa ‘alaihis-salam, dan Injil, kabar gembira yang dibawa oleh Isa ‘alaihis-salam. Dia membacanya bukan untuk jadi pendeta, melainkan untuk mencari nama. Nama siapa? Nama seorang nabi penutup yang disebut-sebut dalam baris-baris kitab itu. Di dalam Taurat dan Injil—sebagaimana yang dikabarkan oleh riwayat-riwayat lama yang kita jumpai dalam tulisan para sejarawan—ada berita tentang seorang rasul akhir zaman yang akan datang dari bangsa yang tidak punya kitab, yang disebut *ummi*, yang lahir di tanah Arab, di tanah yang batu-batunya pernah disentuh oleh kaki Ibrahim dan Ismail. Setiap malam, ketika cahaya pelita bergetar di atas meja kayu, Waraqah merasa jantungnya berdegup kencang. “Mudah-mudahan aku masih hidup untuk menemuinya,” bisiknya pada isterinya, atau mungkin hanya pada dirinya sendiri.
|
||||
|
||||
Isterinya itu bukan orang sembarangan. Dia adalah Hala binti Khuwaylid, adik kandung dari seorang wanita Quraysh yang namanya kelak akan menyinari sejarah dunia: Khadijah binti Khuwaylid. Wahai saudaraku, dari sinilah kita lihat betapa eratnya jaringan kasih sayang yang Allah jalin di Mekah. Waraqah, karena menikahi Hala, menjadi ipar Khadijah. Dan karena Hala serta Khadijah adalah putri Khuwaylid bin Asad, sedangkan Waraqah adalah putra Naufal bin Asad, maka Waraqah dan Khadijah juga sepupu. Mereka berasal dari pepohonan yang sama, akar yang sama, klan Banu Asad. Di dalam dunia Quraysh yang penuh dengan persaingan dagang dan saling menyombongkan jumlah unta, terdapat keluarga ini—keluarga yang hatinya lebih lembut, yang Khadijah-nya terkenal dengan sebutan *ath-Thahirah* yang suci, dan yang Hala-nya menikahi lelaki yang tidak pernah lepas dari kitab. Waraqah, dengan demikian, bukan hanya sepupu Khadijah, tetapi juga iparnya. Tetapi dia lebih dari sanak. Dia adalah tempat Khadijah bertanya ketika ada soal yang mengganggu hatinya. Dialah lelaki tua yang dihormati, yang kata-katanya tidak keluar dari mulut yang kosong, melainkan dari mulut yang telah banyak membaca.
|
||||
|
||||
Di tengah bangsa yang buta huruf, Waraqah adalah manusia kitab. Ungkapan ini perlu kau garis bawahi, wahai saudaraku. Ketika orang-orang Mekah tidak bisa membedakan antara nubuat dan dongeng, Waraqah bisa merangkai ayat-ayat Taurat dan mencocokkannya dengan kabar angin yang berembus dari Yathrib. Ketika mereka hanya mengenal Hubal sebagai “tuan rumah,” Waraqah mengenal Allah Yang Maha Esa dengan nama-nama-Nya yang terhampar di lembaran kuno. Ada sebuah kebijaksanaan yang ingin kusampaikan kepadamu di sini: ilmu itu bukan hanya tentang mengumpulkan fakta, tetapi tentang menyatukan hati dengan fakta itu. Waraqah tidak sekadar menghafal. Hafalan tanpa keinsyafan adalah beban, bukan sayap. Tetapi Waraqah memiliki keinsyafan, sebab setiap kali dia membaca, dia merasa ada yang berbisik di telinganya, “Tunggu, ya Waraqah, tunggu. Yang kau cari akan datang, dan dia akan membawa kitab yang tidak akan usang, tidak akan berubah oleh tangan-tangan manusia.”
|
||||
|
||||
Kadang-kadang, di siang panas ketika dia duduk di serambi rumahnya yang sederhana, anak-anak Quraysh berlari sambil mengejek, “Hai Waraqah, baca untuk kami dongeng Yahudi!” Dia hanya tersenyum getir. Dia tahu bahwa mereka tidak bisa melihat apa yang dia lihat. Seperti firman Allah nanti: *“Mereka itu seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang berat.”* (Surah Al-Jumu‘ah: 5). Quraysh itu keledai-keledai yang membawa beban nasab dan harta, tetapi tidak mengerti isinya. Waraqah, sendirian, membawa kitab yang ringan di tangannya, tetapi berat dalam maknanya. Dan justru karena kesendiriannya itulah, dia menjadi penghuni rumah yang paling ramai oleh tamu-tak-kasat-mata: para nabi yang berbicara melalui tulisan, para malaikat yang turun melalui doa, dan harapan yang bertamu setiap fajar.
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, mungkin kau bertanya, apakah Waraqah merasa bangga dengan keilmuannya? Tidak. Kalau ada yang dia banggakan, hanyalah kejujurannya mencari. Dia tidak berkata, “Aku sudah tahu.” Dia berkata, “Aku masih mencari.” Dan itulah perbedaan antara orang alim yang sombong dengan orang alim yang saleh. Yang pertama berhenti di pintu dan mengunci orang lain dari luar. Yang kedua terus mengetuk pintu langit, meski dia sudah lama ditunggu. Waraqah adalah pengetuk yang setia. Di malam-malamnya yang panjang, dia tidak tahu bahwa di balik bukit Jabal Nur, ada gua kecil yang sedang dikunjungi seorang lelaki muda dari klan Bani Hashim, cucu Abdul Muththalib, yang sedang bermunajat kepada Allah dengan hati yang juga bersih. Waraqah dan lelaki muda itu belum pernah bertemu. Tetapi keduanya, tanpa saling tahu, sedang menyelaraskan nafas mereka dengan nafas langit. Yang satu di gua, yang satu di rumah berpelita. Dan Allah, Yang Maha Mendengar, sedang menyiapkan pertemuan yang paling mengharukan dalam sejarah.
|
||||
|
||||
Maka di sinilah kita tinggalkan Waraqah untuk sementara, wahai saudaraku, dengan lembaran-lembarannya yang bergetar dihembus angin malam, dan matanya yang semakin rabun memandang huruf-huruf kecil. Jangan kau anggap dia hanya figur pinggiran. Dia adalah manusia kitab di tengah bangsa yang buta huruf. Dan manusia kitab itulah yang akan menjadi saksi pertama—saksi yang paling menentukan—ketika sang Nabi keluar dari gua dengan tubuh gemetar. Sebab hanya orang yang pernah membaca tentang langit, yang bisa mengenal suara langit ketika suara itu akhirnya turun.
|
||||
|
||||
Wallahu a‘lam.
|
||||
@@ -0,0 +1,25 @@
|
||||
**BAB 4: Perjalanan Mencari Kebenaran — Taurat dan Injil**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku.
|
||||
|
||||
Ada kalanya hati manusia bagaikan burung yang dipagari sangkar emas. Pagar itu indah dipandang mata, tetapi bagi sayap yang ingin menggapai awan, emas itu adalah penjara. Demikianlah hati Waraqah bin Naufal di tengah keluarga besar Quraysh. Ia lahir dari klan Banu Asad, diselimuti nama mulia Qusayy, dikelilingi oleh darah bangsawan Mekah. Namun semakin ia besar, semakin ia merasa sesak. Hubal dan berhala-berhala yang berjejer di sekitar Ka‘bah bukanlah tuhan-tuhan yang bisa ia sembah dengan tenang. Ia mendengar bisikan di dalam dadanya—bisikan *fitrah*—yang berkata, “Ini bukan jalan Ibrahim. Ini bukan agama Ismail.” Tetapi di mana jalan yang benar? Di Mekah, tidak ada yang bisa menjawab. Maka Waraqah memutuskan sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh seorang Quraysh: ia meninggalkan kota kelahirannya, bukan untuk berdagang unta atau mencari emas, melainkan untuk mencari Tuhan.
|
||||
|
||||
Allah Ta‘ala berfirman: *“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”* (Surah Al-‘Ankabut: 69). Wahai saudaraku, ayat ini bukan hanya bunyi; ia adalah hukum alam yang berlaku di setiap zaman. Barang siapa yang benar-benar berjalan, niscaya Allah bukakan pintu. Waraqah berjalan. Entah berapa lama perjalanannya, entah berapa kali ia melewati lembah-lembah gersang dan pasir-pasir yang membakar telapak kaki, tetapi riwayat-riwayat lama mengabarkan bahwa ia sampai ke negeri Syam—negeri yang waktu itu masih di bawah naungan Romawi, negeri yang jalan-jalannya pernah dipijak oleh kaki para nabi. Di sana, ada orang-orang yang menyimpan kitab. Di sana, ada para rahib yang tinggal di biara-biara gunung, dan ada orang-orang Yahudi yang di kota-kota mereka masih membaca Taurat dengan lisan yang fasih. Waraqah mendekati mereka bukan sebagai turis, melainkan sebagai murid yang lapar. Ia ingin belajar. Ia ingin tahu apa yang tertulis dalam kitab-kitab yang dikatakan datang dari langit.
|
||||
|
||||
Di sinilah letak keajaiban yang tidak banyak orang ketahui, wahai saudaraku. Seorang Arab Quraysh yang buta huruf menurut adatnya, tapi berbakat menurut fitrahnya, mulai menuntut ilmu pada orang-orang *Ahlul Kitab*. Ia belajar bahasa Ibrani—bahasa yang huruf-hurufnya tidak seperti tulisan Arab, bahasa yang meliuk-liuk seperti sungai kecil di tengah batu-batu keras. Dengan tekad yang membuat gurunya heran, Waraqah mempelajari Taurat, kitab yang diturunkan kepada Musa ‘alaihis-salam, dan Injil, kabar gembira yang dibawa oleh Isa ‘alaihis-salam. Ia tidak hanya mendengarkan bacaan dari mulut ke mulut sebagaimana kebiasaan bangsa Arab menghafal syair. Tidak. Ia membaca sendiri dari lembaran-lembaran yang usang. Dan karena ia begitu asyik dengan huruf-huruf itu, ia sampai-sampai menulis bahasa Arabnya dengan huruf Ibrani—sebuah keanehan yang membuat orang-orang Mekah ternganga ketika mereka melihat tulisannya kelak. “Apa ini?” tanya mereka. “Ini adalah tulisan orang yang pergi terlalu jauh,” jawabnya dalam hati. Tetapi Waraqah tahu, pergi jauh itu lebih baik daripada duduk diam dalam kebodohan.
|
||||
|
||||
Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: *“Dialah yang telah mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah, sedangkan sebelumnya mereka dalam kesesatan yang nyata.”* (Surah Al-Jumu‘ah: 2). Ayat ini turun nanti untuk Nabi kita *shallallahu ‘alaihi wa sallam*, tetapi rohnya sudah beredar di udara sebelum ayat itu turun. Waraqah adalah orang buta huruf yang telah mulai melihat. Ia telah menemukan kitab. Ia telah menemukan hikmah. Tetapi ia belum menemukan pembawa kitab yang baru. Dan justru karena itulah, ia terus mencari.
|
||||
|
||||
Dalam lembaran Taurat, Waraqah menemukan kisah-kisah yang menghujam dadanya. Ia membaca tentang penciptaan langit dan bumi dengan kalimat yang begitu agung, tentang Musa yang berdialog langsung dengan Tuhan, tentang umat yang terus menerus berkhianat tetapi Tuhan tetap mengirimkan nabi demi nabi. Kemudian ia membuka Injil, dan di sana ia mendengar suara Isa ‘alaihis-salam yang lembut namun penuh kekuatan, membawa rahmat dan penyembuhan. Tetapi yang paling membuat jantungnya berdebar-debar bukanlah kisah-kisah lama itu. Melainkan nubuat. Nubuat tentang seorang yang akan datang sesudah Isa. Seorang *Ahmad*. Seorang *Parakletos*—pelipur lara, penghibur, yang akan membawa kebenaran sempurna. Waraqah membaca dengan mata yang semakin berkaca-kaca. “Bolehkah ini?” bisiknya pada dirinya sendiri di malam-malam sunyi. “Bolehkah yang dinubuatkan itu adalah seorang dari bangsaku sendiri? Dari tanah Arab yang kering ini?” Ia teringat bahwa Ibrahim ‘alaihis-salam pernah berdoa di lembah yang sama: *“Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah…”* (Surah Al-Baqarah: 129). Waraqah merasa, doa Ibrahim itu belum usai terjawab. Ada yang masih ditunggu oleh langit.
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa ilmu yang dicari dengan jujur tidak pernah sia-sia. Ada orang yang belajar untuk jadi kaya, dan ilmunya menjadi racun. Ada orang yang belajar untuk jadi terpandang, dan ilmunya menjadi tali kekang yang membelenggu orang lain. Tetapi ada juga orang yang belajar untuk mencari Tuhan, dan ilmunya menjadi lentera yang tidak pernah padam. Waraqah bukanlah rahib yang menutup diri di biara. Ia bukan pula pendeta yang berkotbah di mimbar. Ia adalah seorang Quraysh yang pulang ke Mekah dengan hati yang penuh tetapi tetap rendah. Ia tidak berteriak di pasar, “Aku menemukan kebenaran!” Ia hanya duduk di rumahnya, di dekat istrinya yang mulia Hala binti Khuwaylid, dan terus membaca. Ia menunggu. Ia menyaksikan kaumnya berlari mengelilingi berhala, dan hatinya berkata, “Tunggu. Sabar. Yang kau baca dalam kitab itu pasti akan datang. Sebab Allah tidak pernah meninggalkan janji-Nya.”
|
||||
|
||||
Sabda Nabi kita *shallallahu ‘alaihi wa sallam* yang diriwayatkan dalam kitab *Shahih Muslim*: *“Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan mencabutnya dari dada manusia, tetapi Dia mengangkat ilmu dengan mengambil para ulama…”* Wahai saudaraku, Waraqah pada waktu itu adalah ulama yang tersisa di tengah bangsa yang buta huruf. Bukan ulama yang banyak murid, tetapi ulama yang banyak buku. Ia tidak mengajarkan kepada orang banyak, sebab siapa yang mau belajar? Orang-orang Quraysh lebih suka mendengarkan syair pemenang lomba daripada bacaan kitab suci. Tetapi Waraqah tidak putus asa. Ia memahami firman Allah: *“Tidakkah berhati-hatilah orang-orang yang beriman, bahwa jika Allah menghendaki, tentu Dia akan memberi petunjuk kepada semua manusia.”* (Surah Ar-Ra‘d: 31). Allah memberi petunjuk sesuai takarannya. Bukan semua orang buta huruf harus jadi penulis. Tetapi butuh ada satu-dua mata yang melihat, supaya ketika cahaya datang, ada yang bisa mengenalnya. Waraqah adalah salah satu dari sedikit mata itu.
|
||||
|
||||
Ketika malam semakin larut di rumahnya yang sederhana, pelitanya menyip, dan angin dari lembah mulai menerobos celah-celah kayu, Waraqah terkadang menutup kitabnya dan menatap langit. Bintang-bintang di atas Mekah tidak berbeda dengan bintang-bintang di atas Syam. Tuhan Yang Satu itu juga tidak berbeda. Tetapi di Mekah, tidak ada yang menatap bintang dengan mata hati. Mereka menatapnya hanya untuk menentukan arah kafilah. Waraqah menatapnya untuk menentukan arah jiwa. Ia telah membaca bahwa nabi-nabi dahulu diusir, disakiti, dianggap gila oleh kaumnya. Ia tahu bahwa jalan kebenaran tidak pernah lurus seperti jalan perdagangan dari Mekah ke Yaman. Jalan kebenaran selalu berliku, naik ke gunung, turun ke lembah, masuk ke gua-gua yang gelap. Dan Waraqah, di ujung usianya, telah bersedia. Ia berkata dalam hati, atau mungkin kepada Hala, istrinya, “Jika yang dinubuatkan itu datang, dan jika ia diusir oleh kaumnya sebagaimana Musa diusir, sebagaimana Isa dikejar, maka biarlah aku masih hidup untuk berdiri di belakangnya. Biarlah aku menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan.”
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, inilah buah dari perjalanan mencari kebenaran. Bukan hanya pengetahuan yang bertambah, tetapi keberanian yang tumbuh. Waraqah tidak perlu pasukan. Ia tidak punya harta yang melimpah untuk membeli tentara. Ia hanya punya kitab yang telah dibacanya berulang kali, dan hati yang telah disucikan oleh penantian. Dan ketika seseorang telah benar-benar menemukan Tuhan di dalam kitab-Nya, maka ia tidak lagi takut pada kehinaan dunia. Ia tidak lagi takut disebut aneh, disebut Nasrani, disebut Yahudi, atau disebut gila oleh kaum yang buta huruf. Sebab ia telah membaca bahwa firman Tuhan selalu dianggap gila oleh orang-orang yang tidak membaca. Allah berfirman: *“Dan demikianlah Kami tidak mengutus sebelum engkau seorang pemberi peringatan pun di negeri-negeri, melainkan orang-orang yang berkeluarga di antara mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami melihat bapak-bapak kami menyembah yang demikian ini, dan sesungguhnya kami hanya meniru mereka saja.’”* (Surah Az-Zukhruf: 23). Waraqah menolak meniru. Ia memilih membaca. Dan pembaca itulah yang kelak akan mengenal suara langit ketika suara itu akhirnya turun di Gua Hira.
|
||||
|
||||
Maka marilah kita, wahai saudaraku, belajar dari tekad lelaki tua ini. Janganlah kita berpuas diri dengan sedikit ilmu. Janganlah kita menganggap diri kita sudah cukup benar sementara mata hati kita masih belum pernah membaca kitab-kitab yang menjadi sumber cahaya. Dan janganlah kita takut disebut aneh karena kita rajin mencari Tuhan. Sebab pada akhirnya, bukan suara orang banyak yang menentukan kebenaran, melainkan seberapa jauh kau rela berjalan untuk menemukan-Nya.
|
||||
|
||||
Wallahu a‘lam.
|
||||
@@ -0,0 +1,25 @@
|
||||
**BAB 5: Silsilah dan Keluarga — Pertalian dengan Khadijah**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku.
|
||||
|
||||
Sebelum kita melangkah lebih jauh ke gua dan wahyu, marilah kita berhenti sejenak di depan sebuah rumah yang dindingnya terbuat dari batu-batu hitam Mekah, dengan pintu kayu yang rendah dan halaman kecil tempat ayam-ayam kampung mencari berkas gandum. Rumah ini bukan rumah orang kaya yang berbangga dengan serambi luas dan bejana tembaga mengkilap. Tetapi rumah ini adalah salah satu tempat paling mulia di lembah itu, karena di dalamnya tinggal seorang wanita yang namanya kelak akan melekat pada sejarah terindah umat manusia: Khadijah binti Khuwaylid. Dan di balik tembok yang sama, dalam keluarga yang sama, terpautlah benang merah yang menghubungkan hati Khadijah dengan hati Waraqah bin Naufal. Wahai saudaraku, sejarah itu tidak terjadi di udara kosong. Ia terjadi di dalam rahim keluarga, di antara darah yang mengalir dari nenek moyang yang sama, di dalam kasih sayang yang ditanam sejak kanak-kanak. Kalau engkau ingin tahu mengapa Khadijah, pada saat yang paling genting, membawa suaminya yang gemetar itu ke rumah Waraqah, maka jawabannya ada di sini: karena mereka adalah keluarga.
|
||||
|
||||
Bayangkanlah pohon besar Quraysh. Akarnya menancap pada Fihr, yang mereka sebut Quraish, lalu bertumbuh menjadi ranting-ranting. Di antara ranting-ranting itu ada klan Banu Asad, salah satu cabang yang tidak sebesar Bani Hashim atau Bani Umayyah, tetapi cukup terhormat untuk dikenal. Di sini, wahai saudaraku, kita jumpai Khuwaylid bin Asad, seorang laki-laki Quraysh yang gagah dan kaya, dikenal dengan julukan *al-Kurazi* karena perdagangannya, tetapi juga dikenal dengan hati yang mulia. Dari istrinya, Fatimah binti Za'idah, lahirlah seorang putri yang amat berharga: Khadijah. Dan dari ibu yang sama, atau dari ayah yang sama dengan garis keturunan yang berbeda tapi masih dalam Banu Asad, lahirlah pula Hala binti Khuwaylid, adik kandung Khadijah. Mereka tumbuh dalam satu rumah, menyusu dari satu kebiasaan luhur, dan melihat ayah mereka berdagang dengan amanah yang membuat namanya harum di seluruh Hijaz. Ketika Khuwaylid wafat, harta yang ditinggalkan besar, tetapi yang lebih besar adalah nama baik. Khadijah mewarisi tidak hanya unta dan uang, melainkan juga karakter: kejujuran, ketabahan, dan kemurnian hati. Orang-orang Mekah memanggilnya *ath-Thahirah* — sang suci. Dan Hala, adiknya, mewarisi pula kemuliaan itu, hanya saja Hala tidak terkenal di pasar-pasar dagang, melainkan tersembunyi di balik dinding rumah, menanti seorang laki-laki yang sepadan.
|
||||
|
||||
Lalu di ranting lain pohon yang sama, dari Naufal bin Asad, lahirlah Waraqah. Dengan demikian, wahai saudaraku, Waraqah dan Khadijah adalah sepupu. Mereka berbapa dari saudara kandung yang sama, Asad, yang menjadikan mereka bertemu dalam majelis-majelis keluarga sejak kecil. Tetapi kemudian, takdir menulis lembaran yang lebih indah. Waraqah, setelah pulang dari perjalanan mencari kebenaran, setelah hatinya dipenuhi cahaya hanif dan kitab-kitab suci, menikahi Hala binti Khuwaylid. Dengan pernikahan itu, Waraqah tidak lagi hanya sepupu Khadijah. Ia menjadi iparnya, suami dari adik kandungnya. Maka ketiga mereka — Khadijah, Hala, dan Waraqah — berkumpul dalam satu rumah besar kasih sayang, satu keluarga yang darahnya mengalir dari Banu Asad, tetapi jiwanya lebih tinggi daripada bangga-banggaan nasab. Mereka tidak berteguk saku sambil menyombongkan jumlah unta. Mereka berbagi bisikan tentang Tuhan Yang Satu.
|
||||
|
||||
Di tengah kaum Quraysh yang bangga dengan persaingan dan fanatisme klan, keluarga ini adalah anomali. Khadijah, wanita kaya yang dilirik oleh banyak laki-laki Mekah, menolak lamaran demi lamaran setelah suami pertamanya Abu Halah wafat. Ia tidak mencari harta yang lebih besar — sebab hartanya sudah besar. Ia mencari hati yang bersih. Dan ketika seorang laki-laki muda dari Bani Hashim yang terkenal jujur — Muhammad — memimpin kafilahnya ke Syam, dan kembali dengan untung yang berlipat ganda, Khadijah mendengar dari pembantu lakinya, Maisyarah, tentang keistimewaan laki-laki itu. Tetapi bukan hanya Maisyarah yang bercerita. Ada pula bisikan dari keluarganya sendiri. Waraqah, yang memang telah lama mengenal Muhammad sebagai anak keponakan dari jauh — sebab Muhammad adalah anak Abdullah bin Abdul Muththalib dari Bani Hashim — mungkin pernah berkata kepada Khadijah, atau kepada Hala, di suatu malam ketika cahaya pelita bergetar di dinding, “Lelaki itu berbeda. Aku melihat di matanya ketenangan yang tidak kumiliki. Hatinya bersih seperti halaman Ka‘bah sebelum dijejali berhala.” Dan Khadijah, yang percaya pada penilaian Waraqah, semakin mantap hatinya. Kalau Waraqah — yang membaca Taurat dan Injil, yang tidak pernah memuji sembarang orang — memandang laki-laki itu istimewa, maka sesungguhnya istimewalah dia.
|
||||
|
||||
Sabda Nabi kita *shallallahu ‘alaihi wa sallam* yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: *“Nikahilah wanita-wanita itu karena empat hal: karena hartanya, karena nasabnya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Dan pilihlah yang baik agamanya, niscaya beruntunglah engkau.”* Wahai saudaraku, Khadijah tidak perlu memilih karena harta, sebab ia sendiri adalah harta. Ia tidak memilih karena nasab semata, sebab nasabnya sudah cukup mulia. Ia memilih Muhammad karena agama — bahkan sebelum agama itu datang dengan nama Islam. Ia memilih karena hati. Dan Waraqah, ipar sekaligus sepupunya, adalah saksi hati itu. Di antara keluarga Quraysh yang sibuk menghitung unta dan merajut diplomasi dagang, ada tiga jiwa — Khadijah, Hala, Waraqah — yang menghitung detak jantung ketakwaan. Maka ketika Khadijah akhirnya mengirim lamaran kepada Muhammad *shallallahu ‘alaihi wa sallam* — dengan keberanian yang jarang dimiliki wanita pada zamannya — ia melakukannya bukan sebagai wanita yang putus asa, melainkan sebagai wanita yang sudah mendengar persetujuan langit dari mulut Waraqah. Keluarganya, yang berbagi cahaya yang sama, tidak menentang. Hala, istrinya Waraqah, tentu tersenyum. Mereka tahu, rumah Khadijah akan menjadi rumah yang paling terang di Mekah.
|
||||
|
||||
Tetapi wahai saudaraku, rumah tangga bukan hanya soal cinta berdua. Muhammad dan Khadijah membangun sebuah benteng di tengah Jahiliah. Di dalamnya lahir anak-anak: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah, dan putra-putra yang wafat ketika masih kecil. Khadijah menjadi penopang, bukan hanya dengan hartanya yang ia salurkan untuk dakwah nanti, tetapi dengan jiwanya yang tidak pernah goyah. Dan Waraqah, di rumahnya yang bersebelahan atau mungkin tidak jauh, tetap menjadi tempat bertanya. Sebagai ipar, ia bukan pengganggu. Ia adalah penjaga pintu yang menunggu. Hala, istrinya, seringkali menjadi pembawa kabar antar kedua rumah. “Khadijah berkirim salam,” katanya. “Dan bertanya, apakah lelaki itu memang yang dinubuatkan dalam kitab?” Waraqah akan tersenyum getir, menatap Tauratnya yang terbuka. “Belum waktunya, Hala. Tetapi aku merasa dekat. Sangat dekat.”
|
||||
|
||||
Allah Ta‘ala berfirman: *“Dan Allah menjadikan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri.”* (Surah An-Nahl: 72). Wahai saudaraku, ayat ini bukan hanya hukum biologi, melainkan juga hukum spiritual. Allah menjodohkan hati yang sejenis. Waraqah dan Hala adalah jenis yang sama: keduanya mencari Tuhan. Khadijah dan Muhammad adalah jenis yang sama: keduanya dibersihkan oleh ketulusan. Maka ketika Allah hendak mengutus wahyu pertama, bukan ke masjid, bukan ke istana, bukan ke pasar, melainkan ke Gua Hira, dan bukan kepada orang lain, melainkan kepada Muhammad — maka tidaklah mengherankan bahwa setelah turun dari gua, lelaki itu berlari bukan ke rumah pamannya Abu Thalib, melainkan ke rumah istrinya. Dan Khadijah, setelah mendengar cerita suaminya, tidak berkata, “Kau gila,” sebagaimana mungkin dikatakan oleh istri-istri lain di Mekah. Ia berkata, “Tidak, demi Allah, Allah tidak akan mempermalukanmu.” Kemudian, setelah menenangkan suaminya, ia membawanya ke rumah Waraqah. Mengapa? Karena dalam keluarga mereka, Waraqah adalah penentu arah. Ia adalah kompas yang tidak pernah salah menunjuk utara. Kalau Waraqah mengatakan ini dari Allah, maka Khadijah tidak akan ragu. Kalau Waraqah mengatakan ini hanya mimpi biasa, maka Khadijah akan menenangkan suaminya dengan cara lain. Ipar dan sepupu itu adalah penasihat terakhir, sekaligus penasihat pertama.
|
||||
|
||||
Di sinilah letaknya hikmah, wahai saudaraku. Keluarga itu bukan hanya tempat makan dan tidur. Keluarga adalah tempat hati diuji. Ketika seseorang melihat cahaya yang tidak dilihat orang lain, siapa yang percaya padanya? Istri dan ipar. Ketika seseorang gemetar karena takut, siapa yang menenangkan? Keluarga. Quraysh di luar sana sibuk menghitung unta, tetapi di dalam rumah Waraqah dan Khadijah, mereka menghitung detik-detik ketika nubuat itu akan jadi nyata. Waraqah telah tua. Khadijah telah menjadi wanita yang kehilangan dua suami sebelum Muhammad, dan sekarang menemukan suami terakhir yang paling mulia. Hala berdiri di antara keduanya, membawa air minum di siang panas, menenangkan bayi-bayi di malam hari. Tidak ada istana, tidak ada prajurit. Hanya ada tiga jiwa yang menunggu, dan unta-unta yang sesekali menggerutu di kandang.
|
||||
|
||||
Maka janganlah kau meremehkan silsilah dan keluarga, wahai saudaraku. Bukan untuk kita bangga-banggaan nasab seperti orang Jahiliah yang mengira darah biru bisa membeli surga. Tidak. Tetapi supaya kita tahu bahwa kebaikan itu menular dalam rumah. Siapa yang memiliki ipar seperti Waraqah, maka hatinya akan condong pada kitab. Siapa yang memiliki isteri seperti Khadijah, maka lemahnya akan jadi kuat. Allah berfirman: *“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.”* (Surah At-Taubah: 71). Penolongan itu dimulai dari rumah. Dari dapur yang berasap, dari serambi yang berdebu, dari meja kayu tempat kitab dibuka. Waraqah membantu Khadijah tanpa pamrih. Khadijah membantu Muhammad tanpa pamrih. Dan hala mereka semua bersatu: menanti sang Pembawa Cahaya.
|
||||
|
||||
Marilah kita, wahai saudaraku, merawat keluarga kita dengan cara yang sama. Jadikanlah rumahmu seperti rumah keluarga ini: tempat di mana hati yang mencari Tuhan bisa bertanya, tempat di mana istri bisa mempercayakan suaminya kepada ipar yang alim, tempat di donde kebenaran lebih didengar daripada gosip tetangga. Sebab ketika Gua Hira akhirnya berbicara, hanya rumah yang telah lama menanti yang bisa menyambut suara itu dengan tenang. Rumah Khadijah dan Waraqah telah menanti. Dan sekarang, wahai saudaraku, malam itu tiba. Malam yang mengubah sejarah. Malam yang menggetarkan Jabal Nur. Marilah kita beranjak meninggalkan rumah-rumah batu ini untuk menaiki gunung, masuk ke dalam gua yang gelap, dan menyaksikan bagaimana langit pertama kali menyentuh bumi.
|
||||
|
||||
Wallahu a‘lam.
|
||||
@@ -0,0 +1,29 @@
|
||||
**BAB 6: Gua Hira — Malam yang Mengubah Sejarah**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku.
|
||||
|
||||
Di sebelah utara Mekah, menjulang sebuah gunung yang namanya bukanlah tercatat di peta-peta kebesaran dunia, tetapi tercatat di lauhul mahfuzh sebagai tempat di mana langit pertama kali menyentuh dada seorang manusia setelah sekian lama sunyi. Gunung itu disebut Jabal Nur, gunung cahaya. Bukan karena batunya bersinar, melainkan karena dari puncaknya, pada suatu malam yang dingin, akan turun cahaya yang mengalir sampai ke hari-hari kita kini. Dan di lerengnya yang curam, ada sebuah liang batu tidak lebih lebar dari dua dada manusia, tidak lebih tinggi dari sikap berdiri seorang hamba yang tunduk. Itulah Gua Hira. Tempat yang sepi, sunyi, dan anginnya membawa suara yang hanya didengar oleh telinga hati.
|
||||
|
||||
Sebelum malam itu datang, ada seorang lelaki berusia empat puluh tahun, dari klan Bani Hashim, yang setiap tahun selama Ramadan meninggalkan rumahnya di lembah. Ia bukan lari dari hutang, bukan pula mengasingkan diri karena dosa. Ia pergi untuk *tahannuth*, untuk menyendiri, membersihkan hati dari bau unta dan debu pasar, dan bermunajat kepada Allah Yang Maha Esa dengan cara yang diajarkan oleh leluhurnya Ibrahim ‘alaihis-salam, jauh sebelum berhala-berhala mengotori Mekah. Lelaki itu membawa sedikit bekal kurma dan air, naik ke gunung, masuk ke gua yang gelap, dan duduk bersimpuh menghadap arah Ka‘bah yang terlihat samar di kejauhan. Sinar matahari terbenam, bintang-bintang muncul, dan ia terus berdoa. Bukan dengan doa yang panjang dan puitis seperti syair lomba di pasar, tetapi dengan doa yang keluar dari dada yang sesak, yang berkata, “Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku jalan yang benar.” Wahai saudaraku, barang siapa yang benar-benar mencari dengan hati yang lapar, maka langit tidak pernah mengecewakannya. Itulah hukum yang berlaku sejak Adam, dan itulah hukum yang akan kita lihat terjadi pada malam ini.
|
||||
|
||||
Malam itu bukan malah biasa. Lelaki itu — Muhammad bin Abdullah, yang kita kenal dan cintai sebagai Nabi akhir zaman — sedang tidur di gua yang dingin. Tidurnya bukan tidur orang lelah yang hanya ingin melupakan hari. Tidur itu adalah satu napas antara dua dunia. Tiba-tiba ia terbangun. Ada suara yang bukan suara angin. Ada bayangan yang bukan bayangan batu. Ia melihat sesuatu yang menyuruhnya dengan suara lantang dan tegas, “*Iqra‘!*” Bacalah! Lelaki itu, yang tidak pernah belajar menulis di hadapan guru, yang tidak pernah menyentuh tinta, menjawab dengan getar, “Ma ana bi-qari, ma ana bi-qari, ma ana bi-qari” — Aku tidak bisa membaca, aku tidak bisa membaca, aku tidak bisa membaca. Sebanyak tiga kali ia menolak, bukan karena sombong, melainkan karena kejujuran seorang yang tidak pernah pandai huruf. Tetapi malaikat itu — yang kemudian kita kenal sebagai Jibril ‘alaihis-salam — tidak mundur. Ia merangkul Nabi dengan kuat, sekuat-kuatnya, sampai Nabi merasa sesak napas. Lalu dilepaskannya. Kemudian malaikat itu berkata lagi, “*Iqra‘ bismi Rabbika alladzi khalaq. Khalaqal-insana min ‘alaq. Iqra‘ wa Rabbuka al-Akram. Alladzi ‘allama bil-qalam. ‘Allamal-insana ma lam ya‘lam.*” Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan pena. Yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, baca ayat itu perlahan-lahan. Rasakanlah getarannya. Bukan hanya Muhammad yang gemetar di gua itu. Langit pun gemetar ketika firman itu turun untuk pertama kali setelah enam ratus tahun sejak Isa ‘alaihis-salam. Ini bukan syair yang bisa ditandingi oleh tujuh pen syair Mekah. Ini bukan hikmah yang bisa ditulis oleh filsuf Romawi. Ini adalah kalamullah, firman Tuhan Yang Hidup, yang turun ke atas hati seorang manusia yang tidak bisa baca-tulis, supaya manusia itu menjadi pembaca bagi seluruh umat manusia yang buta. Subhanallah! Sebegitu mulianya malam itu. Sebegitu dahsyatnya pertemuan antara langit dan bumi.
|
||||
|
||||
Kemudian, selesai sudah. Malaikat itu menghilang. Gua kembali gelap. Gunung kembali sunyi. Tetapi dada Muhammad tidak lagi miliknya sendiri. Ada sesuatu yang begitu berat, begitu mencekam, seakan-akan gunung itu diletakkan di atas dadanya. Ia berdiri, kakinya lemah, tubuhnya gemetar bagaikan daun di tengah badai. Ia turun dari Jabal Nur, bukan dengan langkah seorang pemenang, melainkan dengan langkah seorang hamba yang baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak sanggup dijalannya. Wahai saudaraku, kenabian itu bukan harga yang murah. Ia bukan gelar kehormatan yang digantungkan di dinding. Ia adalah beban langit yang ditimpakan ke atas bahu manusia. Muhammad turun, dan langit di atas Mekah masih hitam. Tidak ada petir menyambut. Tidak ada genderang dari Ka‘bah. Semua orang tidur pulas, tidak tahu bahwa sejarah baru saja dilahirkan di gua batu yang sunyi.
|
||||
|
||||
Turunlah ia ke lembah, dengan hati yang ingin meletakkan beban itu di pangkuan seseorang. Siapa yang bisa menerima? Siapa yang tidak akan mengatakan, “Kau gila, Muhammad”? Ia berlari pulang ke rumahnya. Di sana menunggu istrinya, Khadijah binti Khuwaylid, yang mungkin pada malam itu juga belum bisa tidur tenang sebab hatinya merasakan sesuatu akan terjadi. Ketika pintu terbuka, Muhammad masuk bukan dengan senyum suami pulang dari dagang, melainkan dengan tubuh yang berguncang, wajah yang pucat, dan suara yang hampir tidak keluar dari tenggorokan. Ia berkata kepada Khadijah, sebagaimana yang dirwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam *Shahih al-Bukhari*, dengan lafazh yang sampai ke kita melalui riwayat yang suci: *“Zammiluni, zammiluni” — Selimutkan aku, selimutkan aku.* Maka Khadijah menyelimutkannya. Ia duduk di samping suaminya, dengan hati yang sejak awal pernikahan telah yakin bahwa lelaki ini berbeda. Ia tidak bertanya dengan suara tajam. Ia bertanya dengan suara ibu, dengan suara isteri, dengan suara sahabat: “Wahai Abu al-Qasim, apa yang menimpamu?”
|
||||
|
||||
Dan Muhammad, setelah napasnya sedikit tenang, menceritakan apa yang ia lihat. Ia melihat malaikat. Ia merasa sesak. Ia mendengar perintah membaca. Khadijah mendengarkan tanpa menyela. Matanya tidak melebar karena kaget palsu, tetapi berkaca-kaca karena simpati yang mendalam. Lalu Khadijah berkata sesuatu yang menunjukkan betapa mulianya hati seorang wanita yang telah dipersiapkan Allah untuk menjadi isteri pertama dalam Islam. Ia berkata, tidak dengan nada ragu, melainkan dengan keteguhan yang menggetarkan batu-batu Mekah: “Khabbiki wala ‘adhi, wa wallahi la yukhzikallahu abadan. Fa innaka latashillu al-ma‘rudh, wa tat‘udu al-hadits, wa taqdi al-baidha, wa takshifu al-dayn, wa ta‘udu al-haidz, wa ta‘inu ala nawa’ib al-haqq.” — Bashirkanlah dan janganlah engkau bersedih. Demi Allah, Allah tidak akan mempermalukanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau membalas kebaikan, engkau menepati janji, engkau menanggung beban kesusahan, engkau memaafkan orang yang berbuat kesalahan padamu, engkau memuliakan tamu, engkau menolong orang yang ditimpa musibah.
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, dengarkanlah ucapan Khadijah itu baik-baik. Ia tidak mengatakan, “Ah, mungkin itu hanya mimpi buruk karena lapar.” Tidak. Ia melihat langsung pada akhlak suaminya. Ia berkata, “Engkau tidak mungkin dipermalukan Allah, sebab engkau orang yang baik.” Ini bukan hiburan kosong. Ini adalah kesaksian hidup. Khadijah telah hidup bersama Muhammad selama lima belas tahun. Ia tahu bahwa suaminya tidak pernah berbohong, tidak pernah khianat, tidak pernah menyakiti siapa pun. Maka bagaimana mungkin Allah mempermainkan orang yang paling jujur di bumi? Tidak. Yang ia lihat di gua tadi pasti dari Allah.
|
||||
|
||||
Tetapi Khadijah, wahai saudaraku, bukan wanita yang hanya bergantung pada perasaannya. Ia adalah putri Khuwaylid, saudara Hala, ipar Waraqah. Ia tahu bahwa di rumahnya ada kompas yang menunjuk ke utara. Ia tahu bahwa Waraqah telah menanti-nanti kabar ini seumur hidupnya. Maka setelah Muhammad sedikit tenang, setelah selimut dibuka dan keringat dikeringkan, Khadijah berkata, “Aku akan membawamu kepada seseorang yang bisa menjelaskan apa yang kau lihat. Aku akan membawamu kepada Waraqah bin Naufal.”
|
||||
|
||||
Bayangkanlah, wahai saudaraku, langkah mereka berdua di malam yang masih gelap. Mungkin Khadijah memegang tangan suaminya yang masih dingin. Mungkin mereka melewati lorong-lorong batu yang sunyi, sementara anjing-anjing liar berhenti menggonggong seakan merasakan bahwa sesuatu yang besar sedang lewat. Mereka menuju rumah Waraqah. Rumah lelaki tua yang mata rabunnya masih terjaga oleh cahaya kitab. Rumah tempat Taurat dan Injil terbuka menanti. Rumah di mana seorang hanif yang telah membaca nubuat-nubuat itu, akan untuk pertama kali dalam hidupnya mendengar suara yang ia nanti-nantikan sejak pulang dari Syam: suara seorang nabi yang baru saja menerima wahyu.
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, ambillah dari malam ini beberapa pelajaran yang tidak akan usang oleh waktu. Pertama: kebenaran tidak datang kepada orang yang hanya duduk dan menunggu untung. Muhammad naik ke gunung. Ia berjalan. Ia bersusah payah. Baru kemudian wahyu turun. Kedua: ketika cahaya datang, ia tidak selalu datang dengan gembira. Ia bisa datang dengan gemetar, dengan sesak, dengan tangis. Janganlah engkau berpikir bahwa iman selalu manis. Imannya para nabi adalah iman yang pahit di awal, manis di akhir. Ketiga: ketika engkau gemetar, carilah orang yang hatinya bersih untuk menenangkanmu. Khadijah tidak memandang harta atau pangkat. Ia memandang akhlak. Dan keempat: ketika engkau bingung dengan cahaya yang baru menyentuh hatimu, carilah orang yang membaca. Carilah penuntut ilmu. Sebab hati yang bersih saja tidak cukup; butuh juga mata yang bisa membaca tanda-tanda langit. Itulah sebabnya Khadijah membawa Muhammad kepada Waraqah, bukan kepada orang lain di Mekah.
|
||||
|
||||
Maka berakhirlah malam itu di ambang pintu rumah Waraqah. Langit masih gelap. Bintang-bintang masih diam. Tetapi di dalam dada tiga orang — Muhammad yang baru menerima wahyu, Khadijah yang setia, dan Waraqah yang sedang membaca kitabnya menunggu — ada api yang mulai menyala. Api itu akan membakar seluruh Jahiliah. Tetapi sebelum api itu menjilat, mari kita masuk ke rumah Waraqah, duduk di tikarnya yang usang, dan dengarkanlah apa yang akan dikatakan oleh mulut yang telah lama membaca tentang Musa, ketika mulut itu kini berhadapan dengan pembawa wahyu yang lebih mulia dari Musa.
|
||||
|
||||
Wallahu a‘lam.
|
||||
@@ -0,0 +1,27 @@
|
||||
**BAB 7: Khadijah yang Setia — Menghibur Suami yang Gemetar**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku.
|
||||
|
||||
Pernahkah engkau melihat seorang laki-laki yang baru saja disentuh oleh tangan langit? Bukan sentuhan yang lembut seperti embun pagi, melainkan sentuhan yang dahsyat seperti petir yang menyambar puncak pohon. Tubuhnya utuh, tidak ada luka di kulit, tidak ada darah yang mengalir. Tetapi jiwanya berguncang seakan-akan baru saja menanggung beban gunung. Matanya terbuka lebar, tetapi yang dilihatnya bukan lagi dinding batu rumah atau wajah isteri yang dikenalnya. Ia masih berada di antara dua dunia: dunia yang biasa ia injak dengan telapak kaki, dan dunia yang baru saja menyeruak ke dalam dadanya dari gua di atas awan. Demikianlah Muhammad bin Abdullah *shallallahu ‘alaihi wa sallam* ketika ia tiba di rumahnya pada malam yang kelam itu. Dan demikianlah Khadijah binti Khuwaylid menemukannya: bukan sebagai suami yang pulang dari perdagangan unta, melainkan sebagai manusia yang baru saja dipilih oleh langit untuk menanggung rahasia besar.
|
||||
|
||||
Masuklah ia ke dalam rumah. Khadijah yang menunggu — mungkin sedang menyusun bantal, mungkin sedang meniup api dapur yang hampir padam — mendengar langkah yang bukan langkah biasa. Pintu terbuka, dan yang masuk adalah sosok yang tidak ia kenal: bukan wajahnya, tentu, wajah itu tetap Muhammad, tetapi cahaya di matanya bukan lagi cahaya manusia biasa. Tubuhnya menggigil. Bibirnya bergetar. Suaranya keluar dengan susah payah, seperti orang yang berlari berhari-hari di padang pasir tanpa air, padahal jarak dari Gua Hira ke rumahnya tidak lebih dari beberapa batu. Ia berkata dengan napas yang tersengal-sengal, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam kitab *Shahih al-Bukhari*, dengan lafazh yang sampai kepada kita melalui rantai para perawi yang suci: *“Zammiluni, zammiluni”* — Selimutkan aku, selimutkan aku. Maka Khadijah bergegas. Ia mengambil selimut yang ada, atau mungkin kain tebal yang biasa dipakai pada malam dingin, dan menyelimuti suaminya. Ia duduk di sisinya, bukan dengan tanya yang menusuk, bukan dengan curiga yang menusuk hati, melainkan dengan suara seorang ibu yang melihat anaknya jatuh dari pohon. “Wahai Abu al-Qasim, apa yang menimpamu?”
|
||||
|
||||
Muhammad menceritakan. Mungkin tidak semua, sebab lidahnya masih kelu. Mungkin hanya secuil: aku melihat malaikat, aku disuruh membaca, aku merasa sesak. Tetapi Khadijah mendengarkan dengan mata yang tidak berkedip. Ia tidak menyela. Ia tidak berkata, “Ah, itu hanya mimpi karena lapar.” Tidak. Hatinya yang telah hidup bersama lelaki ini selama lima belas tahun tahu bahwa suaminya tidak pernah berbohong tentang hal sekecil apa pun, apalagi tentang sesuatu yang sebesar ini. Muhammad itu *al-Amin*, orang yang dipercaya. Muhammad itu *ash-Shadiq*, orang yang benar dalam setiap ucap. Kalau ia berkata ia melihat malaikat, maka sesungguhnya ia melihat malaikat. Dan kalau ia gemetar, maka gemetar itu bukan ketakutan pada setan, melainkan getaran yang datang setelah melihat sesuatu yang terlalu besar untuk dada manusia.
|
||||
|
||||
Lalu Khadijah berkata. Wahai saudaraku, catatlah kalimat ini di dalam hatimu, sebab ini adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut seorang wanita yang menjadi Muslimah pertama di muka bumi, yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam *Shahih al-Bukhari*: *“Khabbiki wala ‘adhi, wa wallahi la yukhzikallahu abadan. Fa innaka latashillu al-ma‘rudh, wa tat‘udu al-hadits, wa taqdi al-baidha, wa takshifu al-dayn, wa ta‘udu al-haidz, wa ta‘inu ala nawa’ib al-haqq.”* — Bashirkanlah dan janganlah engkau bersedih. Demi Allah, Allah tidak akan mempermalukanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau membalas kebaikan, engkau menepati janji, engkau menanggung beban kesusahan, engkau memaafkan orang yang berbuat kesalahan padamu, engkau memuliakan tamu, dan engkau menolong orang yang ditimpa musibah.
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, dengarkanlah kebijaksanaan di balik ucapan itu. Khadijah tidak berkata, “Aku percaya karena aku mencintaimu.” Tidak. Ia menyebutkan bukti-bukti akhlak. Ia berkata, “Allah tidak akan mempermalukanmu, sebab engkau orang yang baik.” Ini adalah argumentasi yang paling tinggi. Ia tidak membela suaminya dengan emosi istri yang buta. Ia membelanya dengan saksi hidup yang telah ia lihat selama satu setengah dekade. Muhammad tidak pernah mengecewakan orang yang berbuat baik kepadanya. Muhammad tidak pernah mengingkari janji, bahkan janji kepada anak kecil yang menunggu mainan. Muhammad tidak pernah membiarkan orang kesusahan tanpa menolong, tidak pernah membiarkan tamu pergi tanpa makanan, tidak pernah menyakiti siapa pun. Maka bagaimana mungkin Allah Yang Maha Adil mempermainkan orang yang paling adil di bumi? Tidak. Yang Muhammad lihat di gua tadi pasti dari Allah. Pasti.
|
||||
|
||||
Di sinilah kita lihat, wahai saudaraku, bedanya antara cinta yang dangkal dengan cinta yang mengenal Tuhan. Cinta yang dangkal berkata, “Aku percaya padamu karena aku buta oleh keindahanmu.” Cinta Khadijah berkata, “Aku percaya padamu karena aku melihat Allah di dalam akhlakmu.” Allah berfirman: *“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.”* (Surah Ar-Rum: 21). Kasih dan sayang itu bukan hanya untuk bantal empuk di malam dingin. Kasih itu adalah cermin yang menunjukkan wajah sebenar. Khadijah adalah cermin pertama yang memantulkan cahaya Muhammad kembali kepadanya. Ketika ia melihat suaminya gemetar, ia tidak melihat orang gila. Ia melihat nabi yang belum ia kenal namanya, tetapi sudah ia kenal hatinya.
|
||||
|
||||
Tetapi Khadijah, wahai saudaraku, bukan wanita yang hanya bergantung pada perasaannya. Ia adalah putri Khuwaylid, saudara Hala, ipar Waraqah. Ia tahu bahwa di dalam keluarganya ada seorang lelaki tua yang telah membaca Taurat dan Injil, yang menanti-nanti kabar ini sejak pulang dari Syam. Kalau ada orang di Mekah yang bisa membedakan antara cahaya langit dengan kilauan setan, maka orang itu ialah Waraqah bin Naufal. Maka setelah napas Muhammad sedikit tenang, setelah selimut dibuka dan keringat di dahi dilap, Khadijah berkata dengan lembut tetapi tegas, sebagaimana seorang istri yang membawa suaminya bukan kepada dukun atau tukang ramal, melainkan kepada ilmu: “Marilah kita pergi kepada Waraqah. Ia bisa membaca apa yang kau alami. Ia bisa menjelaskan.”
|
||||
|
||||
Muhammad setuju. Mungkin ia juga merasa, hatinya yang baru saja dipenuhi oleh wahyu masih membutuhkan tangan manusia untuk berpijak. Maka berjalanlah mereka berdua di malam yang sunyi. Khadijah memegang tangan suaminya — bukan karena ia takut kehilangan, melainkan karena ia ingin memberi kekuatan. Mereka melewati lorong-lorong batu yang gelap, sementara langit di atas mereka mulai berubah warna dari hitam pekat menjadi biru tua di ufuk timur. Anjing-anjing liar yang biasanya menggonggong pada orang lewat, mungkin pada malam itu diam saja. Seakan-akan mereka juga merasakan bahwa sesuatu yang besar sedang berlalu. Langkah Khadijah tidak ragu-ragu. Ia adalah wanita yang biasa mengurus kafilah dagang sendirian, yang pernah berjalan dari Mekah ke Syam tanpa suami. Malam ini, ia bukan pedagang unta. Ia adalah penuntun hati. Ia membawa pembawa wahyu kepada orang yang bisa membaca tanda-tanda.
|
||||
|
||||
Tiba-tiba, di depan rumah sederhana milik Waraqah, mereka berhenti. Khadijah mengetuk pintu, atau mungkin tidak perlu mengetuk, sebab cahaya pelita dari dalam sudah menyilaukan celah-celah kayu. Waraqah masih terjaga. Ia sedang membaca kitabnya, seperti biasa, menanti fajar yang tidak tahu kapan datangnya. Ketika pintu terbuka, mata tua itu melihat Khadijah dan Muhammad. Ia melihat wajah pucat cucu iparnya. Ia melihat mata Muhammad yang masih membawa beban langit. Dan di dalam hati Waraqah yang rabun, ada sesuatu yang berdegup kencang. Seperti seorang yang telah membaca peta sekian lama, dan tiba-tiba melihat tanah yang dinantinya muncul di depan mata.
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, ambillah dari Khadijah ini beberapa biji hikmah yang tidak boleh kau lewatkan. Pertama: percayalah pada orang yang akhlaknya dikenal oleh langit. Jangan kau percaya pada orang hanya karena lidahnya manis, tetapi lihatlah apakah ia menepati janji, apakah ia menolong yang susah, apakah ia memaafkan yang bersalah. Kedua: ketika orang yang kau cintai ditimpa sesuatu yang besar, jangan kau hibur dengan dusta. Hiburlah dengan kebenaran. Khadijah berkata, “Allah tidak akan mempermalukanmu,” bukan “ah, nanti juga baik sendiri.” Ia berkata demikian karena ia tahu siapa Muhammad di hadapan Allah. Ketiga: hati yang bersih harus dibarengi dengan tindakan yang bijak. Khadijah tidak berkata, “Kita tunggu saja.” Tidak. Ia membawa Muhammad kepada ilmu. Ia mengerti bahwa wahyu dari langit butuh tafsir dari kitab yang pernah turun sebelumnya. Dan keempat: kasih sayang sejati bukan hanya menangis bersama, tetapi berjalan bersama menuju kebenaran.
|
||||
|
||||
Khadijah telah menenangkan suaminya. Sekarang, biarlah kita masuk ke rumah Waraqah. Biarlah kita duduk di tikar usangnya, di dekat pelita yang bergetar, dan dengarkan apa yang akan keluar dari mulut lelaki tua yang telah menanti-nanti malam ini seumur hidupnya.
|
||||
|
||||
Wallahu a‘lam.
|
||||
@@ -0,0 +1,43 @@
|
||||
**BAB 8: Rumah Waraqah — Saksi di Ujung Usia**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku.
|
||||
|
||||
Ada rumah-rumah di dunia ini yang tidak besar, yang dindingnya tidak dihiasi ukiran mewah, yang halamannya tidak berjajar bejana tembaga dari negeri Syam, tetapi ketika engkau melangkahkan kaki ke dalamnya, engkau merasa bahwa ada sesuatu di udara yang tidak bisa dibeli dengan ribuan unta. Rumah itu dipenuhi oleh bau kertas usang yang bergaul dengan bau dupa sederhana, oleh suara napas seorang tua yang dalam-dalam menghirup malam, dan oleh getaran hati yang telah lama menanti tamu dari langit. Rumah Waraqah bin Naufal adalah salah satunya. Di sudut Mekah yang sunyi, di antara batu-batu hitam yang dingin, pelitanya menyala redup pada malam yang kelam itu. Waraqah duduk bersimpuh. Matanya rabun — hampir buta — sebab usia telah merampas cahaya dari bola matanya, tetapi hatinya, wahai saudaraku, hatinya adalah mata yang tidak pernah rabur. Ia sedang memegang lembaran kitabnya, bukan untuk membaca dengan mata, sebab tulisan sudah kabur baginya, tetapi untuk merasakan tekstur kertas yang pernah menyimpan firman Tuhan. Ia membaca dengan jari, dan ia membaca dengan ingatan. Ia tahu di luar kepala kisah-kisah Taurat, bagaimana Musa gemetar ketika melihat api di Midian, bagaimana nabi-nabi diusir oleh kaumnya, bagaimana Isa dikejar oleh para pendeta Yahudi. Dan ia menanti. Ia menanti sambil berkata pada dirinya, atau mungkin pada Hala istrinya yang telah tidur di kamar sebelah, “Sudah dekat. Sangat dekat. Aku merasa napaskin terasa berbeda pada malam ini.”
|
||||
|
||||
Tiba-tiba ada ketukan di pintu. Ketukan yang bukan ketukan pencuri, bukan ketukan pengemis, bukan ketukan orang yang berburu minuman dingin pada malah panas. Ketukan itu tegas tetapi lembut, seperti ketukan hati yang tidak sanggup menahan rahasia lebih lama. “Siapa?” tanya Waraqah dengan suara serak. “Aku, Khadijah,” jawab dari luar. “Dan bersamaku Muhammad.”
|
||||
|
||||
Waraqah merasakan jantungnya berdegup satu kali yang keras. Seperti degup gendang sebelum lantunan qasidah dimulai. Ia berkata, cepat, hampir tersedak oleh emosi, “Masuklah.”
|
||||
|
||||
Pintu kayu terbuka. Khadijah masuk terlebih dahulu, memegang lengan suaminya yang masih dingin oleh keringat malam gunung. Muhammad bin Abdullah, yang baru saja turun dari Jabal Nur, yang masih membawa beban wahyu di dadanya seperti orang yang baru saja dipeluk oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya, melangkah masuk ke dalam rumah iparnya. Cahaya pelita menyilaukan sebentar, lalu redup, seakan-akan pelita itu sendiri merasa tidak pantas menerangi wajah yang baru saja dipandang oleh malaikat. Waraqah tidak melihat dengan jelas. Ia melihat bayangan, melihat postur tubuh, melihat keringat di dahi. Tetapi lebih dari itu, ia merasakan. Ia merasakan ada sesuatu di dalam ruangan yang bukan berasal dari Mekah. Ada angin dari Jabal Nur yang ikut masuk bersama Muhammad.
|
||||
|
||||
“Duduklah, wahai keponakanku,” kata Waraqah, sambil merangkak maju di atas tikar. Suaranya lembut, penuh dengan penantian yang terpendam sekian lama. “Khadijah, apakah yang menimpa suamimu?”
|
||||
|
||||
Khadijah, yang duduk di samping Muhammad, berkata dengan suara yang masih tegak meski hatinya berdebar, “Bibi bawa kepadamu yang kau tunggu-tunggu, wahai iparku. Bawalah apa yang kau ceritakan kepadanya, wahai Abu al-Qasim.”
|
||||
|
||||
Maka Muhammad menceritakan. Dengan suara yang masih bergetar, dengan napas yang masih tersengal, ia bercerita tentang Gua Hira, tentang tidurnya yang terputus, tentang malaikat yang datang dengan perintah *Iqra‘*, tentang pelukan yang membuat dadanya sesak seakan-akan tulang-tulangnya mau patah, dan tentang ayat-ayat yang keluar dari mulut malaikat seperti air terjun dari langit. Ia bercerita bagaimana malaikat itu kemudian pergi, meninggalkannya di tengah gelap gua dengan tubuh yang gemetar hebat, bagaimana ia turun dari gunung bukan dengan langkah manusia biasa, melainkan dengan langkah orang yang baru saja disentuh oleh tangan Tuhan. Waraqah mendengarkan. Matanya yang rabun terpejam. Tangannya yang keriput menggenggam erat lututnya. Ia tidak menyela sekali pun. Ia hanya mendengarkan, sebagaimana Musa mendengarkan Allah dari semak berapi: dengan takut yang dipenuhi harapan.
|
||||
|
||||
Ketika Muhammad selesai bercerita, sunyi. Sangat sunyi. Hanya suara angin malam yang menyelusup celah-celah dinding batu. Lalu Waraqah bin Naufal menghela napas panjang. Napas yang keluar dari dada seorang tua yang telah menanti berita ini selama bertahun-tahun. Ia mengangkat kepalanya. Matanya yang kabur mencoba menatap ke arah Muhammad, tetapi sebenarnya ia menatap jauh ke depan, ke masa depan, ke garis horizon sejarah. Dan ia berkata. Wahai saudaraku, catatlah kalimat ini dengan tinta emas di dalam hatimu, sebab ini adalah kalimat pertama yang mengakui kenabian dari mulut seorang manusia di luar malaikat, yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam *Shahih al-Bukhari*, yang sampai kepada kita dari mulut ke mulut dengan sanad yang suci: *“Hadha an-Namus alladzi anzallahu ‘ala Musa.”* — **Inilah Namus yang diturunkan Allah kepada Musa.**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, dengarkanlah bunyi kalimat itu di telingamu. Bukan “mungkin,” bukan “nampaknya,” bukan “barangkali mimpi bagus.” Tidak. Waraqah berkata dengan keyakinan yang bulat, dengan ilmu yang telah dipelajarinya berpuluh-puluh tahun, dengan hati yang telah disucikan oleh penantian. *Namus.* Rahasia yang besar. Malaikat pembawa wahyu yang datang kepada Musa di lembah Thuwa. Waraqah telah membacanya dalam Taurat. Ia telah mengetahui bagaimana Allah berfirman kepada Musa dari semak yang menyala. Dan sekarang, ketika Muhammad bercerita tentang malaikat yang datang dengan perintah *Iqra‘*, Waraqah langsung mengenal suara itu. Ia mengenal jejaknya. Sebagaimana orang yang telah belajar melihat bintang selama bertahun-tahun, ia bisa langsung menunjuk ke langit dan berkata, “Itulah bintang yang kutunggu.”
|
||||
|
||||
Tetapi Waraqah tidak berhenti di situ. Setelah menyaksikan, setelah mengenali, hatinya yang tua itu diliputi oleh dua perasaan yang bertarung: sukacita yang meluap-luap, sebab penantiannya telah terjawab, dan duka yang menusuk, sebab ia tahu hukum langit. Ia tahu bagaimana umat manusia menyambut para pembawa cahaya. Maka berkatalah ia kepada Muhammad dengan suara yang bergetar, penuh dengan harapan yang terhalang oleh usia, sebagaimana yang diabadikan dalam riwayat *Shahih al-Bukhari*: *“Ya laitani kuntu fataan, fa akuna ila waqt yakhrujuka qawmuka, fa akuna ma‘aka hizban qawiyyan.”* — **Alangkah baiknya seandainya aku masih muda, supaya aku bisa hidup sampai pada saat kaummu mengusirmu, maka aku akan menjadi pendukungmu yang kuat.**
|
||||
|
||||
Muhammad, yang masih duduk dengan kain selimut yang sebagian jatuh dari bahunya, mendongak. Ia belum pernah dipandang rendah oleh kaumnya. Ia adalah *al-Amin*, orang yang dipercaya, yang disegani. Maka dengan nada yang masih penuh keheranan, ia bertanya, sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah: *“Amukhrijiyahum qawmi?”* — **Apakah mereka akan mengusirku?**
|
||||
|
||||
Waraqah menjawab. Suaranya tidak tinggi, tetapi setiap kata jatuh seperti batu di dasar telaga: *“Na‘am. Ma ja’a ahadun bi-mithli ma ji’ta bihi illa usiya, wa in yusbirni Allah bi-yawmi yakhrujuka, fa innani la-hizun laka hizban qawiyyan.”* — **Ya. Tidak pernah seorang pun datang membawa seperti apa yang engkau bawa ini kecuali ia diperlakukan dengan permusuhan. Dan jika Allah memberiku umur panjang hingga hari engkau diusir, maka sesungguhnya aku akan menjadi pendukung yang sangat kuat bagimu.**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, bayangkanlah detik itu. Seorang tua yang hampir buta, yang tubuhnya sudah membungkuk, yang namanya tidak disebut-sebut di pasar-pasar Mekah, berkata kepada pembawa wahyu yang baru saja turun dari langit: “Aku akan berdiri di belakangmu. Aku akan melawan kaumku sendiri untukmu.” Ini bukan janji politik. Ini bukan janji yang dicari untung. Ini adalah janji yang keluar dari mulut yang telah membaca sejarah para nabi. Waraqah tahu bahwa jalan Muhammad tidak akan lurus. Ia tahu bahwa Quraysh yang sedang tidur pulas itu, begitu terbangun oleh seruan *La ilaha illallah*, akan menjadi singa-singa yang mengaum. Maka ia ingin menjadi tameng. Ia ingin menjadi orang yang mengulurkan tangan ketika semua orang menarik tangan mereka. Tetapi usia. Usia yang telah memakan matanya, yang melemahkan lututnya, berdiri sebagai tembok antara keinginan dan kenyataan. Maka hanya bisa ia ucapkan, “Alangkah baiknya seandainya aku masih muda.”
|
||||
|
||||
Allah Ta‘ala berfirman: *“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”* (Surah Qaf: 16). Wahai saudaraku, Waraqah mungkin tidak bisa melihat dengan mata, tetapi Allah melihat hatinya. Dan hati Waraqah pada malam itu adalah hati yang paling murni di Mekah. Ia tidak meminta bukti ajaib. Ia tidak meminta gunung dijinakkan atau matahari berhenti. Cukup dengan cerita Muhammad, dengan deskripsi malaikat, dengan perasaan sesak di dada, Waraqah langsung mengenal tanda tangan langit. Sebab ia telah belajar membaca tanda-tanda itu selama puluhan tahun. Ilmu itu bukan harta yang sia-sia. Ia adalah benih yang tertanam di ladang hati, yang tumbuh pada malah yang tepat.
|
||||
|
||||
Khadijah, yang duduk di antara keduanya, mendengarkan dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak perlu lagi bukti. Waraqah, yang tidak pernah mudah memuji, telah memuji suaminya dengan pujian yang paling tinggi: menyamakannya dengan Musa. Bukan dengan raja, bukan dengan pahlawan perang, tetapi dengan nabi yang berbicara langsung dengan Allah. Maka air mata Khadijah jatuh, bukan air mata sedih, melainkan air mata orang yang baru saja melihat keluarganya dipersatukan oleh kebenaran. Di rumah sederhana ini, pada malah yang masih gelap, tiga jiwa berkumpul: sang pembawa wahyu yang baru lahir, sang isteri yang setia, dan sang saksi yang tua. Tidak ada orang keempat. Tidak ada suara gonggongan anjing yang mengganggu. Hanya ada Allah yang menyaksikan dari atas tujuh langit, dan mungkin Jibril yang masih berdiri di ambang pintu tak kasat mata, mengangguk-angguk kecil melihat pengakuan pertama itu.
|
||||
|
||||
Waraqah kemudian memegang tangan Muhammad. Tangannya keriput, dingin, tetapi penuh kehangatan. “Pulanglah, wahai keponakanku,” katanya. “Istirahatkanlah tubuhmu. Besok, atau lusa, atau bulan-bulan yang akan datang, engkau akan membutuhkan tenaga yang lebih dari ini. Sebab apa yang turun kepadamu bukan beban biasa. Itu adalah amanat langit. Dan langit tidak pernah ringan.” Muhammad berdiri, dibantu oleh Khadijah. Ia melihat Waraqah untuk terakhir kali dalam keadaan sadar yang penuh. Ia melihat mata rabun itu yang masih berusaha menatapnya. Dan dalam hati Nabi yang masih muda itu, mungkin tumbuh sebuah kasih yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata: kasih kepada orang yang pertama kali mengenalnya, meski dunia belum mengenalnya.
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, ambillah dari malam ini beberapa butir mutiara yang tidak boleh hilang di lautan waktu. Pertama: ilmu yang dicari dengan jujur akan menjadi cermin yang memantulkan cahaya wahyu ketika wahyu datang. Tanpa Taurat dan Injil yang dibaca Waraqah, mungkin tidak akan ada pengakian yang begitu cepat dan tepat. Kedua: usia bukan penghalang untuk menjadi saksi, tetapi bisa menjadi penghalang untuk menjadi pejuang. Maka manfaatkanlah masa mudamu sebelum tua merampas kekuatanmu. Ketiga: pengakian kebenaran butuh keberanian. Waraqah tidak tahu apakah ia akan hidup sampai Muhammad diusir, tetapi ia berani berkata, “Aku akan berdiri di belakangmu.” Dan keempat: Allah tidak membiarkan hamba-Nya yang lapar menunggu tanpa jawab. Waraqah telah menunggu, dan malam itu, di ujung usianya, jawabannya tiba dalam bentuk wajah pucat seorang manusia yang baru saja turun dari Gua Hira.
|
||||
|
||||
Mereka pulang, Khadijah dan Muhammad, meninggalkan rumah yang pelitanya mulai meredup. Waraqah duduk sendirian, atau mungkin Hala sudah bangun dan duduk di sampingnya. Ia menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup. Ia berkata, mungkin pada istrinya, atau mungkin hanya pada malam yang sunyi, “Sudah datang. Yang kutunggu sudah datang. Sekarang, aku bisa mati.”
|
||||
|
||||
Tetapi mati, wahai saudaraku, bukanlah sesuatu yang bisa dipercepat atau diperlambat semau hati. Ia datang sesuai jadwal yang ditulis sebelum pena menggambar bumi. Waraqah masih hidup beberapa hari lagi. Beberapa hari yang menjadi fatrah — jeda — antara wahyu pertama dan wahyu berikutnya. Dan dalam jeda itu, ada rahasia yang besar. Tetapi itu adalah cerita untuk bab yang akan datang. Sekarang, biarlah kita berdiri sejenak di ambang pintu rumah Waraqah, merasakan sisa kehangatan dari tiga jiwa yang baru saja berkumpul, dan memahami bahwa rumah sederhana inilah yang menjadi saksi pertama pengakian kenabian di bumi Mekah.
|
||||
|
||||
Wallahu a‘lam.
|
||||
@@ -0,0 +1,35 @@
|
||||
**BAB 9: "Inilah Namus yang Diturunkan kepada Musa"**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku.
|
||||
|
||||
Ada kalanya dalam hidup manusia, satu kalimat saja cukup untuk mengubah arah sungai sejarah. Bukan kalimat yang panjang, bukan pidato yang berapi-api, bukan syair yang dilombakan di dinding Ka'bah. Hanya satu kalimat pendek, keluar dari mulut seorang tua yang hampir buta, duduk di atas tikar usang di sudut rumah batu Mekah. Tetapi kalimat itu adalah kunci yang membuka pintu antara langit dan bumi. Kalimat itu menyambungkan wahyu yang baru turun dengan kitab yang telah turun sejak enam ratus tahun sebelumnya. Kalimat itulah yang keluar dari bibir Waraqah bin Naufal ketika Muhammad bin Abdullah shallallahu 'alaihi wa sallam selesai bercerita tentang apa yang dialaminya di Gua Hira.
|
||||
|
||||
Bayangkanlah suasana di dalam rumah itu sejenak. Pelita bergetar di dinding, seakan-akan angin malam yang masuk dari celah-celah kayu ikut menahan napas. Khadijah duduk tegak, matanya terpaku pada Waraqah, menunggu. Muhammad duduk di seberang, tubuhnya masih lemas, tetapi jantungnya mulai tenang sebab ia merasa bahwa orang di hadapannya bukan orang sembarangan. Ini adalah Waraqah, si pembaca kitab, si penuntun yang telah pulang dari negeri Syam membawa Taurat dan Injil di dadanya. Dan Waraqah, setelah mendengarkan cerita dari awal sampai akhir tanpa menyela, mengangkat kepalanya. Matanya yang rabun mencoba menatap ke arah Muhammad, tetapi sebenarnya ia menatap jauh melampaui ruangan itu, melampaui batu-batu Mekah, melampaui bintang-bintang yang bergantung di langit. Ia berkata dengan suara yang tidak tinggi, namun setiap hurufnya jatuh seperti batu karang di dasar lautan: *"Hadha an-Namus alladzi anzallahu 'ala Musa."* **Inilah Namus yang diturunkan Allah kepada Musa.**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, dengarkanlah bunyi kalimat itu dalam hatimu. Sebelum kalimat itu, Muhammad adalah seorang lelaki yang gemetar, yang baru saja turun dari gunung dengan pengalaman yang tidak bisa dijelaskan kepada siapa pun di pasar. Sesudah kalimat itu, Muhammad adalah nabi. Bukan pengakuan dari orang banyak, bukan pengakuan dari penguasa, bukan pengakuan dari pena sejarawan. Tetapi pengakuan dari seorang yang telah belajar membaca tanda-tanda langit selama puluhan tahun. Waraqah tidak berkata, "Ah, mimpi yang indah." Tidak. Ia berkata, "Ini Namus." Dan apa itu Namus? Wahai saudaraku, Namus dalam bahasa Arab bermakna rahasia yang besar, rahasia yang disampaikan dengan perantaraan malaikat pembawa wahyu. Waraqah, yang telah membaca Taurat dalam bahasa Ibraninya, mengenal istilah ini. Ia tahu bagaimana Musa 'alaihis-salam, ketika berada di lembah Thuwa, melihat api di semak dan mendengar suara yang bukan suara angin. Itulah Namus. Malaikat yang membawa firman Allah, atau lebih dalam lagi, wahyu itu sendiri yang turun dengan keagungan yang menakjubkan. Maka ketika Waraqah menyebut "Namus," ia bukan hanya memberi nama pada pengalaman Muhammad. Ia sedang mengatakan, "Engkau telah mengalami apa yang dialami oleh Musa. Engkau telah dipilih oleh Tuhan Yang Menciptakan langit dan bumi."
|
||||
|
||||
Allah Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: *"Dan siapakah yang lebih benar ucapannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?'"* (Surah Fussilat: 33). Waraqah pada malam itu adalah orang yang paling benar ucapannya, sebab ucapan itu keluar dari mulut yang dipenuhi ilmu dan hati yang dipenuhi kejujuran. Ia tidak berkata dengan lidah yang lapar popularity. Ia berkata dengan lidah yang telah lama membaca tentang para nabi yang diusir, para rasul yang disalibkan dalam hati sebelum disalibkan di kayu, dan para pencari kebenaran yang mati sendirian di padang gurun. Maka ketika ia melihat Muhammad, ia melihat gambaran yang paling ia kenal dari kitab-kitab suci: gambaran seorang manusia biasa yang dipilih oleh langit untuk membawa berat yang tidak sanggup dijalankan oleh gunung-gunung.
|
||||
|
||||
Kemudian, sebagaimana yang diabadikan dalam riwayat Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha yang termasyhur dalam *Shahih al-Bukhari*, Waraqah tidak berhenti di situ. Pengakian itu, meski sudah cukup untuk menggembirakan hati, dibarengi oleh sebuah prediksi yang keluar dari pengetahuannya tentang sejarah para nabi. Ia berkata kepada Muhammad dengan nada yang getar, penuh kasih sayang tetapi juga penuh peringatan: *"Ya laitani kuntu fataan, fa akuna ila waqt yakhrujuka qawmuka, fa akuna ma'aka hizban qawiyyan."* **Alangkah baiknya seandainya aku masih muda, supaya aku bisa hidup sampai pada saat kaummu mengusirmu, maka aku akan menjadi pendukungmu yang kuat.**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, renungkanlah janji ini. Seorang tua yang hampir buta, yang klan-nya adalah Banu Asad dari Quraysh yang sama dengan kaum Muhammad, berkata, "Aku akan melawan kaumku sendiri untuk berdiri di belakangmu." Ia tidak berkata, "Aku akan berusaha melerai." Tidak. Ia berkata, "Aku akan menjadi hizb qawiyy — pasukan yang kuat." Pasukan bukan dari seribu tentara berkuda, melainkan pasukan dari satu jiwa yang telah dipersenjatai oleh ilmu. Waraqah tahu bahwa jalan kebenaran selalu dihiasi dengan batu-batu permusuhan. Ia telah membacanya dalam Taurat: bagaimana Firaun mengusir Musa, bagaimana Bani Israil berkhianat kepada nabi demi nabi, bagaimana para pendeta Yahudi mengejar Isa dari kota ke kota. Maka ia tahu, dengan kepastian yang tidak bisa digoyahkan oleh harapan palsu, bahwa Quraysh tidak akan menerima Muhammad dengan bunga dan kemenyan. Quraysh akan menerima Muhammad dengan ejekan, dengan batu, dengan pengusiran, dan mungkin dengan pedang.
|
||||
|
||||
Muhammad, yang pada waktu itu masih belum merasakan sepahit-pahitnya permusuhan, bertanya dengan heran, sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah: *"Amukhrijiyahum qawmi?"* **Apakah mereka akan mengusirku?** Suara itu keluar dari mulut seorang laki-laki yang baru saja disanjung oleh seluruh Mekah sebagai *al-Amin*. Bagaimana mungkin orang yang paling dipercaya diusir? Bagaimana mungkin orang yang paling dicintai dihalau? Tetapi Waraqah menjawab dengan kepastian yang mengetuk dada: *"Na'am. Ma ja'a ahadun bi-mithla ma ji'ta bihi illa usiya."* **Ya. Tidak pernah seorang pun datang membawa seperti apa yang engkau bawa ini kecuali ia diperlakukan dengan permusuhan.**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, ini bukan ramalan tukang sihir yang merabu-rabu nasib. Ini adalah pengetahuan tentang sunnatullah, hukum yang berlaku sejak Adam sampai Isa. Setiap kali kebenaran datang dalam bentuk yang murni, kebatilan akan berkumpul untuk melawannya. Sebagaimana firman Allah: *"Demikianlah setiap kali Kami mengutus seorang rasul kepada suatu negeri sebelum engkau (diutus), orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami hanya mengikuti jejak mereka saja.'"* (Surah Az-Zukhruf: 23). Waraqah telah membaca ayat-ayat seperti ini, bukan dalam Al-Qur'an yang belum turun, tetapi dalam semangat yang sama yang mengalir di Taurat dan Injil. Ia tahu bahwa kaum yang hidup mewah, yang berbangga dengan nasab dan berhala, tidak akan rela kehilangan kuasa mereka. Maka pengusiran bukan kemungkinan; pengusiran adalah kepastian.
|
||||
|
||||
Tetapi di balik prediksi yang kelam itu, ada sinar yang menembus. Waraqah berkata pula: *"Wa in yusbirni Allah bi-yawmi yakhrujuka, fa innani la-hizun laka hizban qawiyyan."* **Dan jika Allah memberiku umur panjang hingga hari engkau diusir, maka sesungguhnya aku akan menjadi pendukung yang sangat kuat bagimu.** Waraqah tidak tahu apakah ia akan hidup sampai hari itu. Ia sudah tua. Matanya rabun. Tubuhnya rapuh. Tetapi keinginannya untuk berdiri di belakang kebenaran tidak rapuh. Ia ingin menjadi seperti Harun yang menemani Musa, seperti para pengikut Isa yang tidak lari ketika para pendeta datang. Maka dari mulut seorang tua yang hampir buta, keluarlah semangat jihad yang tidak kalah berkobar dari semangat para pemuda yang membawa pedang. Sebab jihad yang sebenar bukan hanya dengan pedang, tetapi dengan pengakuan, dengan penentangan terhadap kebatilan, dengan keberanian untuk berkata, "Saya di sini, saya percaya," ketika seluruh dunia berkata, "Kami tolak."
|
||||
|
||||
Khadijah, yang menyaksikan dialog ini, air matanya jatuh. Bukan air mata takut, melainkan air mata orang yang melihat seluruh hidupnya dipersatukan oleh satu titik cahaya. Ia menikahi Muhammad karena akhlaknya. Ia membawanya kepada Waraqah karena ilmunya. Dan sekarang, keduanya bertemu dalam pengakian yang sama: bahwa suaminya adalah pembawa wahyu, dan bahwa jalan di depan akan berdarah, tetapi ada orang yang rela berdarah bersamanya. Khadijah berkata dalam hati, atau mungkin terucap dari bibirnya yang bergetar, "Ya Allah, jadikanlah aku juga hizban qawiyyan baginya. Jadikanlah aku Khadijah yang tetap di sisinya ketika semua orang pergi."
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, ambillah dari kalimat Waraqah ini beberapa butir permata yang tidak boleh hilang. Pertama: ilmu yang benar akan membimbing hati untuk mengenal kebenaran, meski mata telah rabun. Waraqah hampir buta, tetapi hatinya melihat dengan jelas. Jadilah orang yang buta mata tetapi celik hati, jangan sebaliknya. Kedua: pengakuan kebenaran butuh keberanian untuk menghadapi konsekuensi. Waraqah tidak hanya berkata, "Aku percaya." Ia berkata, "Aku akan berdiri di belakangmu meski kaumku mengusirmu." Ketiga: jalan para nabi adalah jalan yang sama: diusir, difitnah, disakiti. Maka janganlah engkau heran jika engkau menemui batu di jalan kebenaran. Yang mengherankan adalah jalan kebatilan yang dipenuhi bunga tanpa duri. Keempat: jika engkau tidak bisa menjadi pejuang dengan pedang, jadilah pejuang dengan lidah yang benar. Waraqah tidak punya pedang, tetapi ia punya kalimat yang menjadi tameng pertama bagi kenabian.
|
||||
|
||||
Allah Ta'ala berfirman: *"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik."* (Surah Al-'Ankabut: 69). Waraqah telah berjihad selama puluhan tahun: jihad menuntut ilmu, jihad membaca kitab dalam bahasa asing, jihad menahan ejekan orang-orang Quraysh yang menyebutnya aneh. Maka pada malam itu, Allah menunjukkan jalan-Nya kepadanya dengan cara yang paling indah: memperlihatkan wajah nabi yang ia nanti-nantikan, langsung di depan matanya yang rabun.
|
||||
|
||||
Maka berakhirlah pertemuan itu. Muhammad dan Khadijah berdiri untuk pulang. Waraqah duduk sendirian di atas tikarnya, atau mungkin Hala istrinya sudah bangun dan duduk di belakangnya menyaksikan seluruh peristiwa tanpa bersuara. Di dalam dada Waraqah, ada kelegaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia telah menanti. Ia telah membaca. Ia telah bersabar. Dan sekarang, ketika cahaya telah datang, ia merasa bahwa tugasnya hampir selesai. Ia berkata dalam hati, "Ya Allah, terima kasih karena Engkau memperlihatkan kepadaku hari ini sebelum Engkau membutakan mataku selamanya. Terima kasih karena Engkau membiarkanku hidup cukup lama untuk mengenal Namus yang baru turun. Sekarang, biarlah aku pergi dengan tenang."
|
||||
|
||||
Tetapi biarlah aku, wahai saudaraku, menambahkan satu nasihat lagi sebelum kita meninggalkan rumah sederhana ini. Banyak di antara kita yang membaca sejarah Nabi dengan mata yang hanya melihat Nabi. Kita melihat Muhammad, kita melihat Khadijah, dan kita berhenti. Tetapi sejarah itu lebih luas. Ada Waraqah di sudutnya. Ada tikar usang yang tidak kita lihat. Ada pelita redup yang tidak menerangi siapa pun kecuali dirinya sendiri. Itulah sebenarnya gambaran umat ini. Tidak semua orang menjadi Nabi. Tidak semua orang menjadi Khadijah yang terkenal. Tetapi ada Waraqah-Waraqah di sudut-sudut: mereka yang membaca, mereka yang menanti, mereka yang ketika cahaya datang berkata, "Aku mengenalnya, sebab aku telah lama belajar." Merekalah yang menjadi fondasi. Merekalah yang menyembunyikan batu-batu pertama di bawah tanah, sebelum bangunan megah didirikan di atasnya. Janganlah kau meremehkan peran pembaca kitab di sudut gelap. Sebab tanpa mereka, cahaya kadang-kadang turun tetapi tidak ada yang bisa mengenalnya.
|
||||
|
||||
Waraqah telah berkata kalimatnya. Namus telah disebutkan. Pengakian telah terjadi. Sekarang, wahai saudaraku, tinggal menunggu satu hal lagi: pengakian itu akan diuji oleh waktu, dan Waraqah akan diuji oleh usia. Maka marilah kita bersiap untuk menyaksikan bagaimana seorang tua yang telah menemukan kebenaran, menghadapi ajal yang datang lebih cepat daripada pengusiran yang ia prediksikan. Marilah kita ke bab berikutnya: air mata di ujung usia.
|
||||
|
||||
Wallahu a'lam.
|
||||
@@ -0,0 +1,29 @@
|
||||
**BAB 10: Air Mata di Ujung Usia — Wafatnya Waraqah**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku.
|
||||
|
||||
Setelah cahaya menyinari hati, tubuh kadang-kadang justru semakin lekas pulang kepada tanah. Seperti lilin yang memancarkan sinar paling terang tepat sebelum lilin itu sendiri mencapai ujung titiknya. Demikianlah yang terjadi kepada Waraqah bin Naufal. Malam pertemuan dengan Muhammad di rumahnya bukanlah awal dari musim semi yang panjang. Ia adalah kemuncak musim gugur, di mana daun terakhir justru berwarna paling merah sebelum gugur ke bumi. Waraqah telah menanti seluruh hidupnya. Dan ketika penantian itu terjawab, hatinya yang lapar telah kenyang. Maka tubuhnya, yang sejak dahulu hanya ditopang oleh tekad, merasa bahwa tugasnya telah selesai.
|
||||
|
||||
Bayangkanlah, wahai saudaraku, fajar setelah malam yang mengharukan itu. Cahaya matahari masuk dari celah-celah dinding batu rumah Waraqah, menerangi wajah tua yang sejak semalam tidak bisa tidur. Ia duduk di tikarnya, sementara Hala, istrinya, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu sesuatu yang besar telah terjadi. Waraqah tersenyum, senyum yang tidak pernah ia lihat sejak mereka menikah puluhan tahun silam. “Aku telah bertemu dengan yang kutunggu, Hala,” katanya dengan suara serak. “Khadijah membawakannya semalam. Aku telah mengenalnya. Dan sekarang, aku tidak punya lagi urusan di dunia ini.” Hala ingin menangis, tetapi menahan diri. Ia tahu suaminya bukan orang yang menyukai tangisan palsu. “Jangan bersedih,” lanjut Waraqah. “Orang yang mati setelah menemukan kebenaran, matinya bukan kegagalan. Itu adalah kemenangan.”
|
||||
|
||||
Beberapa hari kemudian, wahai saudaraku, tubuh Waraqah yang memang telah uzur semakin merosot. Yang menurut riwayat-riwayat para penulis *sirah*, ia wafat tidak lama setelah pertemuan itu — ada yang mengatakan dalam hitungan hari. Penyakitnya bukan wabah yang mewabah, bukan luka yang berdarah, melainkan penghabisan usia. Seperti garam yang telah lama melarut di air, ia larut kembali kepada asalnya. Tetapi sebelum ia pergi, ada satu hal yang ingin ia lihat. Ia ingin mendengar lagi. Ia ingin merasakan apakah wahyu itu akan turun lagi, atau apakah ia hanya diberi hak untuk menyaksikan pembukaan tirai, bukan pertunjukan seluruh drama. Dan di sinilah letaknya rahasia yang dikisahkan oleh para penulis sejarah dan *sirah*: ada yang menghubungkan *fathrah* — jeda di antara turunnya wahyu — dengan wafatnya Waraqah. Setelah lelaki tua itu meninggal, langit sejenak sunyi. Gua Hira tidak lagi didatangi malaikat. Nabi Muhammad *shallallahu ‘alaihi wa sallam* merasakan kekosongan yang dahsyat, seakan-akan ia ditinggal sendirian di tengah padang yang tiba-tiba gelap gulita. Ia merasa sedih, bersedih hati, sehingga ia sempat mengira Allah telah meninggalkannya. Hanya setelah itu, dengan hikmah yang tidak terduga, turunlah ayat yang menenangkan: *“Demi waktu matahari bersinar terang dan bulan apabila mengiringi, dan siang apabila menampakkan diri, dan malam apabila menutupi, dan langit serta apa yang dibangunnya, dan bumi serta apa yang dihamparkannya, dan jiwa serta apa yang menyempurnakannya…”* (Surah Asy-Syams: 1-7). Wahai saudaraku, jika benar riwayat itu, maka Waraqah bukan hanya saksi yang mengakui, tetapi juga penahan langit sebelum langit kembali bicara. Ia adalah tiang penyangga yang Allah cabut sebentar, supaya Nabi merasakan beratnya tanggung sendirian, sebelum Allah kembali meneguhkan dengan firman-Nya yang berikutnya.
|
||||
|
||||
Kemudian tibalah saatnya. Waraqah terbaring di pembaringannya yang sederhana. Matanya yang rabun sudah hampir tidak melihat apa-apa. Tetapi ia tidak perlu melihat. Ia telah melihat yang cukup. Hala duduk di sampingnya, memegang tangannya yang keriput. Di luar, terdengar suara anak-anak Quraysh yang berlari-larian, tidak tahu bahwa di dalam rumah batu ini, satu mata kitab akan tertutup selamanya. Waraqah bergerak perlahan. Ia ingin menghadap Ka‘bah. Hala membantunya sedikit. Lalu ia berkata dengan suara yang semakin pelan, tetapi jelas, sebab kalimat-kalimatnya telah disusun sejak lama: “Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidak pernah menyembah Hubal. Aku tidak pernah sujud kepada ‘Uzza. Aku meninggalkan orang-orangku karena aku mencari-Mu. Dan Engkau memperlihatkan kepadaku — sebelum mataku buta — wajah pembawa kebenaran. Terimalah aku dalam keadaan hanif. Jadikanlah aku pengikutnya, meski aku tidak sempat melihat hari kemenangannya.” Hala menangis. Air matanya jatuh di atas tangan suaminya. Waraqah merasakan kehangatan itu, lalu tersenyum. “Jangan tangisi aku, Hala. Khadijah akan menemani dia. Dan aku akan menemani para nabi yang kubaca di dalam kitab-kitabku. Bukankah itu pulang yang paling mulia?”
|
||||
|
||||
Lalu ia pergi. Perlahan, seperti embun yang meresap ke dalam tanah, tanpa suara, tanpa gemuruh. Seorang Quraysh dari Banu Asad, yang pernah dianggap aneh oleh kaumnya, yang pernah dipanggil Nasrani oleh orang-orang yang tidak mengerti, meninggalkan Mekah bukan dengan kafilah unta, melainkan dengan jiwa yang terbang ke rahmat Tuhan. Ia meninggal sebelum Nabi Muhammad *shallallahu ‘alaihi wa sallam* memulai seruan umumnya. Ia meninggal sebelum azan pertama dikumandangkan. Ia meninggal sebelum satu pun orang Quraysh berkata “*La ilaha illallah*” di hadapan umum. Tetapi ia meninggal dalam keadaan yang paling mulia: seorang *mu’min* yang telah mengenal rasul sebelum rasul itu dikenal oleh dunia. Dan inilah yang membuat kematiannya bukan tragedi, melainkan *syahadah* dalam bentuk yang paling lembut.
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, ketika berita wafatnya sampai ke telinga Muhammad dan Khadijah, bagaimanakah hati mereka? Khadijah menangis, tentu saja, bukan hanya karena kehilangan ipar, tetapi karena kehilangan tempat bertanya. Waraqah adalah orang yang membenarkan pengalamannya di malah pertama. Waraqah adalah kompas yang menunjukkan bahwa jalan suaminya adalah jalan Musa dan Isa. Sekarang kompas itu hilang. Tetapi Nabi Muhammad, yang masih dalam getaran awal wahyu, menanggapi berita itu dengan cara yang menunjukkan betapa besar kasihnya kepada lelaki tua itu. Sebagaimana diriwayatkan dalam beberapa riwayat yang sampai kepada kita, Nabi *shallallahu ‘alaihi wa sallam* bersaksi tentang keselamatan Waraqah. Bahkan ada riwayat yang menyebutkan bah ia dijanjikan surga. Nabi tidak mengatakan, “Dia orang yang baik, semoga Allah mengampuninya.” Tidak. Nabi bersaksi dengan tegas, seolah-olah langit telah memberitahunya bahwa jiwa yang pertama kali berkata “*Namus*” itu telah diterima di sisi-Nya. Dan bukankah itu cukup sebagai penghormatan akhir? Tidak ada upacara penguburan yang megah, tidak ada tanda batu yang berhiaskan emas, tetapi ada saksi dari lidah Nabi yang lebih mulia dari segala makam di muka bumi.
|
||||
|
||||
Allah Ta‘ala berfirman: *“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’”* (Surah Fussilat: 30). Wahai saudaraku, aku membayangkan malaikat turun menyambut Waraqah dengan kalimat itu. “Jangan takut, wahai hamba yang telah lama membaca Taurat di malam sepi. Jangan sedih, wahai lelaki yang dianggap aneh oleh kaumnya. Bergembiralah, sebab engkau adalah orang yang mengenal Namus sebelum Namus dikenal.” Waraqah yang rabun di dunia, tiba-tiba melihat dengan jelas. Waraqah yang sendirian di tikarnya, tiba-tiba dikelilingi oleh pengikut-pengikut nabi-nabi yang pernah ia baca di lembaran kuno. Musa ada di sana, dengan tongkatnya yang pernah berubah menjadi ular. Isa ada di sana, dengan suaranya yang pernah menghidupkan orang mati. Dan mereka semua berkata, “Selamat datang, wahai saksi pertama dari umat terakhir.”
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, ambillah dari kematian Waraqah ini beberapa hikmah yang tidak boleh kau lewatkan. Pertama: umur bukanlah ukuran, tetapi isi adalah ukuran. Waraqah tidak hidup seribu tahun. Ia hidup cukup lama untuk mengenal kebenaran, dan ia mati sebelum sempat melihat kebenaran itu menang. Banyak orang hidup seratus tahun tanpa pernah mengenal apa pun. Waraqah hidup dalam dekade terakhirnya sebagai orang yang paling kaya di Mekah — bukan karena harta, melainkan karena pengetahuan. Kedua: meninggal dalam keadaan beriman adalah anugerah yang tidak bisa dibeli dengan emas seberat gunung Uhud. Waraqah tidak sempat melaksanakan shalat lima waktu seperti kita. Ia tidak sempat berpuasa Ramadan dalam islam yang lengkap. Tetapi ia mati dalam keadaan *hanif*, dalam keadaan mengakui, dalam keadaan menanti. Dan Allah, Yang Maha Adil, tidak pernah mengzalimi hamba-Nya yang jujur. Ketiga: orang yang pertama kali percaya kadang-kadang bukan orang yang paling dekat, melainkan orang yang paling jauh dalam pandangan dunia. Waraqah bukan sanak saudara Bani Hashim. Ia bukan paman Nabi. Ia hanya ipar dari jauh, seorang tua yang dianggap aneh. Tetapi hati itulah yang paling siap. Maka janganlah engkau meremehkan orang-orang aneh di sekitarmu. Siapa tahu, di antara mereka ada Waraqah-Waraqah yang sedang menanti cahaya.
|
||||
|
||||
Keempat: kematian orang saleh bukanlah akhir dukungan. Waraqah mati, tetapi namanya hidup. Setiap kali kita membaca riwayat Aisyah dalam *Shahih al-Bukhari*, nama Waraqah muncul. Setiap kali kita mendengar kalimat *“Hadha an-Namus alladzi anzallahu ‘ala Musa,”* jiwa Waraqah berbicara kembali. Maka siapa yang mati? Tubuhnya saja. Namanya adalah doa yang terus diucapkan oleh umat Islam hingga hari kiamat. Itulah keabadian yang sebenar.
|
||||
|
||||
Dan kelima: sebelum Nabi berjalan sendirian di jalan yang penuh duri, Allah telah memberinya Khadijah untuk menenangkan di rumah, dan Waraqah untuk membenarkan di rumah ipar. Dua rumah, dua penjaga hati. Ketika Waraqah mati, Nabi kehilangan satu penjaga. Tetapi penjaga itu telah sempat mengunci pintu kebenaran di dalam dada Nabi, sehingga tidak seorang pun bisa membukanya lagi dengan keraguan. Waraqah telah berkata, “Ini dari Allah.” Itu cukup untuk menguatkan langkah selama tiga belas tahun yang akan datang, meski langkah itu kemudian berdarah.
|
||||
|
||||
Rumah Waraqah kini sunyi. Pelitanya padam. Taurat dan Injilnya mungkin disimpan Hala, atau mungkin dibawa oleh Khadijah, atau mungkin terbengkalai sampai usang oleh waktu. Tetapi isi kitab itu telah pindah ke dalam dada seorang Nabi. Dan dari dada Nabi, ia akan turun kembali dalam bentuk yang paling sempurna: Al-Qur‘an. Wahai saudaraku, itulah rantai emas yang tidak putus. Ibrahim berdoa, Musa menulis, Isa membawa kabar gembira, Waraqah membaca, Muhammad menerima, dan kita — kita adalah orang-orang yang mendengar.
|
||||
|
||||
Maka jika suatu hari nanti engkau lewat di dekat kuburan orang-orang yang tidak dikenal dunia, dan ada satu batu nisan yang lapuk di sudutnya, janganlah engkau berpikir bahwa di bawahnya hanya tidur tulang tak bernama. Siapa tahu, di sana tertidur seorang Waraqah yang pernah menjadi tiang penyangga langit sebelum langit kembali bicara. Doakanlah mereka. Sebab mereka yang mati dalam keadaan menanti kebenaran, adalah saudara-saudara kita yang paling mulia.
|
||||
|
||||
Wallahu a‘lam.
|
||||
@@ -0,0 +1,31 @@
|
||||
**BAB 11: Perdebatan Ulama — Apakah Waraqah Mukmin yang Pertama?**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku.
|
||||
|
||||
Cobalah engkau bayangkan sebuah majelis pada malah yang sunyi di abad-abad yang lalu. Lilin minyak zaitun berdiri di atas dudukan tembaga, menghiasi dinding-dinding batu sebuah rumah di Baghdad, atau di Kufah, atau mungkin di pelosok Andalus. Beberapa lelaki berjubah putih duduk bersila, di depan mereka buku-buku terbuka: *Shahih al-Bukhari*, *Shahih Muslim*, *Kitab al-Maghazi* karya Ibn Ishaq, *At-Tabaqat* karya Ibn Sa‘d. Debu waktu telah merasuk ke helai-helai kertas itu, tetapi mata para pembacanya masih terbelalak oleh satu pertanyaan yang tampaknya kecil, namun bisa membelah dada manusia menjadi dua jurang. Pertanyaan itu berbunyi: *Siapakah mukmin yang pertama di muka bumi ini?* Dan kalau pertanyaan itu ditarik lebih jauh ke dalam, maka akan muncul nama yang sering terlupakan, atau justru terlalu sering diperdebatkan: Waraqah bin Naufal.
|
||||
|
||||
Sebagian di antara para ulama itu mengangkat suaranya, tidak tinggi, sebab suara orang berilmu tidak perlu dipaksa untuk menonjol. Mereka berkata, “Tidak usah kita berpanjang lebar. Yang pertama beriman ialah Khadijah binti Khuwaylid, *radhiyallahu ‘anha*. Dialah yang menenangkan Nabi *shallallahu ‘alaihi wa sallam* ketika turun dari Gua Hira. Dialah yang berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak akan mempermalukanmu.’ Dan dialah yang membawa suaminya kepada Waraqah. Jika Khadijah belum yakin, apakah ia akan membawanya? Tentu tidak. Maka yakinlah Khadijah lebih dahulu daripada siapa pun.” Wahai saudaraku, argumen ini sangat kuat. Sebab dalam *Shahih al-Bukhari*, Ummul Mukminin Aisyah *radhiyallahu ‘anha* meriwayatkan bahwa Nabi bersabda tentang Khadijah dengan kalimat yang masih membuat air mata kita jatuh: *“Dia mempercayaiku ketika orang lain mendustakanku…”* Jadi, tutup diskusi? Belum tentu. Sebab dari sudut lain majelis, ada yang mengangkat jari, seorang yang lebih tua, yang matanya telah banyak membaca bukan hanya buku hadis tetapi juga jejak sejarah. Ia berkata, “Tetapi dengarkanlah. Sebelum Khadijah mengucapkan kepercayaan dengan lidahnya, bukankah Waraqah telah mengenal *Namus* yang diturunkan kepada Musa? Bukankah ia yang pertama kali mengatakan, ‘Inilah wahyu?’ Bukankah ia yang pertama kali membenarkan dengan dalil kitab, bukan hanya dengan kasih isteri?”
|
||||
|
||||
Maka mulailah perdebatan yang abadi, sebagaimana angin yang bertiup dari satu generasi ke generasi lain. Ada yang berkata, Waraqah adalah mukmin pertama sebelum pintu dakwah resmi dibuka. Ada yang berkata, ia hanya seorang *hanif* yang mati di ambang pintu, belum sempat memasuki rumah Islam yang lengkap dengan syariat. Ada yang menengah, berkata, “Ia mukmin, ya, tetapi ‘mukmin yang pertama’ adalah gelar yang dipersiapkan untuk Abu Bakar, atau untuk Khadijah, atau untuk Ali, sebab Waraqah wafat sebelum azan berkumandang, sebelum shalat lima waktu diwajibkan, sebelum puasa Ramadan disyariatkan. Bagaimana mungkin ia mukmin sempurna jika ia tidak sempat melaksanakan apa yang kita laksanakan?”
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, dengarkanlah suara hati di tengah gaduh suara lidah. Allah Ta‘ala berfirman: *“Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu…”* (Surah Al-Hujurat: 13). Ayat ini adalah tali penyejuk yang diturunkan langit ke tangan kita yang terlalu gemar mengkotak-kotakkan kehormatan. Yang paling mulia bukan yang paling pertama berdiri di barisan, melainkan yang paling dalam imannya di hadapan Tuhan. Tetapi karena manusia diciptakan dengan rasa ingin tahu, maka para ulama tetap mencari jawaban. Dan kita, sebagai pembaca sejarah, tidak boleh memandang perdebatan mereka dengan mata hina. Sebab perdebatan yang dilakukan dengan ilmu adalah perjalanan mencari kebenaran, asalkan tidak disertai oleh hati yang keras dan saling mengkafirkan.
|
||||
|
||||
Mari kita lihat lebih dekat. Menurut riwayat yang paling mashhur dari Ummul Mukminin Aisyah *radhiyallahu ‘anha* dalam *Shahih al-Bukhari*, Nabi Muhammad *shallallahu ‘alaihi wa sallam* pulang dari Gua Hira dengan tubuh gemetar, diselimuti, lalu Khadijah menenangkannya. Khadijah adalah orang pertama yang melihat wajah nabi setelah wahyu, orang pertama yang menyentuh tangan yang baru saja digenggam oleh Jibril, orang pertama yang berkata dengan keyakinan, “Ini bukan setan, ini adalah rahmat.” Setelah itu, barulah Khadijah membawanya kepada Waraqah. Maka secara kronologis, iman Khadijah mekar di dalam dada sebelum Waraqah membuka mulutnya di rumah sederhana itu. Dalam hal ini, wahai saudaraku, siapa yang ingin mempertahankan Khadijah sebagai mukminah yang pertama, punya fondasi yang kokoh. Nabi sendiri yang bersaksi atas keutamaannya. Siapa kita untuk membantah?
|
||||
|
||||
Tetapi, dari kamar sebelah majelis itu, ada suara lain yang lembut namun menusuk. “Tetapi, wahai para guru, bedakanlah antara iman yang lahir dari kasih sayang isteri, dengan iman yang lahir dari pengenalan kitab. Khadijah beriman karena ia mengenal akhlak Muhammad selama lima belas tahun. Waraqah beriman karena ia mengenal tanda-tanda kenabian selama puluhan tahun. Khadijah beriman pada *siapa* yang membawa berita. Waraqah beriman pada *apa* berita itu, sebelum pembawa berita sempat menjelaskan. Bukankah itu pengakuan yang lebih mendalam? Bukankah itu saksi mata dari kitab yang turun sebelum Al-Qur‘an?” Maka majelis itu kembali sunyi. Ada yang mengangguk. Ada yang mengeleng. Yang jelas, Waraqah bukan orang yang berkata, “Aku percaya karena kau iparku.” Tidak. Ia berkata, “Aku percaya karena ini adalah *Namus* yang sama dengan Musa.” Ia membedakan antara cinta keluarga dengan cinta kebenaran. Dan dalam sejarah umat ini, pengakuan semacam itu jarang terjadi.
|
||||
|
||||
Kemudian naiklah suara ketiga, dari seorang yang membawa kitab catatan. “Perhatikanlah,” katanya, “bahwa Waraqah wafat sebelum Nabi *shallallahu ‘alaihi wa sallam* keluar untuk berdakwah secara terang-terangan. Ia wafat dalam masa *fathrah*, jeda antara wahyu pertama dan wahyu yang akan datang. Dalam riwayat-riwayat para penulis *sirah*, ada yang menyebut kematiannya hanya beberapa hari setelah pertemuan itu. Ada pula yang mengaitkan sunyi-nya langit sementara waktu dengan wafatnya Waraqah. Jika ia wafat sebelum diperintahkan shalat, sebelum diharamkan khamr, sebelum disyariatkan zakat, maka bagaimana hukumnya? Apakah ia termasuk *ashabul-fathrah*—orang-orang yang mati di antara dua rasul, atau di antara dua kitab, yang tidak diseru oleh syariat yang lengkap?”
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, inilah persoalan yang lebih dalam dari sekadar siapa yang pertama berdiri di barisan. Ini adalah persoalan teologis tentang rahmat Allah. Bagaimana dengan orang yang mengenal kebenaran sebelum kebenaran itu datang dalam bentuk yang sempurna? Bagaimana dengan orang yang berjalan di tengah kabut, menunggu fajar, lalu mati ketika cahaya baru saja menyingsing di ufuk, belum sempat membasahi seluruh wajahnya? Para ulama, dengan kelembutan hati mereka yang dipenuhi takwa, berkata dalam satu suara yang lantang: “Waraqah adalah mukmin. Ia meninggal dalam keadaan beriman.” Tidak ada perbedaan di sini. Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Ibn Ishaq, Ibn Sa‘d, at-Tabari—para penulis sejarah dan hadis yang menjadi rujukan umat ini—semuanya sepakat bahwa Waraqah meninggal dalam Islam, dalam keadaan yang diridhai Allah. Bahkan Nabi *shallallahu ‘alaihi wa sallam*, sebagaimana diabadikan dalam beberapa riwayat, telah bersaksi untuknya. Ada yang meriwayatkan bahwa ia dijanjikan surga. Ada yang menyebutkan pahala dua kali lipat, sebab ia menanti tanpa pernah melihat madinah, tanpa pernah mendengar azan, tanpa pernah melihat Ka‘bah dipenuhi orang-orang yang bersujud dengan tertib. Hatinya saja sudah bersujud.
|
||||
|
||||
Allah Ta‘ala berfirman: *“Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan orang-orang mukmin juga. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka berkata, ‘Kami dengar dan kami taat. (Ya Tuhan kami) ampunilah kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.’”* (Surah Al-Baqarah: 285). Wahai saudaraku, ayat ini bukan hanya untuk kita yang shalat lima waktu dan berpuasa Ramadan. Ayat ini juga untuk Waraqah, yang hatinya telah mengucapkan, “Kami tidak membeda-bedakan antara rasul-rasul-Mu,” sebelum Ia sempat melihat wajah Ali yang berkilau, sebelum Ia sempat melihat Abu Bakr yang menangis di Gua Hira nanti. Waraqah telah beriman kepada Musa. Waraqah telah beriman kepada Isa. Dan ketika Muhammad datang, hatinya yang telah dilatih oleh Taurat dan Injil langsung mengenal: inilah penutup. Maka bagaimana mungkin ia bukan mukmin?
|
||||
|
||||
Tetapi, wahai saudaraku, biarlah kita tidak terjebak dalam perdebatan gelar seperti anak-anak yang berebut gendang di pasar. Siapa yang pertama, siapa yang kedua, siapa yang ketiga—semua itu adalah catatan sejarah yang penting untuk dipelajari, tetapi tidak untuk dijadikan senjata saling menusuk. Jika Khadijah adalah mukminah pertama, maka itulah kehormatan yang Allah tetapkan untuknya. Jika Abu Bakar adalah mukmin pertama dari kalangan laki-laki yang hidup untuk menyaksikan dakwah umum, maka itulah kehormatan yang Allah tetapkan untuknya. Jika Ali adalah mukmin pertama dari kalangan anak-anak yang dibesarkan dalam pangkuan kenabian, maka itulah kehormatan yang Allah tetapkan untuknya. Dan jika Waraqah—Waraqah yang tua, yang rabun, yang meninggal di ambang pintu—juga tercatat di *lauhul mahfuzh* sebagai salah satu yang pertama mengenal Namus, maka biarlah itu menjadi rahmat khusus yang tidak perlu kita rebut satu sama lain.
|
||||
|
||||
Yang ingin kusampaikan kepadamu di sini, wahai saudaraku, adalah sesuatu yang lebih dalam daripada urutan nomor. Waraqah mengajarkan kita bahwa kebenaran itu bisa dikenal sebelum kebenaran itu tampak jelas. Ia mengajarkan bahwa seorang yang hidup di tengah kegelapan Jahiliah, yang dicemoohkan sebagai “Nasrani” atau “tukang tulis aneh,” bisa jadi lebih dekat kepada Allah daripada orang yang berdiri paling depan di saf Ka‘bah sambil hatinya kosong. Ia mengajarkan bahwa jalan menuju iman bukan hanya melalui telinga yang mendengar dakwah, tetapi juga melalui mata hati yang membaca, menanti, dan menyelami. Sebab itu, janganlah engkau meremehkan orang yang berbeda jalan denganmu, asalkan jalan itu menuju kebenaran. Janganlah engkau berkata, “Kamu tidak ikut shalat Jumat bersamaku, maka kamu bukan dari golonganku.” Sebab siapa tahu, di sudut gelap sana, ada seorang Waraqah yang sedang membaca kitab dengan hati yang lebih bersih daripada hati kita yang seringkali hanya mengulang bacaan tanpa merenungkan makna.
|
||||
|
||||
Maka kalau ditanya kepada hatiku, bukan kepada lidahku, apakah Waraqah mukmin yang pertama? Aku akan menjawab dengan tersenyum, sebagaimana tersenyumnya lelaki tua itu di pembaringannya: “Waraqah adalah mukmin yang pertama di antara mereka yang mengenal Muhammad sebelum Muhammad mengenal dirinya sendiri. Ia adalah mukmin yang pertama di antara para pembaca kitab yang menunggu penutup. Ia adalah mukmin yang pertama di antara orang-orang tua yang matanya rabun tetapi hatinya celik.” Dan itu sudah cukup. Tidak perlu gelar. Tidak perlu piala. Sebab di hadapan Allah, yang dicari bukan siapa yang paling cepat berdiri, melainkan siapa yang paling tegak berdiri dalam kebenaran hingga akhir hayatnya.
|
||||
|
||||
Marilah kita, wahai saudaraku, keluar dari majelis perdebatan itu. Biarlah buku-buku tetap terbuka di atas meja, biarlah para ulama tetap berdiskusi dengan santunnya, sebab diskusi ilmiah adalah tanda umat yang hidup. Tetapi kita, dengan hati yang telah diisi oleh kisah Waraqah, akan melangkah ke bab terakhir. Kita akan mengambil hikmah yang paling penting dari semua ini: bagaimana seorang tua yang mati sendirian di Mekah bisa mengajarkan umat yang berjumlah miliaran orang, hingga hari kiamat kelak.
|
||||
|
||||
Wallahu a‘lam.
|
||||
@@ -0,0 +1,35 @@
|
||||
**BAB 12: Pengajaran untuk Umat — Hikmah dari Kisah Waraqah**
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku.
|
||||
|
||||
Setelah kita berjalan sejauh ini, dari malah yang gelap di lembah Mekah hingga ke ruangan yang pelitanya meredup di rumah seorang tua yang mati sendirian, biarlah aku menarik nafas panjang bersamamu. Kita berdua tahu bahwa kisah Waraqah bin Naufal bukan kisah yang akan sering kau dengar di mimbar Jumat. Namanya tidak disebut dalam khutbah-khutbah yang bergema megah. Makamnya tidak dikunjungi rombongan bus yang membawa penumpang dari pelosok negeri. Bahkan batu nisannya, jika ada, sudah lama hancur menjadi debu yang bercampur dengan debu Mekah yang gersang. Tetapi wahai saudaraku, janganlah kita mengukur kebesaran dengan tinggi bangunan makam. Sebab kebesaran sejati itu tersimpan di dalam hati yang membaca, dan Waraqah telah meninggalkan hatinya untuk kita baca hingga hari kiamat kelak. Maka marilah, sebelum kita menutup kitab ini, aku merangkai untukmu beberapa untai mutiara dari lautan kisahnya. Ambillah yang cocok untuk kalungmu, simpanlah yang lain untuk anak-cucumu nanti. Sebab hikmah itu tidak basi oleh waktu.
|
||||
|
||||
**Pertama: Ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu harus dicari, bukan ditunggu seperti tunggu hujan di musim kemarau.**
|
||||
|
||||
Waraqah tidak duduk di serambi rumahnya sambil mengipasi tubuh yang sejuk, menunggu malaikat turun memberitahu. Tidak. Ia berjalan ke negeri Syam dengan telapak kaki yang memerah oleh pasir. Ia mendekati orang-orang *Ahlul Kitab* yang tidak berbahasa Arabnya, menundukkan kepala sebagai murid, membiarkan jarinya berlumuran tinta huruf Ibrani yang aneh. Allah Ta‘ala berfirman: *“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”* (Surah Al-Mujadilah: 11). Wahai saudaraku, derajat itu tidak turun dari langit seperti salju. Ia naik tangga, anak tangga demi anak tangga, dengan keringat di dahi. Jika kau ingin mengenal kebenaran, janganlah engkau hanya mengandalkan emosi yang berkobar sebentar lalu padam. Jadilah seperti Waraqah: belajar membaca. Belajar membedakan. Belajar menanti dengan ilmu, bukan dengan angan-angan kosong. Di zaman kita ini, di mana suara paling keras bukan suara hati tetapi suara *notifikasi* ponsel, di mana orang lebih mudah menyebarkan gambar daripada membaca setengah halaman kitab, kita sangat membutuhkan Waraqah-Waraqah baru: orang-orang yang mau membaca Taurat dan Injil untuk memahami Al-Qur‘an, bukan untuk menyerang atau untuk menyesat, melainkan untuk melihat tali penghubung antara langit yang lama dengan langit yang baru. Ilmu yang luas adalah benteng. Tanpa benteng, hati kita mudah dirampas oleh setiap angin dusta yang berembus.
|
||||
|
||||
**Kedua: Kebenaran itu satu sungai, bukan telaga-telaga yang terpisah.**
|
||||
|
||||
Waraqah membaca Taurat dan Injil, tetapi hatinya tidak pernah terpecah. Ia tidak berkata, “Aku Yahudi,” atau “Aku Nasrani,” dengan fanatisme yang membutakan. Ia berkata, “Aku hanif.” Ia melihat bahwa Musa, Isa, dan Muhammad—meski pada waktu itu Muhammad masih belum diakui oleh umum—adalah anak sungai yang mengalir dari satu mata air: Allah. Allah Ta‘ala berfirman: *“Sesungguhnya orang-orang yang Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.”* (Surah Al-An‘am: 20). Wahai saudaraku, ayat ini bukan hanya untuk kaum Yahudi dan Nasrani pada zaman dahulu. Ayat ini juga untuk kita, umat Islam, supaya kita tidak sombuk menganggap bahwa hanya kitab kita yang benar dan kitab-kitab lain hanya dusta. Tidak. Waraqah mengajarkan kita bahwa sebelum Al-Qur‘an turun, Taurat dan Injil adalah cahaya. Dan orang yang membaca cahaya itu dengan hati yang bersih, akan langsung mengenal cahaya yang paling sempurna ketika cahaya itu datang. Maka janganlah kita, wahai saudaraku, menjadi umat yang besar badannya tetapi sempit hatinya. Jadilah umat yang lapang dada, yang mengenal kebenaran dari mana pun asalnya, sebagaimana Waraqah mengenal *Namus* bukan dari gurunya di Mekah, melainkan dari kitab Musa yang telah ia genggam selama puluhan tahun.
|
||||
|
||||
**Ketiga: Kebenaran sering datang dalam wujud yang tidak kita duga, dan ia butuh orang-orang yang hatinya telah dilatih untuk menyambutnya.**
|
||||
|
||||
Ketika Muhammad keluar dari Gua Hira dengan tubuh gemetar, tidak ada yang mengenalnya. Orang-orang Quraysh masih tidur. Para pembesar masih bermimpi dengan unta dan perdagangan. Tetapi Waraqah, di sudut gelap rumahnya, langsung bangkit. Mengapa? Sebab hatinya telah lama disiapkan. Seperti ladang yang telah dicangkul dan disirami setiap malah, sehingga ketika benih jatuh, ia langsung tumbuh. Allah Ta‘ala berfirman: *“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”* (Surah Al-‘Ankabut: 69). Wahai saudaraku, mungkin saat ini kau sedang berjihad kecil di sudut hidupmu: menahan diri dari dusta, menahan diri dari riba, menahan diri dari pandangan haram, menahan lidah dari mengumpat. Janganlah kau anggap jihadmu sia-sia. Sebab jihad itu adalah cangkul yang sedang menyiapkan ladang hatimu. Suatu hari nanti, ketika cahaya datang dalam wujud keputusan yang sulit, dalam wujud ujian yang berat, dalam wujud panggilan yang menuntut engkau meninggalkan kesenangan, maka hatimu yang telah dilatih itu akan langsung mengenalnya. Ia akan berkata, sebagaimana Waraqah berkata, “Inilah yang kutunggu-tunggu.”
|
||||
|
||||
**Keempat: Orang-orang besar itu tidak berdiri sendiri; mereka bertumpu pada pundak orang-orang yang tampak kecil.**
|
||||
|
||||
Nabi Muhammad *shallallahu ‘alaihi wa sallam* adalah gunung. Tetapi gunung itu bertumpu pada tanah. Khadijah adalah tanah yang menopang di rumah. Waraqah adalah tanah yang menopang dengan ilmu. Tanah tidak dilihat orang, tidak difoto, tidak dilombakan. Tetapi tanpa tanah, gunung runtuh. Wahai saudaraku, janganlah kau meremehkan peranmu jika engkau bukan orang yang paling depan di barisan. Mungkin kau hanya ibu yang mengajari anakmu Al-Qur‘an di dapur sambil menunggu nasi matang. Mungkin kau hanya ayah yang bekerja sebagai buruh cuci, tetapi setiap riyalnya halal untuk menyekolahkan anak. Mungkin kau hanya penjaga toko kecil di sudut jalan, tetapi senyummu adalah satu-satunya senyum Islam yang dilihat oleh pembeli yang datang dalam keadaan putus asa. Engkau adalah Waraqah-Waraqah zaman ini. Engkau adalah penopang yang tidak tampak. Dan di hadapan Allah, penopang itu lebih mulia daripada pilar marmer yang hanya dipajang untuk dilihat orang. Sabda Nabi *shallallahu ‘alaihi wa sallam* yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: *“Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”* Maka Waraqah, dengan penunjukannya, mendapat pahala kenabian yang tidak pernah turun ke dadanya sendiri, tetapi turun ke hati Muhammad yang ia kuatkan.
|
||||
|
||||
**Kelima: Keanehan di mata manusia adalah keindahan di mata Allah.**
|
||||
|
||||
Waraqah dipanggil aneh. Waraqah dianggap sudah tua gila. Waraqah dicurigai telah menjadi Nasrani atau Yahudi. Tetapi apa pedulinya dia? Sebab ia sedang berdialog dengan langit, sementara orang-orang yang mengejeknya hanya berdialog dengan debu. Allah Ta‘ala berfirman: *“Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang di tengah-tengah, agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu.”* (Surah Al-Baqarah: 143). Wahai saudaraku, umat yang di tengah-tengah itu bukan umat yang menuruti tren. Bukan umat yang berjubah hitam hari ini karena hitam sedang populer, lalu berjubah hijau besok karena hijau sedang naik daun. Tidak. Umat tengah-tengah adalah umat yang berdiri tegak sementara dunia miring ke kiri dan ke kanan. Ia terlihat aneh. Ia terliang tidak pas. Tetapi itulah posisi paling mulia. Jika engkau dipanggil kuno karena engkau tetap shalat tepat waktu di tengah rekan-rekanmu yang sibuk meeting. Jika engkau dipanggil aneh karena engkau menolak minuman keras di pesta. Jika engkau dipanggil radikal karena engkau berkata, “Aku hanya mau cara Allah.” Maka tersenyumlah. Sebab tersenyum Waraqah itulah yang menguasaimu dari seberang waktu.
|
||||
|
||||
**Keenam: Mati sebelum melihat kemenangan bukan kegagalan; itu adalah keberkahan tersembunyi.**
|
||||
|
||||
Waraqah meninggal sebelum Nabi diusir. Ia meninggal sebelum Madinah. Ia meninggal sebelum satu pun ayat Al-Qur‘an berkumandang di pasar Mekah. Tetapi Allah memberinya kematian dalam keadaan mengenal kebenaran. Dan ada yang lebih baik daripada itu? Allah Ta‘ala berfirman: *“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan beriman.”* (Surah Ali ‘Imran: 102). Wahai saudaraku, tidak semua orang diberi umur panjang untuk melihat anak-anaknya jadi hafizh, untuk melihat masjidnya megah, untuk melihat agamanya menang. Ada orang-orang yang mati di tengah jalan, di tengah peperangan, di tengah penjara, di tengah kesendirian, dan dunia menganggap mereka gagal. Tetapi di hadapan Allah, mereka adalah pejuang yang diberhentikan di gerbang surga sebelum kaki mereka lelah berjalan. Waraqah tidak pernah melihat Badr. Tidak pernah melihat Uhud. Tidak pernah melihat Mekah dibersihkan dari berhala. Tetapi ia melihat wajah Nabi yang baru saja turun dari langit, dan itu sudah cukup sebagai *mukjizat* terakhir yang Allah hadiahkan kepadanya sebelum memanggilnya pulang.
|
||||
|
||||
Maka marilah kita, wahai saudaraku, yang mungkin merasa hidup ini berat, yang mungkin merasa doa kita belum juga dijawab, yang mungkin merasa kita terlalu tua atau terlalu lemah untuk melihat kebaikan yang kita tanam berbuah, ambillah pelajaran dari Waraqah. Tanamlah kebaikan dengan ikhlas. Bacalah kitab dengan tulus. Berdirilah di belakang kebenaran meski engkau sendirian. Dan percayalah, bahkan jika engkau mati sebelum fajar, fajar itu akan datang karena doa dan pembacaanmu. Engkau mungkin tidak akan melihatnya, tetapi namamu akan hidup di dalamnya.
|
||||
|
||||
Wahai saudaraku, kitab ini hampir usai. Kisah Waraqah telah kita lipat seperti tikar yang selesai dipakai untuk bersembahyang. Tetapi lipatan itu bukan akhir. Ia adalah awal untukmu. Keluarlah dari halaman-halaman ini, dan jadilah Waraqah di zamannmu sendiri. Sebab umat ini tidak kekurangan orang pandai berpidato, tidak kekurangan orang kaya berderma, tetapi sangat kekurangan orang-orang yang mau membaca kitab dengan hati yang lapar, dan sanggup berkata dengan keyakinan penuh ketika kebenaran datang, “Inilah yang diturunkan Allah. Inilah *Namus*. Dan aku bersaksi.”
|
||||
|
||||
Wallahu a‘lam.
|
||||
Reference in New Issue
Block a user